Archive for the ‘Renungan Menulis’ Category
Monday, June 16th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SUNGGUH kata seorang yang sharing menulis, Si Anu itu Pak ai, baru menulis satu dua tulisan yang dimuat di media cetak, sombongnya luar biasa. Kayaknya, dia saja yang paling pintar di dunia ini.
Bagus, kata saya. Yang penting dia menulis. Soal mau sombong, sok, atau menggurui, soal lain. ...
Posted in Renungan Menulis | 9 Comments »
Sunday, June 15th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PENULIS juga manusia. Ya, iyalah. Pasti. Penulis bukan binatang. Konon, satu perbedaan antara manusia dan binatang pada kemampuan menulis. Jangan pula sampai ada kesimpulan, manusia yang tidak (mampu) menulis sama dengan binatang. Itu ngawur namanya.
Penulis juga manusia. Pasti itu. Manusia, seperti juga binatang, bisa marah. Kalau manusia ...
Posted in Renungan Menulis | 13 Comments »
Friday, June 13th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SEMOGA Allah SWT memelihara hati dan pikiran kita. Semoga Allah SWT menuntun hati dan pikiran Sampeyan ke jalan yang benar, perilaku tidak menyimpang, dan selalu berbuat konstruktif. Amin.
Tiba-tiba ada ‘teguran’ di palung hati: “Hai, Ersis. Apakah menulisanmu on the track?”. Saya tidak mampu menjawabnya, namun tersadar, akan ...
Posted in Renungan Menulis | 17 Comments »
Thursday, June 12th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM semakin larut. Hujan rintik-rintik. Suara jangkrik sayup-sayup ditingkahi pekikkan kodok, harmoni nyaman di telinga. Kegairahan malam terundang. Pekik sorak pendukung Jerman di Piala Eropa mengoda semangat. Sedotan kopi hangat memacu andrenalin. Jari-jari semakin lincah menari di keyboard komputer.
Huruf demi huruf tergabung, kata demi kata tersusun, membentuk ...
Posted in Renungan Menulis | 15 Comments »
Monday, June 9th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM itu saya dikagetkan dengan kedatangan seorang teman. Dia dosen PTN berpredikat akademis Doktor. Saya persilahkan duduk sementara saya menyelesaikan tulisan. Tanggung. Saya tidak terbiasa menunda artikel, setelah selesai baru beraktivitas lain.
Setelah isteri menyuguhkan kopi, kami ngopi bareng. Ndilalah, dia tidak sabar. Nyerocos bercerita betapa tulisannya di ...
Posted in Renungan Menulis | 16 Comments »
Sunday, June 8th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KOPYOK, sebut saja begitu namanya, kalau ditinjau dari pola pikir yang dituangkan pada tulisannya cukup bagus. Potensi dan kapasitas menulisnya cukup menjanjikan. Hanya saja, perkembangan kepenulisannya belakangan kurang bagus. Ada apa?
Teman-teman seangkatannya sharing menulis sudah lebih lancar, bahkan beberapa orang sudah menulis buku. Si Kopyok, yang semula ...
Posted in Renungan Menulis | 12 Comments »
Thursday, June 5th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KETIKA suasana hati suka, dalam keadaan baik, rasa puas dan lega mengayuti, adalah kondisi nyaman melakukan apa saja. Begitu sih teorinya. Kalau dalam teori menulis ‘purbakala’, kira-kira lagi mood, in the mood.
Dalam beberapa buku saya, teori tersebut telah disoroti dan memplesetkan menjadi belenggu. Menulis kalau lagi mood. ...
Posted in Renungan Menulis | 22 Comments »
Wednesday, June 4th, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HIDUPKU berjalan datar-datar saja, kata seseorang. Hidup kog berjalan, mana datar pula, emang marmut, emang lapangan sepakbola?, sulang seseorang. Ya, sudahlah, kita tidak mendiskusikan hal-hal kebahasaan.
Tidak ada hidup yang monoton. Irama kehidupan sangat lincah. Ibarat waktu, kita hidup dalam lintasan waktu. Kemarin tidak sama dengan hari ini ...
Posted in Renungan Menulis, Umum | 10 Comments »
Monday, June 2nd, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HIDUP dan kehidupan, bak roda pedati, begitu amsal lama. Kalau roda lagi di bawah, tabahlah. Tidak mungkin selamanya. Minimal mengambil pelajaran bagaimana rasanya hidup di bawah agar jangan di bawah terus.
Ibarat kata, saat-saat menderita, jadikan ‘obat jiwa’, medan memperkuat diri. Orang-orang menderita, biasanya kuat. Pelajari sejarah orang-orang ...
Posted in Renungan Menulis | 14 Comments »
Sunday, June 1st, 2008
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
(Tulisan ini saya tulis dalam 10 menit sembari diskusi)
PELIT? Pelit berarti terlampau hemat, kikir. Kalau ada teman yang maunya menerima saja, tidak mau berbagi, itu namanya kikir alias pelit. Pelit, kalau dikaji, bisa jadi berurusan atau berpangkal pada masalah kejiwaan.
Contoh sederhanya begini. Dalam berteman, ada teman yang ...
Posted in Renungan Menulis | 17 Comments »