Archive for the ‘Renungan Menulis’ Category
Saturday, May 31st, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KALAU melontar imajinasi ke zaman purbakala, bisa jadi ada kesimpulan aneh, hidup di masa itu, nyaman dan menyamankan. Alam menyediakan segala kebutuhan kehidupan. Tidak heran, berbagai gerakan, back to nature digerakkan sangat serius.
Alam nyaman, alam dahulu kala. Alam asri dengan hutan-hutan perawan, burung-burung yang bersiul, ombak jernih ...
Posted in Renungan Menulis | 56 Comments »
Friday, May 30th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KOMENTAR seorang sahabat bloger, Leah, sempat membuat saya tertawa. Pada komentar tersebut, termuat kelucuan, keseriusan, dan (mungkin) kalau dilanjutkan bisa jadi debatable. Betapa tidak.
“Waduh mending dikasih setumpuk soal mafia (matematika, fisika, dan kimia) dari pada harus memahami puisi he he”. Kosakata mafia yang berkonotasi kurang positif merujuk ...
Posted in Renungan Menulis | 13 Comments »
Thursday, May 29th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SATU diantara sekian banyak musuh menulis adalah melawan diri. Seseorang yang berkehendak menulis tidak akan menjadi kenyataan apabila tidak mampu melawan, menundukkan, dan memenej dirinya. Kalau dipadukan dengan kecanggihan alasan, maka lengkaplah ciptaan musuhnya. Tidak akan pernah menjadi penulis.
Seorang kawan, punya kebiasaan sangat jorok ... menulis tidak ...
Posted in Renungan Menulis | 14 Comments »
Tuesday, May 27th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PASTI sudah, banyak orang berkeinginan menulis. Bisa diandasi keinginan menjadi pengarang (fiksi), penulis (ilmu), atau apalah. Kalau dikaitkan dengan tujuan dakwah sampai pembelajaran, bahkan agar ‘menyakiti’ musuh hatinya, bisa berpanjang-panjang. Beragam maksud dan motif. Pada tingkat lebih teoritik, ada yang mengakatan, menulis sebagai self actualization. Bergaya ala ...
Posted in Renungan Menulis | 16 Comments »
Tuesday, May 20th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PESAWAT Lion Air seolah-olah tak kuat ‘ngerem’ badannya yang begitu besar. Kaki seolah ikut menginjak rem. Grukkkkkkkkkkkk akhirnya pelan di ujung landasan. Saya mengaktifkan HP. Beberapa SMS berebutan masuk. Membaca dan menjawab kilat. Y, n, dan c. Pakai kamus sendiri he he.
Hakim, mengaku belum pernah menjelajahi Jakarta. ...
Posted in Renungan Menulis | 12 Comments »
Saturday, May 17th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
YA, kata saya suatu kali ketika diskusi dengan seseorang, tulisan saya memang dangkal. Bahasan di permukaan, tidak dalam, tidak berbobot. Tulisan remeh temeh.
Sejatinya, terpantik untuk menulis tulisan yang mendalam (emang kolam) atau berbobot (emang kapal). Tetapi, sadar kemampuan, baru segitu-gitunya. Lalu, apakah karena itu undur menulis? Lagi ...
Posted in Renungan Menulis | 8 Comments »
Saturday, May 17th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
DAMAI di hati damai di tulisan. Hebat benar rangkaian kata-kata tersebut. Ya, kalau menulis menjadikan hati bermuatan kedamaian, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan, kenapa tidak. Kalau damai di hati menjadikan damai di pikiran bermuara damai di tulisan, tentu lebih baik. Tidak ada salahnya to.
Minimal jalan katarsis. Minimal pula tulisan ...
Posted in Renungan Menulis | 10 Comments »
Saturday, May 17th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SERING kali, apabila menulis, mulai dari mula sampai menjadi, kita dihinggapi keragu-raguan. Apakah tema tulisannya benar, isinya pas, sajiannya bagus, atau diterima apa tidak oleh pembaca. Syubhat alias keragu-raguan tentang tulisan, wajar saja. Bahkan, syubhat pada takaran tertentu bisa jadi kekuatan.
Saya ingat kuliah-kuliah awal dimana Pak Dosen ...
Posted in Renungan Menulis | 5 Comments »
Friday, May 16th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
AGITASI, boleh pula dikatakan provokasi, melalui media cetak, arena seminar, pelatihan, dan terutama (belakangan) melalui www.webersis.com nampaknya sudah saatnya bergeser bingkai. Kalau sebelumnya lebih kepada motivasi, yang penting menulis dulu, kini beralih setapak demi setapak, bagaimana menulis yang nyaman; nyaman dibaca oleh pembaca tentunya, he he.
Hal ini ...
Posted in Renungan Menulis | 13 Comments »
Thursday, May 15th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MAHATMA Gandhi pejuang cerdas dan tangguh Tanah Hindi nampaknya melihat, perjuangan kehidupan adalah perjuangan ‘penyelamatan’ kemanusian, dan bahkan perkebinatangan. Sesama makhluk Sang Mahapencipta jangan menyakiti, apalagi membunuh. Menggunakan kekerasan tabu. Bapak kemanusian berkesederhanaan tersebut sungguh merasuk jiwa.
Tentu Gandhi anti penjajahan. Namun, dalam melawan penjajah bukan harus dengan ...
Posted in Renungan Menulis | 17 Comments »
Wednesday, May 14th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SAYA bukan ambisius, kata seorang teman ketika mengutarakan keinginan menjadi Kepala Daerah. Mau ambisius atau tidak terserah. Banyak orang memahami kosakata ambisius berkonotasi negatif. Kalau berambisi, berkeinginan keras mencapai sesuatu, nyaman secara sosial. Berambisi bagus, ambisius tunggu dulu.
Bila seseorang berambisi menulis tentu bagus. Sebab, keinginan yang kuat ...
Posted in Renungan Menulis | 15 Comments »
Tuesday, May 13th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENULIS sangat mudah. Kalau ingin menulis, tulis saja. Kalau belum lancar, terus menulis, lama-lama terbiasa. Kalau sudah terbiasa, pasti lancar. Intinya lakukan. Jangan akan. Akan, menulis anu, dan anu. Tulis. Pasti jadi tulisan.
Masih ingat karya Bobbi DePorter, Quantum Learning, Quantum Teaching, Quantum Business atau karya Colin Rose ...
Posted in Renungan Menulis | 18 Comments »