Seronok Menulis

5 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENIKMATI lagu-lagu Radja di Singapura, sungguh membanggakan. Setelah puas putar-putar Singapura, bersama teman-teman melanjutkan lancongan ke Malaysia. Lagi-lagi, di bandara, di bus, taksi, pasar, dan hotel, Radja merajai belantara lagu-lagu disukai khalayak. Bangga juga sebagai ‘Indon’ mendengar dendangan penyanyinya di Tanah Seberang.

Ketika Gigi Dewa Coklat Unggu pentas di Stadion Merdeka, kebetuan kami di KL, pujian datang dari mana-mana; penyanyi dan band Indonesai sungguh seronok. Seronok? Seorang kawan terpingkal-pingkal. Harap maklum, pengertian umum kata seronok, di Indonesia, berbalik arti. Teruskan membaca… »

Waktu Menulis

4 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ISTERI, apakah dimaknai sebagai belahan jiwa, teman hidup, atau apa, bagi yang berumahtangga adalah kehidupan. Dan, suatu ketika, ketika waktunya sampai, memohon dengan rayuan standar: “Ding, hadangi satumatlah. Tanggung. Tinggal dua aline lagi”.

Yoi. Dalam kehidupan tindakan adalah pilihan. Waktu terbentang pada garis lurus yang akan berlalu, digunakan untuk apa, atau dibiarkan, terserah kita. Bisa jadi, melihat paha isteri atau belahan dadanya, libido  ‘menuntut dendam’. Wajar. Memilih menyelesaiakan tulisan tentu tidak salah. Seselesainya, foreplay, begitu pula finishing touch, bisa lebih bermakna. Teruskan membaca… »

Bumerang Harap

3 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENELISIK motif, maksud, tujuan, atau apa pun namanya sebagai pemicu menulis, mungkin perlu dijernihkan di rumah diri. Ada kalanya, kalau tidak pintar memaknai, menjadi bumerang, bak menapuk air di dulang, kena diri sendiri. Maksud hati ingin populer, misalnya, yang didapat hujatan. Kehendak mau agar terlihat gagah begitu, yang datang cemoohan. Berbalik arah.

Ada orang menulis terkarena ingin mendapatkan honor, bermimpi dapat royalti seperti Abdurrahman El Shirazy, atau terkenal bak Andrea Hirata. Apa daya, mengirim tulisan ke media cetak, tidak dimuat. Mengirim naskah ke penerbit, dikembalikan. Bahkan, sekadar menulis skripsi saja dispidolmerahi pembimbing. Teruskan membaca… »

Palu Godam Karya

2 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENIKMATI karya Khalil Gibran, The Prophet, duh nyamannya. Menuntaskan membaca novel Snow karya Orhan Pamuk, sungguh menyenangkan. Pernah baca karya Timeri N. Murari, Taj? Atau Granada karya Radwa Ashour? Wah, itu kebarat-baratan. Tidak nasionalistis. Ok.

Andrea Hirarta, Si Novelis Fenomenal, baru saja membuai dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Endensor, dan Maryamah Karpov. Atau, novel Ayat-Ayat Cinta karya Abdurrahman El Shirazy. Tidak kalah hebatnya serial Anak Manusia Pramudya Ananta Tour. Kalau dulu, serial Abdullah Harahap. Pokoknya hebat, dan … menjadi kajian di pendidikan formal. Hebat memang. Teruskan membaca… »

Bawalah Daku

1 December 2008

Bingung tergadai ke laut lepas
lembut suara bulan diintip ganas mentari
mengantar jiwa pada kuasaNya
saat nikmat hidup di pagut

Bawalah daku pada bintang
di atas bintang, di dalam bintang
tiarap berserah di pangkuanMU
Ya Rabb

***Komenku atas puisi Hai Matahari (blog Siterubozu’s)

Lingkungan Pembunuh

1 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

FAKTOR apa yang menjadi pembunuh terkejam kehendak menulis? Kalau pertanyaan tersebut diajukan ke saya, jawaban reflektifnya, lingkungan. Lingkungan? Yes. Bahwa jawaban tersebut tidak ilmiah, bisa jadi. Setidaknya, begitulah kesimpulan tentatifnya. Bagaimana uraian pembenar sederhanya?

Begini. Saya beruntung dilahirkan dalam keluarga yang gemar membaca, sekalipun tidak dalam menulis. Bapak sangat doyan membeli surat kabar, majalah, dan mengoleksi aneka buku. Kalau meminta uang, sampai-sampai diakali, untuk membeli buku Pak. Kalau sudah memakai strategi demikian, langsung diberi. Kalau baju? Menunggu lebaran dulu, he he. Teruskan membaca… »

Jakarta Malam

1 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PADA hari pertama di Jakarta, acara malam diisi dengan kongkow-kongkow di Senayan City kemudian berlanjut ke Guru Bangsa (Blog); Paman Tyo, Ndorokakung, dan Imam Brotosono. Bersama Erwin DN yang warga Jakarta, berleha-leha ngecas pikiran dan rekreasi lancar-lancar saja. Jakarta menyenangkan memang.

Pembangunan tergiat di mana-mana. Bercanda Erwin bilang: “Hayo krisis finansial dunia tidak berdampak bukan?”. Yap, kata saya. Kalau orang-orang Jakarta semakin egois, susah menatap Indonesia ke depan. Jakarta terang-menderang di waktu malam. Di Kalimantan, tiap hari lampu PLN mengokohkan jati diri, byarpret. Sentrum PLN ngadat, sudah menjadi ciri utama. Hidup PLN. Hidupkan pikiran. Jangan mati meulu.  Teruskan membaca… »

Gerimis Mengiris

30 November 2008

Gerimis menggiris negeri ini
menjelma galau hujan tak berkesudahan
meluapkan amarah, juga pada yang tak paham
pancang-pancang beton tangan tak berjari
dari rimbun hutan kami

Gerimis memetaka
otak-otak terlelap
serakah nikmat
memiris tangis
anak bangsa

***Hadiah buat Sari Unggulia.

Seperti Malaikat

30 November 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KONON begitu sampai di Bulan, Neil Amstrong dan kawan-kawan terperangah. Betapa tidak. Kalau tubuh tanpa bobot sudah dijejal sejak menjalani latihan di pusat pelatihan NASA. Yang mencengangkan, mendengar kalimah Allahu Akbar. Otak encer mereka bekerja, apa pun suara yang pernah ada direkam jagat raya. Pantas suara azan bergema di Bulan. Azan adalah kalimah paling sering dikumandangkan di Bumi.

Hal kedua yang mencengangkan, ternyata mereka bukanlah orang pertama ke Bulan. Sebab, sudah ada Rumah Makan Padang. Makanan berbentuk tablet yang telah dipersiapkan dibuang begitu saja. Gulai kikil dan rendang lebih memancing air liur. Teruskan membaca… »

Penghargaan Berantai

29 November 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

HERU Puji Winarso di blognya menghadiahi penghargaan (dan tugas) dengan memberi Lovely Bogger Award. Entah apa maksud kandidat Doktor Komunikasi Universitas Brawijaya dan Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang peraih dua magister dan dua sarjana tersebut. Tapi sudahlah, memahaminya sebagai penjalinan persahabatan agar lebih yahud.

Kalau dipikir-pikir, atas dasar apa dan atas peruntukkan apa mendapatkan award, kan bisa bingung mencernanya. Dengan mengambil jalan pintas demi persahabatan, urusan pikiran jadi mudah. Dan, semua pihak tersenang. Selamat award berantai. Teruskan membaca… »

Menyukai Menulis

29 November 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PADA satu postingan memberi tugas, Doni Verdian menulis: Pengen membaca hal yang disuka dan yang tidak dari motivator urusan tulis-menulis (dari saya, EWA). Ayo Pak! Doni menyemangati. Yang disuka dan tidak disukai? Kira-kira sama banyaknya euy. Hanya saja perlakuan tentu berbeda. Kalau yang disukai, dikembangkan. Kalau yang tidak disukai, dilupakan. Lalu apa yang disukai?

Pertama, membaca. Membaca apa saja, ada kesempatan, atau membuat kesempatan untuk menbaca; dimana dan kapan saja. Tidak peduli apa bahan bacaannya. Saking demennya, sembari ngomong ngalor ngidul membaca. Mahasiswa yang konsultasi sering sebel. Yang penting bimbingan lancar. Beres. Teruskan membaca… »

Guru Bangsa Blog

28 November 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

DUNIA memang mengagumkan, sekalipun surga lebih dahsyat. Bertemu Erwin DN, Bos JPNN, masih lazim. Tapi, bersua dan berbincang akrab sembari ngopi dengan Paman Tyo, Ndrokakung (Ketua Panitia Pesta Blogger 2008), dan Iman Bratoseno (Komunitas Bundaran HI) sampai dini hari, gimana gitu.

Para ‘Guru Bangsa’ tersebut adalah kekaguman. Saya bertemu mereka dan berbincang tentang banyak hal, terutama perihal jagat raya blog dan internet. Luar biasa. Si Paman yang rada-rada nakal di dunia maya, sangat ‘bergairah’ dan menyenangkan di darat. Ndoro yang serius di blog, lebih serius bercanda kental di realita, dan Iman yang santun di dua dunia. Kalau Erwin telah kenal ‘luar dalam’ he he. Teruskan membaca… »