Archive for the ‘Puisi’ Category
Wednesday, October 28th, 2009
Takkan kukatakan apa pun
monopoli pekak terurai sudah
takkan kuletakkan apa pun
mata ikan melotot tak memandang
takkan kunyanyikan syair apa pun
senandung kehilangan makna
Menyelam pelukan dungu
kealfaan dendang tak bermuara
lalu, kenapa harus kutorehkan kata-kata
saat makna terkubur di ujung galah
menusuk hati membungkas jantung
merenggut ada dan tiada
tak beraturan di ujung pedangmu
Ah, sudahlah
malam semakin larut
senyum Bulan membunuhi parau
gagak ...
Posted in Puisi | 2 Comments »
Tuesday, September 1st, 2009
Ketika kerinduan semakin liar
ketika bebal dahaga merindu-rindu
ketika bilahan madat hampa
ketika kepala tergeletak pasrah merayu nun 2000 m
batin menyambar aura
Ketika air nurani menyelam pori-pori
telapak tangan meminta-minta
merenggut kuasa ampun
jiwa yang terdenda sejarah
berserah, utuh
Kesunyian ini bakulan intan
kutukan bodoh membutakan
jarak tak berwatas tak bermakna
luluh di sajadah panjang
hanya ampunMU
Ya Rabb
UPI Dormitory, 516, Bandung, 1 September ...
Posted in Puisi | 1 Comment »
Monday, July 13th, 2009
Malam ini kasih
langit biru di hati
kedipan bintang detak jantung
awan malam menari-nari
membisikan dawai-dawai pesan
Bulan mengintip rasa
pelukanmu semakin dalam semakin membakar
melumat ingin meremuk rindu menuai badai
saat nafas memburu jarak
berpacu melindas syahdu
masih adakah rumit yang tersisa
Ketika sajadah dibentang
sayup-sayup deru hati berdendang
terlindas kalimah
Alhamdulillah
Posted in Puisi | 5 Comments »
Thursday, June 25th, 2009
Di tepian ini
hiruk-pikuk dipungut dari relung-relung
teriak tawa nada-nada kembara
menjauh dari rengutan negeri
ketika kemerdekaan berasa
Di tepian ini
bibir dataran air di sudut Pekan Betawi
sinaran menyilaukan, membutakan ...ah
di bilik yang terkunyah
seyum terkubur batin-batin yang teriris
antrian bebek mengecap dunia
Di tepian ini
mentari mengirim pesan
berbgi dengan rembulan
menggapai dawai-dawai jiwa renyah
ketetentuan ditorekan
Di tepian ini
menyeruak dalam-dalam
Dia di sini ...
Posted in Puisi, Umum | 7 Comments »
Saturday, May 30th, 2009
Titik-titik melupa koma
gelombangnya menanami Bumi
memancang jembatan
membasuh menyiram makna
merengut-rengut getaran hati
persahabatan tak berpenghujung
Kau takkan pernah memaknai kata
ketika kata menjadi pedang
kau takkan pernah menanam kata
ketika kata menjadi hadiah
kata adalah
hamparan AsmaNya
Menulis kata
menulis jiwa
menulisNya
Titik-titik
taman kehidupan
Banjarbaru, 31 Mei 2009
Posted in Puisi | 10 Comments »
Tuesday, May 12th, 2009
Tetegun
kuas-kuas disapukan
tergeletak kedunguan
hidup adalah perjuangan
menatap
menjemput amanah pada derap-derap langkah
menggapai RidhoMU
Posted in Puisi | 14 Comments »
Sunday, April 19th, 2009
Buhul rindu menganga
lambaian kasmaran mengetuk jantung
mengeliat dalam jari-jari
pergumulan menghapus kenangan
pelukan bengis
ketika nikmat membuang rasa
Dekapan semakin dalam
persuaan memamah
luluh lantak
air liur menetes
membahasi dengkur
malam itu
Banjarbaru, 19 April 2009
Posted in Puisi | 15 Comments »
Monday, March 23rd, 2009
SinarMu menusuk jantung nikmat
ketika penjara hijrah mengcekem
ketakberdayaan mengantar harap
lipatan awan berarak mozaik terindah
kebodohan menjadi milikku
melipat alfa yang berkepanjangan
Kau mencubit di lubuk jiwa
menghantar ingat
bahwa aku ada karenaMu
di hamparan tanda-tandaMu pada cakrawala
tepi tiada berujung
terlalu lama lena membelit
kasihMu phantom kebebasan
Di sini, 30.000 di pundak Laut Jawa
Kau hidangkan sajian penyadaran
menikmat diri melalui tanda-tandaMu
Ya, Rabb
Atas ...
Posted in Puisi | No Comments »
Friday, January 16th, 2009
air mata kering di sumurnya
tergadai ulu jiwa
kata-kata kehilangan makna
seruan tak berbekas
dunia tertinggal
Pemusnah mencabut apa saja
di jalan di gedung di terowongan
hanya Allah labuhan derita
Wahai derita
hanya itukah milik kita?
Banjarbaru, 16 Januari 2009
Posted in Puisi | 20 Comments »
Tuesday, January 6th, 2009
Wajah-wajah itu, meringgis
wajah-wajah itu, membeku
anak-anak Palestina kita
merobek qalbu menikam duka ulu hati, pilu
kabut peluru punahkan
di jidatmu
Masih berhakah kita tertawa dalam bahak
memamah fasfood belalak mata melahap tayangan dusta
ketika hati dirampok injak
kesengsaraan abadi di kedungunan kisah
teriak, dan berteriak
sampai ke neraka
Wahal angin nan lalu, gelombang ganas
bangunkan kami
tank-tank, Uzi, dan raunagan burung dara
ubur-ubur bila ...
Posted in Puisi | 58 Comments »