Kiat Menulis 7 : TAKUT BERBEDA

16 August 2010

SATU dari sekian ‘naluri’ manusia adalah meniru. Kalau basik pikiran bagus meniru hal-hal baik. Kalau basik pikiran ‘jorok’ yang ditiru hal-hal buruk. Wajar anak pencoleng ‘menyalin’ kehebatan mencoleng bapaknya. Anak kiai cenderung mengikuti bapaknya menjadi lentera umat. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.

Terlepas benarnya, ada juga anak orang baik-baik menjadi pencandu narkoba. Mereka yang ‘bertitel’ haji masuk buih karena korupsi. Kecenderungan adalah tesis yang kadang dipatahkan realitas. Tetapi, dalam menulis saya memindai penyakit peniruan yang berlebihan menghambat perkembangan kemampuan menulis. Apa itu? Teruskan membaca… »

Kiat Menulis 6 : TAKUT DIRI

15 August 2010

KENAPA ada orang yang takut menulis? Atau, berusaha menulis, tetapi tidak menyelesaikan tulisannya? Atau, menyelesaikan tulisan, tetapi tidak mepublikasikannya? Kalau saya yang ditanya, akan dijawab: Orang itu takut pada dirinya, takut melawan dirinya. Kenapa?

Menulis menuangkan pikiran. Nah, kalau pikirannya jelek, akan ketahuan dari tulisannya. Bisa jadi, mereka yang kerjanya menjelek-jelekkan tulisan orang lain —sekalipun jelek benaran— sebenarnya dia melihat dirinya. Mana tahu dia memastikan, kalau menulis lebih jelek he he. Mendingan menimpakan kejelekan pada tulisan orang lebih dulu.

Sebaliknya, mereka yang biasa menulis, kalau melihat kekurangan pada tulisan orang lain akan berusaha memberi saran dan memotivasi agar terus menulis. Setidaknya, menaruh empati. Minimal, memasang ‘lampu’ agar jangan menulis sejelek tulisan yang dibaca. Dijamin, penulis sungguhan tidak akan mencaci tulisan orang lain, apalagi tulisan pemula. Memotivasi lebih afdol.

Karena itu, jangan pedulikan para pencerca. Biarkan mereka hidup dengan pilihannya —mencerca. Dari cercaan tersebut kembangbangkitkan motivasi diri: Biar saja tulisan pada awalnya jelek, berikutnya lebih baik, berikutnya lagi semakin baik, sampai menjadi baik. Belajar terus-menerus dari praktik menulis. Akui saja, begitulah kemampuan (awal) dalam menulis. Terima diri apa adanya. Sadari kemampuan apa adanya. Dan, jadikan modal untuk belajar.

Tidak usah takut ketahuan pikiran memang kurang beres. Kalau sitem pengetahuan yang disimpan di memori baik —masukan, proses, dan keluaran— akan terlihat dari tulisan. Tidak mungkin bila masukan pengetahuan (ilmu) benar, proses pengendapan di memori baik, keluarannya jelek. Kalau susah memproduk pikiran, perlu disigi sistem pengolahannya dan peyimpanannya.

Kalau input pengetahuan garbage, bagaimana mau mengolahnya menjadi brilian, tidak masuk akal hasilnya ekselen. Bisa pula, sumber masukan bisa jadi bagus, tetapi ketika ‘memasukkan’ salah, ya ketika diproses pantas ribet, apalagi menuangkannya. Ruwet. Dari pikiran yang ruwet tidak mungkin menjadi tulisan bermutu. GIGO: garbage in garbage out. Hindari hal sedemikian.

Karena itu, kalau mau menulis, pindai khasanah pengetahuan dari hulu sampai hilir, apa sudah benar. Kalau jawabannya ya, tuangkan, tuliskan. Tulislah apa yang ada di pikiran, apa yang dipikirkan. Kalau memang ribet dan ruwet ranah pikiran, benahi. Akui. Jangan takut. Musnahkan ketakutan pada diri dengan membenahinya. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kerusakan apa pun bisa diperbaiki asal diusahakan dan dilakukan. Ketahuilah diri, ketahuilah pikiran sendiri. Hidup adalah berpikir, pikiran itu sendiri.

Dengan kata lain, dengan latihan dan pengalaman, manakala tataran pikiran OK, menulis menjadi mudah. Menulis menuangkan pikiran. Bukan memikirkan apa yang akan ditulis. Karena itu, menulis tidak ribet, bukan keruwetan. Jangan diribet-ribetan, hindari peruwet-ruwetan. Jadikan mudah, mudahkan pikiran, mudahkan jar-jari. Tulisan sahabat sejati diri.

Bagaimana menurut Sampeuan?

Kiat Menulis 5 : TAKUT BERHASIL

14 August 2010

SATU dari sekian penyakit para penulis pemula yang saya ‘temui’ secara tidak sengaja adalah takut berhasil. Takut berhasil? Bapak ini ada-ada saja. Semua orang maunya berhasil, ini kok takut berhasil. Aza-aza sazza.

Begini. Kalau seseorang ingin berhasil tentu akan berusaha untuk mencapainya, mewujudkan, merealisasikan. Bagi yang ambisius, kalau tidak bisa jalan halal, jalan haram pun ditempuh. Istilah anak-anak muda: “Dari pada gagal mendapatkannya, lebih baik dukun bicara”. Teruskan membaca… »

Kiat Menulis 4 : TAKUT DICEMOOH

13 August 2010

ALKISAH, seorang mahasiswa sangat bangga ketika tulisannya dimuat di satu media cetak. Bukan saja honor tulisan yang bakal diperdapat, tetapi buah pikirnya dibaca sekiran ribu orang. Hatinya berbunga-bunga. Teman-teman meapresiasi, dosen memuji, orang tua di kampung bercerita kesana-kemari sambil mempertontonkan tulisan anaknya. Dunia terasa begitu ramah dan bersahabat. Ceile.

Alkisah pula, seorang mahasiswa yang merasa dirinya hebat, memproklamirkan diri sebagai penulis, membuat blog hebat menurut versinya. Pada awalnya, teman-teman berkunjung, lalu mundur satu per satu. Sekali berkunjung dan selesai. Jadilah blognya sepi pengunjung. Teruskan membaca… »

Kiat Menulis 3 : TAKUT MANDEK

12 August 2010

MASIH hangat dalam ingatan ketika MAN 2 Model Banjarmasin bermiladria dimana saya didaulat memacu semangat menulis di kalangan guru-guru pada Seminar Motivasi Kepenulisan, Sabtu 14 Februari 2009. Temanya keren: ‘Dengan Menulis Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru’.

Di hadapan seratus lebih guru yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan ditandaskan: Semua kita born to be a genius. Allah memberi kita otak bermuatan setriliun sel syaraf, neuron. Bila digunakan, setiap neuron mampu berkoneksi 20.000. Pendek kata, kapasitas otak tidak terbatas. Silakan gunakan. Teruskan membaca… »

Kiat Menulis 2 : TAKUT DIKRITIK

11 August 2010

TERKADANG bila sharing menulis saya suka tertawa ngakak. Betapa tidak. Sebut saja Bejojol nama teman kita yang satu ini. Tampang keren, penampilan OK, tapi mentalnya kerupuk. Ada saja alasan sebagai pembenaran ketakutannya. Dasar pengecut. Dasar pecundang.

Capek-capek menulis, menghabiskan waktu untuk menulis, menguras waktu saya untuk diskusi, eit … setelah tulisan menjadi tidak mau mempublikasikannya. Alasannya pun tidak beradab. Takut dibaca orang, takut dikritik. Kalau diledek kan bikin malu. Naauzubillahi min zalik. Teruskan membaca… »

Kiat Menulis 1 : TAKUT KETAHUAN

10 August 2010

WOO O … kamu ketahuan … pacaran lagi … dengan dirinya … teman baikku … Begitu penggalan syair lagu rancak yang banyak didendangkan, terutama oleh anak-anak muda, yang mendongkrak popularitas Mata Band. Inspirasi syair lagu sering ‘dicandakan’ untuk ‘mendongkrak’ semangat menulis, terutama kepada mahasiswa yang sharing menulis. Bagi para pemula. Apa hubungannya?

Mereka yang takut menulis adalah mereka yang tidak percaya diri. Tidak percaya diri karena tidak yakin akan pikiran dan hasil pikiran. Menulis adalah ‘penyataan’ pikiran. Berbeda dengan berbicara, pikiran yang ‘ternyatakan’ bisa menguap begitu saja di telan ruang. Kalau ditulis, ternyata. Terlihat secara nyata. Kalau salah ya, ketahuan. Kalau logika jongkok, ketahuan deh. Kalau kurang pengetahuan, ketahuan deh. Teruskan membaca… »

Silaturrahim Makna

2 August 2010

APABILA sesorang menulis tentu dengan tujuan tertentu. Penulislah yang pertama memahami tujuannya menulis. Hampir bisa dipastikan, sebagian besar bertujuan baik. Ada memang yang rada ‘aneh’, tetapi prosentasenya kecil. Saya mengamati tulisan seseorang di blog atau facebook yang isinya rada-rada miring. Cenderung ‘menyerang’ orang lain.

Dalam menulis secara tidak tertulis ada konvensi tidak menyerang pribadi. Dalam mengkritik, sebaiknya lebih ditujukan pada umum dalam artian sebagai korekasi bagi sesama. Dengan demikian tulisan lebih berarti, bermakna, berguna bagi khalayak. Misalnya, tentang sistem pendidikan atau guru, bukan Ersis guru SMU Anu. Teruskan membaca… »

Merangkai Kata

1 August 2010

APABILA kita mengucapkan atau menuliskan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang digunakan dalam berbahasa dinamakan kata. Kata adalah pernyataan dari pengertian atas sesuatu, namun berbeda dengan pengertian. Maksudnya?

Pengertian ada dalam pikiran dan kata ‘pengambarkan’ pengertian. Mengerti sesuatu berarti ‘menangkap’ sesuatu itu; membentuk gambaran tentang sesuatu. Gambaran sesuatu yang dipahami disebut konsep. Konsep disimpan di memori (otak). Kita tidak akan pernah mampu menyimpan mesjid Istiqlal di Jakarta, Ka’bah di Mekah atau mesjid Nabawi di Madinah, namun pengertian, konsepnya mudah saja disimpan di memori. Begitu pula triliunan konsep lainnya. Teruskan membaca… »

Menulis Liburan (Anak-Anak)

8 July 2010
LIBUR sekolah adalah saat sangat menyenangkan bagi anak-anak. Libur sekolah diartikan liburan dalam arti bukan sekadar ‘istirahat’ sekolah, tetapi lebih kepada rekreasi. Karena sudah merupakan agenda rutin kiranya masa prei sekolah kalau tidak liburan terasa janggal. Kali ini benar-benar ‘dikerjai’ anak-anak. Mereka tidak memakai tabungannya. Caranya?

Setiap angka rapor bernilai lebih dari 8 atau 9 ada ‘nilai tertentu’. Untuk liburan tahun ini, Aprivisi memecahkan rekor yang biasanya milik Antra. Dapat liburan gratis. Visi malahan dapat tambahan laptop karena nilai UN SDnya menakjubkan. Antra diolok-olok karena terlalu sibuk sebagai Ketua OSIS SMA 1 Banjarbaru hingga nilainya disalib Visi yang prestasi meroket sejak kelas VI SD. Kalau soal piala Antra paling banyak. Saya ‘bertaruh’ sama mamanya, Azta nanti akan menyalib kakaknya. Tapi, entahlah. Tugas orang tua meneyediakan fasilitas belajar, soal belajar dan prestasi urusan masing-masing anak-anak. Teruskan membaca… »