Archive for the ‘Revolusi Menulis’ Category

Memahat Malam

Sunday, August 17th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas MALAM ini, Ya Yang Mahabijaksana, seperti pada ribuan malam-malam, mata jantung kalimah jiwa. Tak pahamlah hamba, namaMu ditoreh, entah dalam benar atau kesesatan. Berburu di padang dalam, menebar mimpi dalam nyata. Lubuk hati memahat malam. Menggapai RidhoMu labuhan ingin.   Tarian jemari memabukkan, menganyam lidah pada huruf, talian diksi ...

Membangun Kebiasaan

Thursday, August 14th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbbas MENULIS mudah, bisa jadi berarti, terampil menulis sebagai buah latihan. Tidak ada orang yang fasih menulis sejak sebelum lahir. Menulis menuangkan pikiran ‘melalui’ kata-kata. Semakin terbiasa menulis akan semakin mudah menulis.   Menulis sebagai produk akhir rangkaian berpikir tidak terjadi serta-merta. Ada rangkaian proses sebelum tulisan menjadi. Pembiasaan yang ...

Nikmat Sibuk Nyamannya Menulis

Monday, August 11th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas SUATU kali saya disulang seseorang: “Sampeyan pantas saja mudah menulis, banyak punya waktu. Kalau saya, pulang dari kantor capek. Sehariaan banyak acara yang harus dihadiri”.   Dalam berkehidupan wajar saja sibuk. Waktu memang terbatas, dan waktu tidak berdusta. Pantas Khairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Hanya saja, setelah ...

Membodohi Otak

Sunday, August 10th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas SEMANGAT menulis menggebu-gebu. Bacaan memadai. Pengalaman hebat dan cukup. Kerja otak bagus. Sehat rohani dan jasmani. Tetapi, mengidap ‘penyakit’; menulis satu-dua alinea, dan ... stop. Padahal, kehendak menulis menancap di ubun-ubun. Tekad mantap. Menulis mandeg. Kacien dech lo.   Illustrasi derita panjang tersebut, setelah dianalisis, ternyata berbasis kebiasaan menanamkan ...

Mengetik Pikiran

Saturday, August 9th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas MENULIS Mudah, Menulis Sangat Mudah. Ya, sekalipun ada yang menyoal, bahkan mencemooh sebagai hal tidak masuk akal dan mengada-ada, setiap orang bebas bependapat. Sebaliknya, ada pula yang mengamini setelah memahami konsep Ersis Writing Theory (EWT) dan mempraktikkan, menulis memang mudah. Sangat mudah malahan. Sure.   Betapa tidak. Apa-apa yang ...

Menulislah di Otak

Friday, August 8th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas SETIAP berpikir pada hakikatnya kita menulis; menulis di otak. Apalagi, kalau pikiran mengenai sesuatu diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi ‘kesatuan’. Apabila menyimpan kosakata di memori (otak) berarti kita menyimpan konsep. Ada miliaran konsep tersimpan di memori.   Misalnya konsep Bumi, sungai, demokrasi, atau pacar. Konsep konkret atau abstrak menjadi ...

Naluri Menulis

Wednesday, August 6th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas KEPRIBADIAN manusia dibentuk atas tiga hal, pengetahuan, perasaan, dan naluri. Dalam kaitan menulis, pada bagian terdahulu, hal pengetahuan dan perasaan telah dibahas. Bagaimana dengan naluri? Apakah manusia punya naluri untuk menulis?   Secara kamusis (KBBI, 1988: 607) naluri berarti: (1)dorongan hati yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak ...

Mengasah Rasa

Monday, August 4th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas KOSAKATA rasa, adakalnya agak susah dipahami. Secara kamusis, dalam arti kelima, berarti: Pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar, dan sebagainya (KBBI: 1988: 729). Diskusi ini tidak mencampuradukan dengan pengertian ‘perasaan’ sebagai konsep psikologi.   Lagi pula dalam kaitan sharing menulis, rasa dalam menulis dimaknai sebagai pendapat ...

Mengalirkan Pikiran

Saturday, August 2nd, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas MEMBATU. Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Begitu kalimat terkenal Rene Descarter. Masih ingat patung terkenal karya Rodin? Manusia tegap menundukkan kepala melambangkan berpikir. Kita berpikir setiap hari. Tanpa berpikir kita mati dalam hidup. Berpikir penanda utama manusia.   Allah SWT Mahapemberi. Dibekalinya manusia segenggam otak bermuatan ...

Rindu Menulis

Friday, August 1st, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas TULIS. Apabila berharap sungguh-sungguh, sangat ingin, atawa rindu (menulis), tidak perlu berpanjang-panjang. Rindu menulis paling mudah direalisasikan. Syaratnya sederhana. Selama mampu berpikir, pikiran tersebut ditulis. Jadilah tulisan. Putik rindu (menulis) terpenuhi seketika. Ringkas.   Menulis menjadi susah dan rumit kalau disusah-susahkan. Misalnya, harus begini-begitu, begini-begina, dan segerobak aturan yang ...