<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Menulis Tanpa Berguru</title>
	<atom:link href="http://webersis.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://webersis.com</link>
	<description>Ersis Writing Theory (EWT): Menulis Ala Posmodernis</description>
	<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 16:16:05 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 9 : Menulis Membanding-Bandingkan</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/26/kebiasaan-buruk-9-menulis-membanding-bandingkan/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/26/kebiasaan-buruk-9-menulis-membanding-bandingkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 16:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1455</guid>
		<description><![CDATA[SEORANG pesharing berkeinginan luar biasa menulis. Ketika dia mengutarakan: “Saya ingin menulis seperti Pak EWA. Enak dibaca dan sentilannya mengena”. Mau tahu komentar saya? “Maaf Mas, Sampeyan tidak usah menjadi penulis”. Tentu saja dia terperangah. Yaps, syarat utama menjadi penulis adalah menjadi diri sendiri.
Membanding-bandingkan tentu bukan hal haram. Yang haram ‘proposalnya’ studi banding, tetapi dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEORANG pesharing berkeinginan luar biasa menulis. Ketika dia mengutarakan: “Saya ingin menulis seperti Pak EWA. Enak dibaca dan sentilannya mengena”. Mau tahu komentar saya? “Maaf Mas, Sampeyan tidak usah menjadi penulis”. Tentu saja dia terperangah. Yaps, syarat utama menjadi penulis adalah menjadi diri sendiri.</p>
<p>Membanding-bandingkan tentu bukan hal haram. Yang haram ‘proposalnya’ studi banding, tetapi dalam pelaksanaan plesiran. Yang beginian konon kelakuan ‘golongan tertentu’; uang negara dihambur-hamburkan untuk melayani syahwat melancong. Keterlaluan memang.<span id="more-1455"></span></p>
<p>Dalam menulis penempatan pembandingan sering salah kaprah, salah sasaran. Seorang pemula membandingkan karyanya dengan karya penulis kenamaan. Ada pula guru yang hobi membanding-bandingkan karya muridnya dengan karya penulis kenamaan. Inti sari belajar direduksi. Pantaslah banyak potensi yang terbunuh.</p>
<p>Saya pernah memarahi seorang pesharing muda. Betapa tidak. Kalau dibandingkan dengan tulisan saya seumur dia &#8212;mahasiswa tahun kedua&#8212; tulisannya beberapa kali lipat dibandingkan tulisan saya seusianya. Sampai dikatakan: “Kamu itu berpikirnya jahiliyah. Kalau kemampuan kita sama itu menghina saya. Saya bisa bunuh diri karena malu. Coba dibayangkan dibatok kepalamu bila seumur Ersis &#8212;tiga puluh lagi &#8212; tulisan Ersis bak sebutir pasir dibanding tulisanmu”. Membandingkan kok tidak pada kadar yang tepat.</p>
<p>JADI DIRI SENDIRI<br />
Sebelum menulis tentang menulis, saya lebih banyak menulis tentang pendidikan, politik atau masalah-masalah kontemporer. Menulis laporan penelitian, karya ilmiah untuk keperluan kampus atau naik pangkat adalah hal biasa. Kalau ‘menulis pesanan’ dilakoni sejak lama dan menjadi sumber finansial. Dulu. Itu dulu. Menulis sebagaimana dipahami. Membaca karya HAMKA, Al-Qorni, Abu Hanifah sampai Al-Gazali dinikmati, tidak mungkin seperti mereka.</p>
<p>Membaca karya penulis hebat memang terpengaruh. Begitu adanya. Tetapi, membanding-bandingkan karya pribadi dengan karya mereka tidak pada tempatnya. Apalagi ‘memukul’ karya penulis pemula dengan karya hebat-hebat. Sesuatu pas dalam bandingan kalau setara.</p>
<p>Membaca dan membaca Firman pertama Allah SWT kepada Muhammad dan memahami inti sari Rasulullah memerintahkan para Sahabat menuliskan Al-Quran dipahami sebagai tonggak kehidupan. Dalam pada itu, puluhan tahun keheranan, kenapa para pelajar yang dididik oleh guru bahasa kok tidak piawai menulis, mana pula terkagum mendengar ceramah ulama-ulama kondang. Kenapa menulis terkesan susah amat? Kenapa ceramah yang bermakna berhenti pada ucapan, tidak banyak yang ditulis?</p>
<p>Berharap tentu tidak salah. Tetapi, kalau membanding-bandingkan, ulama saja banyak yang tidak menulis. Para dosen memberi kuliah jarang yang menulis buku ajar tentang apa yang diajarkannya. Paling-paling ‘mendongeng’ atau menugaskan membaca buku-buku teks karya orang lain dan kami ‘diwajibkan’ meringkas, menulis makalah untuk dipresentasikan. Lumayan untuk belajar he he.</p>
<p>AL-QURAN SEMPURNA<br />
Satu hal. Hindari membandingkan karya (manusia) dengan Firman Allah SWT, Al-Quran. Al-Quran ‘karya’ sempuna. Misalnya membandingkan Teori Evolusi dengan teks Al-Quran. Darwin menciptakan teori dan apabila ditemukan teori yang lebih ‘masuk akal’ teori Charles Darwin gugur dengan sendirinya. Memangnya mau menggugurkan Al-Quran?</p>
<p>Penggalian ilmu dan tehnologi untuk memahami nash-nash Al-Quran bukan membandingkan. Misalnya Teori Big Bang tentang ledakan besar yang dikaji ilmuwan dalam rangkaian abadan ternyata sudah tertulis dalam Al-Quran. Itu baru benar. Bukan membanding-bandingkan ‘emas murni’ dengan usaha pencarian ‘batubara’. Tidak level.</p>
<p>Begitu juga kalau menulis, menulis buku. Tidak salah mempelajarinya dari buku-buku atau penemuan sebelumnya, tetapi bukan berarti membandingkan dan kalau tidak cocok maka salahlah. Coba, sebelum era renaisance pihak Gereja Katholik bersikukuh Matahari mengitari Bumi. Jangan coba-coba membahas. Copernicus dan Galileo membayarnya dengan hukuman (mati). Eit &#8230; ilmu pengetahuan membuktikan heliosentris bukan geosentris.</p>
<p>Dengan kata lain, membandingkan sesuatu dengan lainnya haruslah dalam tataran kebenaran. Sekali lagi, dalam belajar, dalam memasihkan menulis, lancarkan aliran darah menulis. Setelah fasih baru kualitasnya ditingkatkan. Itu pun harus dimulai dari hulu pada ranah pengetahuan. Tulis apa yang ada di pikiran dan setelah menjadi akan diketahui dimana kurangnya. Perbaiki. Dan,  perdalam ilmu (pengetahuan).</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/26/kebiasaan-buruk-9-menulis-membanding-bandingkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 8 : Menulis Merusak Mental</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/25/kebiasaan-buruk-8-menulis-merusak-mental/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/25/kebiasaan-buruk-8-menulis-merusak-mental/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 16:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1454</guid>
		<description><![CDATA[DASAR anggota DPR (DPR RI dan DPRD) maunya fasilitas melulu; hadir saja malas kok meminta dana ini-itu. Pemerintah tidak becus, tarik saja tabung elpiji, ledakannya tidak bisa ditolerir lagi. Apa yang dilakukan sarjana pertanian? Sebagai negara agraris kita mengimpor aneka produk pertanian paling rakus. Duh, pada kemana teknolog hasilan ratusan perguruan tinggi, jangankan memproduksi sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DASAR anggota DPR (DPR RI dan DPRD) maunya fasilitas melulu; hadir saja malas kok meminta dana ini-itu. Pemerintah tidak becus, tarik saja tabung elpiji, ledakannya tidak bisa ditolerir lagi. Apa yang dilakukan sarjana pertanian? Sebagai negara agraris kita mengimpor aneka produk pertanian paling rakus. Duh, pada kemana teknolog hasilan ratusan perguruan tinggi, jangankan memproduksi sepeda motor, jarum saja diimpor dari Cina.</p>
<p>Guru-guru keterlaluan, gaji mereka dinaikkan, kualitas pendidikan melorot. Bagaimana mencernanya, di negara sendiri mata pelajaran Bahasa Indonesia memprihatinkan; apa yang diajarkan guru bahasa Indonesia? Dasar pejabat maling, rakyat membayar iuran komite sekolah kesusahan, mobil di garasinya selusin. Belum lagi soal partai, kerusakan lingkungan, mentalitas, dan seabrek lainnya. Salah? <span id="more-1454"></span></p>
<p>Bisa saja contoh ‘kecil’ persoalan bangsa ada benarnya. Perhatikan saja kondisi obyektif. Berkaitan dengan tulisan terdahulu &#8212;mengeluh&#8212; penulis hendaknya bukan menebar hal-hal buruk mengenai bangsa ini. Kalau penulis otaknya ditimbuni ‘keluhan’ dan menyebarluaskan bisa berakibat merusak mental bangsa, terutama generasi muda.</p>
<p>Melihat ini mengeluh, mencermati itu mencela, memperhatikan anu menggerutu, dan bla-bla. Lalu apa yang dibuat? Masalah untuk diselesaikan bukan semakin ‘dipurukkan’. Menulis membahas masalah dan menawarkan solusi. Kalau tidak mencaci-maki namanya.</p>
<p>MENULIS AJA LAGI<br />
Coba simak tulisan-tulisan saya tentang menulis. Dalam menulis banyak kendala, berbagai masalah, kesulitan sampai ‘teror’ ketika tulisan dipublikasikan. Melakukan menulis tidak tergoda oleh masalah. The life is problems, problems must be solved. Pikiran, mental, dan kemampuan digunakan untuk menulis, hasilnya tulisan.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir membaca, mengamati, menganalisis, menerbitkan buku bila ‘kunyah-kunyah’ bukanlah mudah, tetapi ketika dilakukan ternyata tidak sulit. Mental dibangun untuk mengatasi masalah dengan sasaran menerbitkan buku. Diri ditantang, mentalitas dibangun, dan jadilah buku.</p>
<p>Sebaliknya, kalau mental dirusak hasilnya hanya keluhan. Bagaimana mau menulis, saya sibuk amat, bagaimana mau menerbitkan buku, belum punya pengalaman dan tidak mengenal penerbit. Pikiran diarahkan pada kesulitan bukan menjawab tantangan. Bukan membangun mental, tetapi meruntuhkan mental. Lakukan, pengalaman melengket.</p>
<p>Coba perhatikan, siapa saja yang menulis, pasti saya apresiasi. Biar saja awalnya jelek, terus menulis dan menulis, nanti akan bagus. Bandingkan: “Waduh bahasamu tidak jelas, sajiannya ngawur, mana pendahuluan, bahasan, dan konklusinya, tidak sesuai EYD,”. Preeeet. Membantai.</p>
<p>Kalaulah membangun mentalitas bangsa belum padanan diri, bangun mental diri. Menulis membangun mentalitas, membangun kepribadian. Dengan menulis kita ‘dituntun’ mencari bahan, mengatasi masalah, menghadapi tantangan, dan sebagainya. Menulis membangun mental.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/25/kebiasaan-buruk-8-menulis-merusak-mental/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 7 : Menulis Mengeluh</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/24/kebiasaan-buruk-7-menulis-mengeluh/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/24/kebiasaan-buruk-7-menulis-mengeluh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1453</guid>
		<description><![CDATA[MENGELUH adalah alasan paling nyaman bagi pecundang. Indonesia dikesankan &#8212;buktinya banyak he he&#8212; negara yang sedang terdenda, ada yang mengatakan bisa menjadi Negara Gagal. Ngeri memahaminya, pilu merasakan, miris untuk sekadar dibanggakan. Tidak seorang pun rakyat negara tercinta ini menghendakinya.
Keyataan adalah fakta tidak terbantah. ‘Terjemahan’ fakta bila dibawa ke wilayah diskusi lain lagi soalnya. Mengeluh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENGELUH adalah alasan paling nyaman bagi pecundang. Indonesia dikesankan &#8212;buktinya banyak he he&#8212; negara yang sedang terdenda, ada yang mengatakan bisa menjadi Negara Gagal. Ngeri memahaminya, pilu merasakan, miris untuk sekadar dibanggakan. Tidak seorang pun rakyat negara tercinta ini menghendakinya.</p>
<p>Keyataan adalah fakta tidak terbantah. ‘Terjemahan’ fakta bila dibawa ke wilayah diskusi lain lagi soalnya. Mengeluh atas fakta sah saja. Yang perlu dihindari frustasi, apalagi fatalistik. Bagaimana tidak frustrasi tabung gas meledak dimana-mana. Ini soal nyawa akibat ‘kepentingan’ pemerintah dalam konversi minyak tanah ke elpiji. Pemerintah Amerika Serikat bisa ganas bila seorang warganya dianiaya apalagi terbunuh. Korban ‘ledakan’ tabung epliji bukan satu dua orang lagi, tetapi bepuluh-puluh. Terlalu lama rakyat diteror ‘teroris’ tabung gas. Mengeluh?<span id="more-1453"></span></p>
<p>Mau mengeluh kek petaka terus bergulir. Mengeluh-ngeluh menulis apa manfaatnya? Keluhan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Begitu juga mengeluh terhadap kekejaman Israil. Kalau tidak demikian bukan Israil namanya. Dunia saja tidak mampu menghentikan apalagi keluhan dalam bentuk tulisan. Gimana dong?</p>
<p>Siapkan kemampuan agar mengalahkan Yahudi. Bukan dalam hitungan tahunan, tetapi generasi. Kuncinya iman dan pendidikan. Maka, menulislah tentang itu. Bisa jadi bermanfaat.  Mengeluh berabad-abad tidak akan memperbaiki keadaan.</p>
<p>BERUSAHA DONG<br />
Ketika membimbing mahasiswa dalam menulis dan kemampuan internet mendapatkan fakta soal keluh-mengeluh. Rezim baru FKIP Unlam, Alhamdulillah menyediakan fasilitas internet agak memadai. Karena itu dengan beberapa teman memulai e-learning. Memberi ‘modal dasar’ mahasiswa membuat blog dan sebagainya.</p>
<p>Ketika tugas perkuliahan ala dunia maya dimulai sebagai pembeking kuliah konvensional ada yang mengeluh: “Pak saya tidak punya laptop”. Kalau yang mengeluh capek sampai pusing hal biasa. Tetapi, mana saya mau peduli. Alhamdulillah mahasiswa mampu membuat buku ajar sendiri. Ya, ketika keluhan dienyahkan. Go go go.</p>
<p>Kalau tidak mempunyai laptop usaha dong. Kampus baru mampu menyediakan ala kadarnya. Kalau mau memperdalam, beli buku, baca, dan praktikkan. Memangnya keterampilan diturunkan dari langit? Keterampilan didapat dari pengalaman, dari melakukan.</p>
<p>Begitu juga menulis. Terkadang tertawa-tawa pada mereka yang fanatik beralasan sibuk. Mahasiswa sibuk? Saya menjadi mahasiswa sampai ‘puncaknya’. Kendala bukan dikeluhkan, tetapi diatasi. Menulis bukan dikeluhkan, tetapi dilakukan. Semakin sibuk semakin banyak hasil diperoleh.</p>
<p>Mereka yang produktif menulis menggunakan sedikit waktu untuk menulis. Pandai-pandailah menyiasati waktu. Buang keluhan ke laut lepas. Mengeluh kok dibiasakan, dijadikan keterampilan. Para pengeluh adalah para pecundang. Orang berbuat dia mengeluh. Kacien dech loe.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/24/kebiasaan-buruk-7-menulis-mengeluh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 6 : Menulis Menimpakan Alasan</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/23/kebiasaan-6-menulis-menimpakan-alasan/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/23/kebiasaan-6-menulis-menimpakan-alasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 16:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[ALASAN paling populer yang dijadikan bemper pembenar untuk tidak menulis &#8230; sibuk. Sibuk menyelesaikan tugas kuliah, kantor, memandikan anak, memasak, dan sebagainya. Padahal, menulis tidak ada hubungannya dengan hal-hal tersebut. Setidaknya, tidak berbanding lurus dan sepadan.
Saya pernah mencandai seseorang: Loe mikir-mikir deh kalau berkata sibuk?”. Apa pasal? Saya pernah menghitung tahun sekolahnya dari APDN sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ALASAN paling populer yang dijadikan bemper pembenar untuk tidak menulis &#8230; sibuk. Sibuk menyelesaikan tugas kuliah, kantor, memandikan anak, memasak, dan sebagainya. Padahal, menulis tidak ada hubungannya dengan hal-hal tersebut. Setidaknya, tidak berbanding lurus dan sepadan.</p>
<p>Saya pernah mencandai seseorang: Loe mikir-mikir deh kalau berkata sibuk?”. Apa pasal? Saya pernah menghitung tahun sekolahnya dari APDN sampai sarjana dan pascasarjana. Ditambah diklat ADUM, DUMLA, SUSPIM, aneka Diklat dan kunjungan dalam dan luar negeri, dalam 20 tahun berkarir sebagai PNS berapa tahun ril mengabdi? Menjadi pejabat sibuk menerima tamu, berkunjung kesana-kemari, meresmikan ini-itu, begitukah pekerjaan pejabat?<span id="more-1452"></span></p>
<p>Saya kagum kepada isteri yang menyiapkan ransum untuk keluarga dan mendidik anak. Saya kagum kepada guru dan dosen yang mendidik bukan sekadar mengajar untuk mendapatkan gaji. Hanya saja yang perlu diingat semua itu adalah pekerjaan rutin, pekerjaan utama, pekerjaan yang wajib dikerjakan. Kalau tidak berdosa deh.</p>
<p>Menulis &#8212;sesuai pengalaman&#8212; dilakukan tidak pada waktu mengerjakan pekerjaan utama. Bahkan &#8212;punten, tidak dimaksudkan sok hebat &#8212;pekerjaan tambahan tidak kalah banyak. Dan, saya bukan orang kaya lho. Semisal menerbitkan tabloid, berkolam ikan, beternak ayam, menjadi pemakalah, dan sebagainya. Kuliah pun tingkat keseriusan lebih dari cukup. Masih banyak waktu (luang) untuk menulis.</p>
<p>BERESKAN TUGAS POKOK<br />
Sibuk? Ya, jangan pernah memikirkan atau bangga karena sibuk. Pindai hasilnya. Misal menjadi guru. Pada pikiran dipatenkan sibuk, so bagus. Hasilnya? UN anak didik jeblok. Sudah begitu ‘Si Guru’ tega-teganya membocorkan soal UN dan menjawabkan. Pasti masuk neraka  kelak. Mengentuti tugas degan sibuk tidak bermakna.</p>
<p>Menulis bukanlah dimaksudkan memakan tugas pokok. Setiap orang mempunyai tugas utama. Kiatnya selesaikan kewajiban setelah itu baru menulis. Orang-orang bodoh melalaikan tugas pokok dan sok sibuk untuk menulis. Hasilnya, tugas utama centangprenang pekerjaan tambahan (menulis) tidak jelas hasilnya. Sibuk dijadikan alasan. Lucu.</p>
<p>Mamasihkan menulis &#8212;kecuali bagi yang berprofesi menulis&#8212; adalah setelah menyelesaikan tugas pokok. Jangan pernah menulis dijadikan alasan untuk mengabaikan tugas pokok. Menulis disela-sela tugas pokok &#8212;kalau terlatih&#8212; atau setelah tugas pokok selesai.</p>
<p>Kalau menyelesaikan tugas pokok tidak sanggup tidak usah bermimpi menjadi penulis (tambahan). Karena itu, bangun mindset, menulis sebagai ‘tambahan’, value added kehidupan. Menjadi guru, dosen, penguasa, pengusaha atau PNS hal lumrah, menambah kemampuan menulis baru berbeda Bro.</p>
<p>Sekali lagi, sibuk jangan dijadikan alasan, dijadikan ‘kambing hitam’. Dapat dipastikan, mereka yang tidak mampu menyelesaikan tugas utamanya akan keteteran dan beralasan untuk pekerjaan tambahan, apalagi menulis. Menulis bukan bersibuk-sibuk, tetapi melipat sibuk.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/23/kebiasaan-6-menulis-menimpakan-alasan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 5 : Menulis Mencerca Diri</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/22/kebiasaan-buruk-5-menulis-mencerca-diri/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/22/kebiasaan-buruk-5-menulis-mencerca-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 16:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1451</guid>
		<description><![CDATA[MENULIS menampakkan pikiran, ‘memperlihatkan’ diri pada orang lain. Dimaksudkan untuk tujuan mulia seperti berbagi, berdakwah, atau apa begitu, atau sebaliknya, untuk mencaci maki, menebar fitnah, bisa pula berghibah. Ada pula yang melengketkan dengan narsisme. Terserah saja. Yang pasti, manfaat menulis tidak terhingga. Perlu saya ingatkan, menulis kalau dapat ‘jalurnya’ ibarat candu.
Yang lucu dan rada-rada gimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENULIS menampakkan pikiran, ‘memperlihatkan’ diri pada orang lain. Dimaksudkan untuk tujuan mulia seperti berbagi, berdakwah, atau apa begitu, atau sebaliknya, untuk mencaci maki, menebar fitnah, bisa pula berghibah. Ada pula yang melengketkan dengan narsisme. Terserah saja. Yang pasti, manfaat menulis tidak terhingga. Perlu saya ingatkan, menulis kalau dapat ‘jalurnya’ ibarat candu.</p>
<p>Yang lucu dan rada-rada gimana gitu, ada penulis pemula memulai dengan sikap aneh. Misalnya, dengan amat sangat mantap bersikukuh: “Tulisan saya jelek Pak. Setelah ditulis, jangankan orang lain, saya sendiri malu membacanya”. Nah, lo. Orang sedemikian tidak tahu diri.<span id="more-1451"></span></p>
<p>Dalam perkuliahan pernah diselorohkan kepada mahasiwa: “Ketek kalian bau. Ketek ‘jalan’ pembuangan ‘kebusukan’ tubuh. Tidak usah mencerca diri”. Sumbernya sudah diketahui. Tinggal bagaimana agar tidak mendatangkan mudharat. Kasihan teman-teman pingsan gara-gara BB.</p>
<p>Karena itu sehabis mandi gosok dengan balsem. Lupakan sementara deodoran. Belive it or not, setiap selesai mandi balsemi, pasti baunya hilang. Apa sih hubungan balsem dengan bakteri penyebab bau. Sungguh saya tidak tahu. Kalau dengan menulis? Lebih tidak tahu lagi. Tetapi, kalau dalam amsalan sungguh menggelitik.<br />
Artinya, seseorang harus mengetahui dirinya, dari kekuatan sampai kelemahan, hal-hal yang disenangi hal-hal yang dibenci. Dengan demikian akan mudah memenej diri.</p>
<p>HARGAI KARYA SENDIRI<br />
Ibarat bakteri penyebab bau dibasmi dengan balsem, menulis berfungsi membuang kerak-kerak pengetahuan di otak. Kalau otak sering ‘dibersihkan’ pengikat informasi buruk atau ide jelek diungkai, pikiran buruk hilang. Contohnya mencerca hasil pikiran sendiri. Damaikan dengan menyadari setiap orang punya kekurangan. Kekurangan tersebut diperbaiki.</p>
<p>Yang kacau itu, jelas ketek baunya minta ampun, eit &#8230; tidak dipindai hidung. Bagaimana akan tahu berbau kalau bau itu sudah menyatu dengan pikiran. Jangankan berusaha menghilangkan baunya, berbau saja tidak sadar.</p>
<p>Dengan kata lain, kita memahami bahwa tulisan kita perlu diperbaiki, kemampuan menulis perlu diasah, dan tingkat kemenulisan saat ini baru level sekian. Tidak apa-apa, buat apa mencaci diri, mencaci tulisan sendiri.</p>
<p>Sejelek apa pun tulisan sendiri hargailah. Kalau tidak menghargai karya sendiri, bagaimana orang lain akan menghargai? Lagi pula, baru belajar kok berlagak bak pakar. Kalau sudah tahu bahwa tulisan jelek tinggal diperbaiki dan berusaha menulis lebih bagus. Bukan mencaci-maki. Sampeyan kan mampu mengatasi bau ketek, begitu juga dalam menulis.</p>
<p>Jangan membuat orang pusing, pingsan, atau gila gara-gara membaca tulisan Sampeyan. Caranya perbanyak pengetahuan dan latih keterampilan menulis dengan menulis. Sungguh bodoh si pencaci karya sendiri.</p>
<p>Bagimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/22/kebiasaan-buruk-5-menulis-mencerca-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 4 : Menulis Menunda-Nunda</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/21/kebiasaan-buruk-4-menulis-menunda-nunda/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/21/kebiasaan-buruk-4-menulis-menunda-nunda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 16:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1450</guid>
		<description><![CDATA[KEASYIKKAN membaca buku-buku praktik culas MNC, apalagi ‘provokasi’ Pengakuan Bandit Ekonomi, Jhon Perkins, plus rasa bangga atas Menkes RI Siti Fadilah Supari yang nasionalistik, dipadu kondisi obyektif daerah penambangan, gairah menulis novel memuncak di ubun-ubun. Satu-dua bab diselesaikan dalam sehari. Menulis mengalir begitu saja.
Ndilalah &#8230; atas nama tugas negara mengikuti aneka kegiatan dalam rangka mengupayakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEASYIKKAN membaca buku-buku praktik culas MNC, apalagi ‘provokasi’ Pengakuan Bandit Ekonomi, Jhon Perkins, plus rasa bangga atas Menkes RI Siti Fadilah Supari yang nasionalistik, dipadu kondisi obyektif daerah penambangan, gairah menulis novel memuncak di ubun-ubun. Satu-dua bab diselesaikan dalam sehari. Menulis mengalir begitu saja.</p>
<p>Ndilalah &#8230; atas nama tugas negara mengikuti aneka kegiatan dalam rangka mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan ke Jakarta. Dihajar ‘ceramah’, diskusi, tugas kelompok, dan bla-bla dari pukul 08.00 pagi sampai 22.00 adakalanya sampai pukul 24.00. Tentu melelahkan. Berakibat buruk bagi aktivitas menulis.<span id="more-1450"></span></p>
<p>Menulis satu tulisan sehari masih bisa terselamatkan. Tetapi, berakibat buruk bagi penulisan novel ASAP. Begitu sampai di kampus harus pula membaca belasan rancangan kurikulum untuk Semiloka Kurikulum FKIP Unlam, mana pula buku Penelitian Tindakan Kelas mulai digarap untuk keperluan kuliah  semester depan.<br />
Sudah begitu, penghubung Pemkab Kotabaru menelepon kapan ke Kotabaru yang intinya kapan penelitian dimulai? Walah yang namanya pekerjaan tidak akan pernah jeda. Bagaimana dengan proyek novel? Akankah ditunda-tunda terus? Dua Kepala Daerah harus pula dituliskan best pactice dan biografinya. Dalam kondisi demikan, ujian masuk Program Doktoral UPI memastikan diterima. Masuk jajaran atas dan mendapat beasiswa BPPS. Begitulah ‘kehidupan’ saya.</p>
<p>BIANG KEGAGALAN<br />
Begitulah. Bagian naskah novel ASAP sudah diposting sampai nomor 17, tinggal 7 nomor aja lagi. Ibarat lomba lari, hampir di finis terpaksa jedah. Menunda-nunda menulis, apa pun alasannya, adalah kebodohan.</p>
<p>Sebelum menulis tulisan ini, saya menghitung-hitung hal-hal yang ditunda dalam kehidupan, ui &#8230; konyol. Ternyata, berbagai kegagalan karena penundaan. Banyak kesempatan dan rizki menguap karena penundaan. Banyak ide terbuang karena realisasinya ditunda-tunda. Biang kegagalan adalah penundaan.</p>
<p>Tidak sampai disitu, semalaman menelusuri tulisan-tulisan di dua destop dan di dua laptop, wui &#8230; ada ratusan tulisan siap dibukukan. Dulu, direncanakan setiap tiga bulan ‘menyiangi’ tulisan untuk djadikan buku. Ditunda dan ditunda, ya tidak menjadi bukulah.</p>
<p>Saudara-saudara. Apalagi kalau baru setingkat angan-angan, atau rencana menulis ini-itu. Tulisan yang sudah menjadi, atau selesai dalam satu paket buku, tetapi tidak dituntaskan, alias ditunda-tunda, tidak menjadi apa-apa. Kalau demikian rangkaian kegiatan tergelincir menjadi mubazir.</p>
<p>Kuliah libur. Weleh weleh ‘terpaksa’ lagi menunda. Disain proposal harus selesai. Artinya, mempelajari puluhan teori dan survey pendahuluan. Sebodoh &#8230; novel djadikan dan diterbitkan. Beres. Semingguan menyiangi tulisan baru klir menjadi tiga naskah buku. Maka, berpikir-pikirlah menunda-nunda. Rugi. Apalagi kalau hanya mahasiswa doang. Waktu luangnya berkelebihan Bro.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/21/kebiasaan-buruk-4-menulis-menunda-nunda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 3 : Menulis Terdesak</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/20/kebiasaan-buruk-3-menulis-terdesak/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/20/kebiasaan-buruk-3-menulis-terdesak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 16:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1449</guid>
		<description><![CDATA[APABILA guru atau dosen, memberi tugas menulis, tentu dengan batas waktu pengerjaan, deadline atau tenggat. Jangankan tugas, pada dasarnya pekerjaan apa pun, ada batas waktunya. Menulis tanpa waktu awal atau akhir adalah menulis menurut kemauan sendiri. Kapan saja atau dimana saja. Setidaknya, soal kapan memulai, kapan selesai terserah yang menulis. Suka-suka.
Pengalaman sebagai guru, lebih banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>APABILA guru atau dosen, memberi tugas menulis, tentu dengan batas waktu pengerjaan, deadline atau tenggat. Jangankan tugas, pada dasarnya pekerjaan apa pun, ada batas waktunya. Menulis tanpa waktu awal atau akhir adalah menulis menurut kemauan sendiri. Kapan saja atau dimana saja. Setidaknya, soal kapan memulai, kapan selesai terserah yang menulis. Suka-suka.</p>
<p>Pengalaman sebagai guru, lebih banyak menemukan mahasiswa yang apabila mengerjakan tugas menjelang batas waktu penyerahan. Tidak sedikit pula yang menawar dengan berbagai alasan: “Pak, maaf. Saya ada masalah anu, anu, dan anu. Minta perpanjangan waktu seminggu saja”. Kebiasaan saya, apabila tidak menyerahkan tugas sesuai yang disepakati, wassalam. Oleh dosen-dosen saya dididik sedemikian. Batas waktu disepakati dan terlambat &#8230; tidak lulus.<span id="more-1449"></span></p>
<p>Karena itu, begitu mendapat tugas berusaha  mengerjakannya. Menjelang penyerahan tinggal memperbaiki disana-sini. Hampir tidak punya masalah dengan tugas-tugas perkuliahan. Tepat, atau kedahuluan waktu. Tidak pernah abai atau terdenda tugas?</p>
<p>Pernah dong. Pada semester II di Program Doktoral UPI mengerjakan tugas mata kuliah reguler saja kepayahan eit &#8230; ditambah empat mata kuliah anvulen yang tugasnya tidak kalah seru. Keteteren deh. Menyerah? Tidak. Berbagai kemampuan dikerahkan. Alhamdulilah hasilnya jempolan juga tu. Sesuai dengan perjuanganlah.</p>
<p>Hal baiknya, menulis tidak tergesa-gesa. Setelah dikunyah-kunyah, banyak ‘mendukung’ hasil penulisan. Lebih dalam, menulis tidak terdesak waktu, apalagi berdesak-desakkan he he. Dahsyatnya, karena mengerjakan dalam waktu lempang, selesainya cepat. Mungkin, karena pikiran tidak terbeban. Tidak tegang.</p>
<p>Jadi, ketika menemui mahasiswa yang suka mengulur-ngulur waktu, kekurangsukaan langsung bergabung. Pasalnya, setidaknya seperti yang saya cermati dari anggota KP EWA’MCo. dua tahun belakangan, mereka yang cepat fasih menulis karena berhasil ‘membunuh’ alasan. Kalau suka beralasan, dilengkapi dengan mengulur-ngulur waktu, apalagi piawai ‘ngomong’, berargumen mendukung ketidaktepatan waktu, ya sudah, pastilah menjadi orang yang lalai.</p>
<p>Dari ratusan pesharing menulis, memberi satu atau dua tugas menulis, dari bagaimana menyelesaikannya hampir bisa memastikan, Si Anu &#8230; akan menjadi penulis. Si Ane &#8230; menjadi Pemimpi Penulis. Si Ana &#8230; akan selalu menjadi Calon Penulis.</p>
<p>Intinya, begitu ada ide langsung diolah di otak &#8212;menulis di otak. Jangan pernah direnggangkan &#8230; nanti saja; mengulur-ngulur waktu, ‘berprinsip’ nanti-nanti saja, toh akan selesai. Jangan menulis terdesak waktu. Menulis demikian akan berposisi dalam tekanan, baik internal maupun eksternal.</p>
<p>Biasakan menulis tanpa beban. Nyamankan hati, nyamankan kondisi obyektif, nyamankan waktu menulis. Hanya mereka yang suka beralasan yang membiasakan menunda-nunda. Waktu tidak pernah kembali, kesempatan tidak datang dua kali, sebab ia emaligh, tidak berulang. Mari menulis pada memanfaatkan waktu, tepat waktu.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/20/kebiasaan-buruk-3-menulis-terdesak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk 2 : Menulis Tanpa Konsep</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/19/kebiasaan-buruk-2-menulis-tanpa-konsep/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/19/kebiasaan-buruk-2-menulis-tanpa-konsep/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 15:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[KEBIASAAN jorok kebanyakan penulis (pemula), apabila melihat sesuatu yang menarik atau terpincut ketika membaca sesuatu, tanpa memahami hakikatnya, langsung menulis. Ibarat makan tidak dikunyah-kunyah dulu, langsung ditelan pluuuk. Wajar saja kalau tersedak atau terganjal di kerongkongan atau membuat lambung kepayahan memprosesnya. Menulis tanpa konsep sih.
Konsep (KBBI, 1988: 456) ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEBIASAAN jorok kebanyakan penulis (pemula), apabila melihat sesuatu yang menarik atau terpincut ketika membaca sesuatu, tanpa memahami hakikatnya, langsung menulis. Ibarat makan tidak dikunyah-kunyah dulu, langsung ditelan pluuuk. Wajar saja kalau tersedak atau terganjal di kerongkongan atau membuat lambung kepayahan memprosesnya. Menulis tanpa konsep sih.</p>
<p>Konsep (KBBI, 1988: 456) ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret. Artinya kalau berupa ide, ya dimatangkan dulu di ranah otak. Setelah diformulasi barulah ditulis. Kalau melihat atau memperhatikan hal konkret lalu diabstrakkan hingga terbentuk gambarannya lalu ditulis menulisnya akan tanpa hambatan.<span id="more-1448"></span></p>
<p>Tepatnya, usahakan ketika menulis tidak memikirkan apa yang akan ditulis. Seperti berkali-kali saya tulis, tulis apa yang ada di pikiran, jangan memikirkan apa yang akan ditulis. Begitu pula kalau mengembangkan imajinasi atau fantasi, buat gambarannya di pikiran lalu tuangkan dalam bentuk tulisan. Itulah menulis.</p>
<p>Berkeinginan menulis sekaligus membuat konsep saat tangan bermain di keyboard komputer tentu boleh-boleh saja. Hanya saja itu memerlukan basik pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman. Mustahil dilakukan pemula. Pemula memerlukan latihan panjang. Latihan menulis di otak sangat bagus. Apa yang akan ditulis, matangkan konsepnya di otak, tulis lebih dahulu di otak.</p>
<p>BERESKAN DI OTAK<br />
Menulis, tidak pelak lagi, memerlukan latihan serius berkepanjangan dan tidak banyak orang bertalenta sedemikian. Kebanyakan maunya penulis pemula, baru saja memulai menulis suda berlagak bak penulis berpengalaman. Begitu ada ide langsung main ketik, bak ada desakan berak, langsung ke WC, dan byuuur. Akibatnya?</p>
<p>Selesai satu atau dua alinea, mandek. Hari ini menulis demikian, besok pun demikian. Menulis tentang cinta, satu aline stop. Menulis tentang lingkungan, baru pembukaan involusi. Menulis perihal hubungan sosial, baru dalam bentuk draf, wassalam. Tidak ada tulisan yang tuntas.</p>
<p>Bagaimana mau tuntas kalau menulis di otaknya belum beres. Bagaimana tidak berhenti sebelum selesai, wong apa yang akan dituangkan tidak ada. Belum ditulis di otak. Celakanya kebanyakan penulis pemula melatih, membiasakan menulis tidak selesai tersebut. Dilakukan dari hari ke hari dan wajarlah yang didapat keterampilan menulis tidak selesai. Bodoh memang kalau keterampilan sedemikian yang dikembangkan dan dimantapkan. Rugi dan merugi.</p>
<p>Agar lancar menulis, matangkan ide, abstraksikan tangkapan konkret, formulasikan, dan &#8230; tuliskan. Menulis akan sangat mudah manakala apa yang akan ditulis tinggal dituangkan.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/19/kebiasaan-buruk-2-menulis-tanpa-konsep/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buruk  1 : Menulis di Anagan-Anagan</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/18/kebiasaan-buruk-menulis-1-menulis-di-anagan-anagan/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/18/kebiasaan-buruk-menulis-1-menulis-di-anagan-anagan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 15:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1447</guid>
		<description><![CDATA[APABILA seseorang berkeinginan menulis hal-hal hebat tentu sangat baik. Kalau menulis novel sepadan novel Laskar Pelangi Andrea Hirata, kalau menulis motivasi bak Ary Ginanjar Agustian menulis buku ESQ, menggugah perubahan ala Rhenald Kasali, Re-Code Change Your DNA, dan seterusnya. Pokoknya, membaca karya hebat-hebat, semangat menulis sehebat itu, bahkan lebih hebat, memenuhi ruang otak. Angan-angan membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>APABILA seseorang berkeinginan menulis hal-hal hebat tentu sangat baik. Kalau menulis novel sepadan novel Laskar Pelangi Andrea Hirata, kalau menulis motivasi bak Ary Ginanjar Agustian menulis buku ESQ, menggugah perubahan ala Rhenald Kasali, Re-Code Change Your DNA, dan seterusnya. Pokoknya, membaca karya hebat-hebat, semangat menulis sehebat itu, bahkan lebih hebat, memenuhi ruang otak. Angan-angan membuat seakan mudah saja direalisasikan.</p>
<p>Menulis hal-hal hebat dengan sajian terhebat, saking inginnya, dilamunkan dimana saja dan kapan saja. Akibatnya, karena tidak mampu mengukur diskravensi ‘apa yang diangankan’ dengan ‘kemampuan diri’ menulisnya tidak pernah terealisasikan. Angan, imajinasi, fantasi, dan sejenisnya membatu menjadi hallusinasi. Berkembang, dikembangkan, difasilitasi hingga menjadi pelamun sejati. <span id="more-1447"></span></p>
<p>Kalau didukung kemampuan berbicara, ‘akan’ menulis diomongkan kemana-mana. Pendengar terkagum-kagum. Berbicara adalah dua hal berbeda dengan menulis. Berbicara menghasilkan ‘bunyi bahasa’ menulis menjadikannya tulisan. Saking hebatnya berbicara, lupa menulisnya he he.</p>
<p>Padahal, manakala keinginan menulis yang hebat-hebat tidak diturunkan kadarnya ‘tulisan’ hanya ada di angan-angan. Berapa orang sih Andrea Hirata di Bumi ini? Satu orang saja. Kemampuan menuliskan imajinasi setiap orang berbeda. Lagi pula penulis sukses melalui perjuangan tidak musdah. Ukurlah bayang-bayang. Bayang-bayang diri.</p>
<p>SEMANGAT YANG LIAR<br />
Sangat perlu dialami, mengangankan apa yang akan ditulis seharusnya diselaraskan dengan diri. Kalau hanya memahami rumput, tulislah tentang rumput. Entry behavior tidak akan mampu mensupor tentang galaksi. Kalaupun mau, dibutuhkan bacaan pendukung. Perlu kerja keras.</p>
<p>Kesalahan banyak penulis pemula terlalu bersemangat. Ibarat akan membangun gedung, perhatikan di banyak bagian kota, disini akan dibangun gedung anu, dan anu. Saya akan menulis novel hebat. Akan menulis buku motivasi. Akan menulis pembangunan Indonesia. Akan &#8230; akan &#8230; dan &#8230; akan. Kalau ‘filsafat akan’ menjadi pegangan, ya kapan menulisnya. Angan-angan belaka. Raja Akan. Solusinya?</p>
<p>Tulis saja apa yang hendak ditulis sesuai dengan pengetahuan diri. Tidak perlu yang hebat-hebat dululah. Mulailah hal apa yang paling dikuasai, paling disenangi, paling dibenci, paling dirindukan, paling menyenangkan, paling menyusahkan, yang biasanya menyedot pikiran. Hal-hal sedemikian melekat di diri dan mudah ditulis.</p>
<p>Artinya, pahami mendalam apa yang akan ditulis. Setidaknya, tulis apa yang dekat, apa yang melekad di diri. Hal-hal sederhana dan remeh-temeh tidak mengapa. Yang penting menulisnya, melakukan menulis. Manakala yang dilatih, dibiasakan mengangankan hal-hal hebat, ya angan-angan yang berkembang.<br />
Manakala membiasakan menulis, keterampilan menulisnya yang didapat. Karena itu menulis dalam arti melakukan itu yang sangat penting. Dari menulis (melakukan) tersebut dihasilkan tulisan. Mereka yang hanya berangan-angan saja pantas dicap Raja Angan-Angan.</p>
<p>MENULISKAN ANGAN-ANGAN<br />
Kalau berniat menulis, saatnya menuliskan angan-angan, bukan mengangan-angankan menulis atau menulis di angan-angan. Latihlah menuangkan angan-angan. Berkelana ke tata surya dan bermaksud menuliskan tentulah hebat. Tetapi, kalau tidak tahu bahwa Pluto sudah dipecat para astronom sebagai planet, gimana gitu.</p>
<p>Aristoteles sebagaimana diikuti Ptolemeus, berhipotesis geosentris, yang diikuti Gereja Katholik, boleh-boleh saja. Tetapi, hipotesis Aristarchus yang ‘dihidupkan’ Copernicus menumbangkan geosentris dengan menukarnya menjadi heliosentris, biarlah menjadi lahan para astronom.</p>
<p>Dengan kata lain, silahkan berangan-angan menulis apa saja, tetapi jangan menulis di angan-angan. Artinya, pahami mendalam apa yang akan ditulis. Setidaknya, tulis apa yang dekat, apa yang melekat di diri. Hal-hal sederhana dan remeh-temeh tidak mengapa. Yang penting menulisnya, melakukan menulis. Manakala yang dilatih, dibiasakan mengangankan hal-hal hebat, angan-angan yang berkembang. Manakala membiasakan menulis, keterampilan menulisnya yang didapat.  Kita melatih menulis saja ya.</p>
<p>Menulis menjadikan angan-angan. Tulisan juga berupa angan-angan kan? Bisa jadi. Setidaknya angan-angan yang telah ditulis, angan-angan tertulis. Lebih eloklah.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/18/kebiasaan-buruk-menulis-1-menulis-di-anagan-anagan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Menulis 8 : TAKUT SALAH</title>
		<link>http://webersis.com/2010/08/17/kiat-menulis-8-takut-salah/</link>
		<comments>http://webersis.com/2010/08/17/kiat-menulis-8-takut-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 16:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://webersis.com/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[IDE sudah mantap, menulis sudah dilakukan, tulisan sudah jadi, tapi &#8230; takut mempostingnya. Nah lho. Kalau menemukan pesharing berperilaku demikian tanpa banyak komentar dikatakan: “Mas, tulisan itu tulisan siapa? Blog itu punya siapa? FB itu milik siapa? Punya Sampeyan kan?”
“Ya”, katanya pendek. “Tapi, saya tidak PD. Minder”, jelasnya mantap. “Begini saja. Coba mindset Sampeyan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>IDE sudah mantap, menulis sudah dilakukan, tulisan sudah jadi, tapi &#8230; takut mempostingnya. Nah lho. Kalau menemukan pesharing berperilaku demikian tanpa banyak komentar dikatakan: “Mas, tulisan itu tulisan siapa? Blog itu punya siapa? FB itu milik siapa? Punya Sampeyan kan?”</p>
<p>“Ya”, katanya pendek. “Tapi, saya tidak PD. Minder”, jelasnya mantap. “Begini saja. Coba mindset Sampeyan di upgrade”. “Maksudnya?”, tanyanya bingung. “Begini”, kata saya sesabar mungkin sekaligus ‘menyinggung’ agar rasa percaya dirinya bangkit.<span id="more-1446"></span></p>
<p>“Sampeyan itu berpikir, orang lain jahat semua. Tidak baik itu. ‘Curigation’ boleh, namun kalau berlebihan merugikan diri sendiri, dan menumpuk dosa”. Dikuliahi sekalian biar lebih mantap: “Hilangkan kecurigaan, biasakan berprasangka baik”. Pikiran buruk itu bersarang di batok kepala Sampeyan.</p>
<p>Wajar saja dia kurang berterima. “Saya tidak &#8230;”. Langsung dipotong. “Coba. Anggap saya, juga teman-teman blogger atau Facebooker saudaramu. Orang yang mau menolong. Kalau salah, tidak akan ditertawakan, tetapi dibetulkan. Kalau sesama saudara, mana ada istilah malu. Kekurangan dijadikan bahan perbaikan agar lebih baik”.</p>
<p>Setelah kuliah agak ‘ganas’ pesahring tersebut mengalami kemajuan menulis sangat baik. Dia tidak takut lagi salah. Tidak membesarkan kesalahan, tidak menganggap salah dan kesalahan aib besar. Sekalipun dikatakan: “Kalau salahnya itu-itu saja, salah yang berulang, itu bodoh namanya”.</p>
<p>SALAH KOK DIPELIHARA</p>
<p>Yap, salah adalah hak kita, milik kita. Nabi Adam AS saja melakukan ‘kesalahan’ agar menjadi pelajaran buat manusia sampai hari kiamat. Apalagi menulis. Salah? Ya, bagus itu. Kalau sadar salah, perbaiki. Kalau diketahui teman, ditunjukkan dimana salahnya, perbaiki. Enteng saja kok. Bersalah (dosa) kepada Allah SWT boleh-boleh saja. Makanya dibukakan pintu minta ampun, pintu tobat.</p>
<p>Apalagi, ya apalagi, kalau belajar menulis, baru penulis pemula. Saya pikir, semua penulis pernah melakukan kesalahan. Tetapi, jangan dituduh semua penulis bersalah. Itu lain lagi maknanya. Dari kesalahan itu belajar dengan mantap. Kenapa harus malu? Salah dan kesalahan dipahami agar tidak bersalah pada kesempatan berikutnya.</p>
<p>Hanya mereka yang sok perfeksionis saja yang tidak menoleransi salah, apalagi pada awal belajar. Baru belajar saja sombong, sok hebat. Tapi, kalau menulis untuk lomba, kompetisi, atau karya keilmuan atau sederajatnya, ya tidak mungkin ditolerir. Pada hal sedemikian kualitas prima yang dipertaruhkan.</p>
<p>Dengan kata lain, turunkan kadar kesombongan. Salah, biar saja. Namanya juga belajar. Baru belajar menulis tulisan disepadankan dengan karya Sitor Situmorang, yo opo rek.</p>
<p>Mari lawan takut salah dengan mempublikasikan tulisan, dan dari situ belajar, menapak tulisan agar tidak salah. Salah adalah jalan menuju betul. Mari lakukan, dan dari situ tancapkan percaya diri alias PD. Tidak PD kok dipelihara dengan bangga. Aya-aya wae.</p>
<p>Bagaimana menurut Sampeyan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://webersis.com/2010/08/17/kiat-menulis-8-takut-salah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
