15 August 2010
KENAPA ada orang yang takut menulis? Atau, berusaha menulis, tetapi tidak menyelesaikan tulisannya? Atau, menyelesaikan tulisan, tetapi tidak mepublikasikannya? Kalau saya yang ditanya, akan dijawab: Orang itu takut pada dirinya, takut melawan dirinya. Kenapa?
Menulis menuangkan pikiran. Nah, kalau pikirannya jelek, akan ketahuan dari tulisannya. Bisa jadi, mereka yang kerjanya menjelek-jelekkan tulisan orang lain —sekalipun jelek benaran— sebenarnya dia melihat dirinya. Mana tahu dia memastikan, kalau menulis lebih jelek he he. Mendingan menimpakan kejelekan pada tulisan orang lebih dulu.
Sebaliknya, mereka yang biasa menulis, kalau melihat kekurangan pada tulisan orang lain akan berusaha memberi saran dan memotivasi agar terus menulis. Setidaknya, menaruh empati. Minimal, memasang ‘lampu’ agar jangan menulis sejelek tulisan yang dibaca. Dijamin, penulis sungguhan tidak akan mencaci tulisan orang lain, apalagi tulisan pemula. Memotivasi lebih afdol.
Karena itu, jangan pedulikan para pencerca. Biarkan mereka hidup dengan pilihannya —mencerca. Dari cercaan tersebut kembangbangkitkan motivasi diri: Biar saja tulisan pada awalnya jelek, berikutnya lebih baik, berikutnya lagi semakin baik, sampai menjadi baik. Belajar terus-menerus dari praktik menulis. Akui saja, begitulah kemampuan (awal) dalam menulis. Terima diri apa adanya. Sadari kemampuan apa adanya. Dan, jadikan modal untuk belajar.
Tidak usah takut ketahuan pikiran memang kurang beres. Kalau sitem pengetahuan yang disimpan di memori baik —masukan, proses, dan keluaran— akan terlihat dari tulisan. Tidak mungkin bila masukan pengetahuan (ilmu) benar, proses pengendapan di memori baik, keluarannya jelek. Kalau susah memproduk pikiran, perlu disigi sistem pengolahannya dan peyimpanannya.
Kalau input pengetahuan garbage, bagaimana mau mengolahnya menjadi brilian, tidak masuk akal hasilnya ekselen. Bisa pula, sumber masukan bisa jadi bagus, tetapi ketika ‘memasukkan’ salah, ya ketika diproses pantas ribet, apalagi menuangkannya. Ruwet. Dari pikiran yang ruwet tidak mungkin menjadi tulisan bermutu. GIGO: garbage in garbage out. Hindari hal sedemikian.
Karena itu, kalau mau menulis, pindai khasanah pengetahuan dari hulu sampai hilir, apa sudah benar. Kalau jawabannya ya, tuangkan, tuliskan. Tulislah apa yang ada di pikiran, apa yang dipikirkan. Kalau memang ribet dan ruwet ranah pikiran, benahi. Akui. Jangan takut. Musnahkan ketakutan pada diri dengan membenahinya. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kerusakan apa pun bisa diperbaiki asal diusahakan dan dilakukan. Ketahuilah diri, ketahuilah pikiran sendiri. Hidup adalah berpikir, pikiran itu sendiri.
Dengan kata lain, dengan latihan dan pengalaman, manakala tataran pikiran OK, menulis menjadi mudah. Menulis menuangkan pikiran. Bukan memikirkan apa yang akan ditulis. Karena itu, menulis tidak ribet, bukan keruwetan. Jangan diribet-ribetan, hindari peruwet-ruwetan. Jadikan mudah, mudahkan pikiran, mudahkan jar-jari. Tulisan sahabat sejati diri.
Bagaimana menurut Sampeuan?
Kategori Menulis | Ada 1 Komentar »