Membodohi Otak
10 August 2008Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SEMANGAT menulis menggebu-gebu. Bacaan memadai. Pengalaman hebat dan cukup. Kerja otak bagus. Sehat rohani dan jasmani. Tetapi, mengidap ‘penyakit’; menulis satu-dua alinea, dan … stop. Padahal, kehendak menulis menancap di ubun-ubun. Tekad mantap. Menulis mandeg. Kacien dech lo.
Illustrasi derita panjang tersebut, setelah dianalisis, ternyata berbasis kebiasaan menanamkan kebodohan di otak. Tidak dipungkiri lagi, otak adalah lambang kepintaran, lambang kehidupan. Hanya saja, tidak paham bagaimana setiap saat memperbodoh otak, menanamkan, menancapkan kebodohan. Memantapkan kebodohan di otak. Nah, lo. Teruskan membaca… »









