Menikmati Berbagi Buku (2.8)

28 February 2010

Pada kata pengantar buku, biasanya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, apakah karena membantu atau sekadar menghormati. Setelah jumlahnya puluhan, Si Teman belum pernah mengucapkan terima kasih balik. Bagaimana mungkin kalau dia tidak pernah membuat buku. Ucapan yang tidak seimbang.

Saya malah tersenyum ketika ada orang yang sharing menulis, tetapi karena terlalu keras, atau ketika dia mau menerbitkan buku agak dicuekin, menerbitkan bukunya, malahan berusaha menghilangan ‘bau-bau’ saya. Dia kira saya akan marah atau bereaksi. Ngak lah yaw. Saya membantu karena menganggap kewajiban, bukan minta ‘dibalas’. Teruskan membaca… »

Orang Bisa … Saya Juga (2.7)

27 February 2010

Membaca buku Rich Dad Poor Dad, karya Rober T. Kiyosaki, atau banyak buku senada yang berbasik pengalaman, naga-naganya kok tidak sulit. Perbedaanya, pengetahuan dan pengalamannya jauh lebih hebat, status sosialnya di strata atas, hidup di ‘pusat’ dunia, sementara saya di bawah dalam segala hal. Solusinya, berbuat sesuai diri.

Saya juga ingin sesukses Donald Trumph atau sekaya Goerge Soros, tapi manalah mungkin. Atau, menulis ‘secantik’ Dale Carnegi nyastra bak HAMKA, tapi tahu dirilah. ‘Orang Bisa Saya Bisa’ dimaknai bukan seperti didengungkan, tetapi … “Orang Bisa, Saya Juga Bisa Sesuai Kemampuan’. Teruskan membaca… »

Menganyam Buku Puisi (2.6)

26 February 2010

Hujan malam di Bandung menyejukkan. Anak-anak gembira melihat kerlap-kerlip lampu warna-warni. Pelintasan Paris Van Java menguak rasa jelajahi helai demi helai ubin toko buku sampai lelah menegur ketika dompet terenggut, ‘Sumatera Tengah’ bertanya dibuai jawaban sekelabat, pesta kuliner. Ya, pesta kuliner keluarga.

Apa hendak dikata, racikan budaya Padang jauh dari pandangan, eloknya anyaman sayur Sunda pun tak hendak menyapa, apalagi Soto Banjar. Di tanah ini, cita rasa Paris, lunaknya Mie Cina bergandengan sabu-shabu Jepang yang tidak memabukkan ‘menjajah’. Melongok layar menari auman Hollywood pasti sudah. Ingatku mematuk, ketika otak tidak mencerna, mengapa lahir Surat Buat Kekasih. Teruskan membaca… »

Memulai dari Format Buku (2.6)

25 February 2010

Menulis banyak peruntukan sasarannya. Menulis menuangkan pikiran untuk dinikmati sendiri, itu masa lalu. Dulu, dulu sekali … ketika menulis di diari. Kini, hampir semua tulisan dimaksudkan untuk menjadi bagian buku. Rugi kiranya buah pikiran yang ditulisan dibiarkan bertebaran.

Suatu kali, ketika menelusuri tulisan yang dipublis media cetak, pusing sendiri. Bukan puluhan, tetapi ratusan tulisan. Begitu dicoba dicari, ya waktu habis untuk menelusuri. Tulisannya tidak didapat. Ya sudah, relakan saja. Teruskan membaca… »

Punya Buku … Duh Senangnya (2.5)

24 February 2010

Tidak sedikit yang mengutarakan kehendak menulis buku. Ada yang mengaku idenya sudah lama bersemanyam di otak, tinggal menuliskannya saja lagi. Ada yang telah ditulis, tinggal mengumpulkan untuk dijadikan buku. Ada pula yang memapankan bodoh, naskah sudah jadi, tetapi tidak berani diterbitkan, karena takut kalau-kalau tidak direspon publik.

Di atas semua itu, naskah OK, keberanian OK, tetapi setelah dikirim ke penerbit, penerbit tidak mau menerbitkan dengan berbagai alasan. Tulisan ini ditujukan kepada yang terakhir. Untuk ketiga kategori awal, perlu ‘dihajar’ dulu baru dimotivasi. Ibarat penyakit, tumornya stadium tiga. Perlu dignosis lanjut, obat super keras, dan memakan waktu. Serangan tumor pada mental dasar. Otak digegerkan hingga terbangun dari lelapnyan dan perubahan minset. Teruskan membaca… »

Menulis Merujuk Tulisan Pertama (2.4)

23 February 2010

Dapat dipastikan, dalam menulis banyak hal yang dapat ditulis, hingga lucu kalau ada yang kesulitan mencari ide. Saya tidak pernah mencari ide, apalagi berjam-jam duduk di WC. Duh … jorok. Kalau ada teman yang mengajak makan-makan di restoran bagus, saya memilih menulis sembari berbincang. Toh tidak menganggu perbincangan.

Di pesawat juga senang menulis. Bersih, tenang, dan orang banyak yang ngorok. Paling-paling yang menganggu pengumuman: Para penumpang, dipersilakan memakai sabut pengaman, cuaca kurang bersahabat. Karena takut kali, Alhamdulillah sering tidak mendengar karena asyik menulis. Ketika memulai kuliah di UPI, duh nikmatnya. Dosen memberi materi, ruangnya bagus dan bersih, nyaman menulis. Lagi pula, koneksi internet berlimpah ruah. Teruskan membaca… »

Mudahnya Menulis Buku (2.1)

22 February 2010

Menulis buku mudah.
Ya, iyalah. Caranya? Tidak pakai cara-caraan.
Serial tulisan saya tentang menulis,
bermuara pada buku.
Tepatnya, hasilnya buku.
Hingga, menulis buku itu mudah.

RANGKAIAN. Membaca, dan menulis bermuara pada buku. Ibarat pandai besi membuat trisula. Tiga hal dalam satu hal, melakuan rangkaian kegiatan dimana etape menulisnya yang memanfaatan kerja otak agak (sedikit) serius. Membaca memerlukan komitmen, baik yang tersurat maupun tersirat, tertulis maupun tanda-tanda. Anak SD pun bisa.

Menulis lanjutan membaca. Kalau malas membaca, atau terbiasa menyediakan alasan untuk menuliskan bacaan, ya susah deh. Kalau menulisnya susah, secara nyata tidak ada hasil tulisan, mustahil berujung buku. Menulis buku bisa langsung jadi buku, bisa pula di kincrit-kincrit seperti sebagian besar buku saya. Bab ini memuat hal-hal dimaksud.

Menulis Buku … Sayuuuuur (1)

21 February 2010

Para jamaah Fesbukiyah. Tahun 2010, dua tahun menjelang kiamat ala 2012, Insya Allah memecahkan rekor menulis buku sendiri. Lima buku? Sepuluh buku? Kalau jumlahnya sesedikit itu berarti tidak memecahkan rekor. Kenapa? Jawabannya, tahun 2010 menguak menulis buku mudah setelah tahun 2008 mengibarkan temuan menulis mudah. Bukan teori atau angan-angan. Dilakukan. Teruskan membaca… »

Menikmati Kemerdekaan Menulis (10.10)

20 February 2010

Fajar menyingsing, kumandang azan mengalun dari menara-menara gema, Allahu Akbar … Allahu Akabar … Allahu Akbar. Basuhan wudhu’ nikmat air pagi menyamankan syaraf-syaraf, pikiran lempang menyapa nikmatnya menulis.

Ketika malam menjelang, saat jangkrik kelelehan mengumbar suara, bisik-bisik amal menyelinap ke relung hati, duh nikmatnya menulis. Mengapa kau kutuk antri ketika kau sadar rumahmu bukan istana? Menulis sepenglihatan mengusir gundah, duh nikmat. Teruskan membaca… »

Nyaman Menulis ‘Diri’ (10.9)

19 February 2010

Suatu kali pernah disulang, serial tulisan dan hampir sepuluh buku saya tentang menulis, karena tidak mengutip pendapat pakar, dinilai tidak berbobot. Bahkan, ada manusia yang menyelesaikan kuliah strata satu (sarjana) terseot-seot, menvonis tidak ilmiah. Tulisan ilmiah itu yang bersandar pendapat pakar dan dengan mengutipnya. Teruskan membaca… »