Archive for the ‘Novel’ Category
Monday, February 23rd, 2009
MENUNGGU
SUGIANTIL duduk santai sambil berbincang-bincang ringan dengan istrinya setelah shalat Zuhur di ruang tengah. Keputusannya telah bulat, tidak mau lagi membeli batubara dan intan illegal PT CMC. Percakapan tiga hari lalu dengan Goerge Mital, Benson, dan Alonso buntu. Ketiga Orang Asing itu mengancam. Sugiantil tidak mau lagi diperalat, PT Baulay ...
Posted in Novel | 4 Comments »
Saturday, February 21st, 2009
BATU CEMPAKA
RAPAT dadakan di Markas Gerilya siang itu tegang. Lawe, Pekonina, Lundang, dan Rawang bersikeras melaporkan penculikan Panai ke pihak berwajib sekaligus hasil investigasi tentang PT CMC. Sigintir, Miabu, Alex dan Jupri meng-Ok dengan prinsip ‘Operasi Kelelawar” tetapi dilakukan. Persiapan sejak jauh hati sudah matang untuk menghadapi segala kemungkinan. ...
Posted in Novel | 9 Comments »
Friday, February 20th, 2009
PENCULIKAN PANAI
PAGI hari Senin itu di lapangan Murdjani Banjarbaru tidak terlalu banyak warga kota berolahraga pagi. Kalau pada hari Sabtu, apalagi hari Minggu, penuh sesak. Pada hari-hari biasa, mereka yang berolahraga pagi adalah mereka yang menjadikan olahraga bagian dari kehidupan, demi menjaga kebugaran. Bagi kelompok ini, tiada hari tanpa olah ...
Posted in Novel | 8 Comments »
Tuesday, February 17th, 2009
MENANAM MERATUS
PERISTIWA menjelang fajar membekas dalam. Tapi, mereka tidak punya waktu membicarakannya. Sehabis shalat Subuh langsung melakukan kegiatan pagi sementara petugas dari Dinas Kehutanan sibuk mengangkut bibit pohon ke area penanaman. Para petugas sangat telatih. Sigap. Setelah Lawe dan kawan-kawan selesai sarapan, distribusi bibit pohon sudah sampai pada ujung dataran.
Lawe ...
Posted in Novel | 11 Comments »
Tuesday, February 10th, 2009
SERGAPAN SUBUH
MALAM di Mandiangin dingin. Dingin sekali. Jaket parasut Lundang tidak banyak menolong. Kain sarung dan sajadah yang dililitkan di sekujur badannya agak membantu, tetapi tidak menghilangkan dingin. Dengkur Sigintir yang berirama keras membuatnya susah tidur. Tidur sebentar, dan terbangun. Tidur, bangun lagi. Tidak pulas.
Lundang melirik jam tangannya. Pukul 04.30 ...
Posted in Novel | 20 Comments »
Tuesday, February 10th, 2009
TAHURA SULTAN ADAM
SABTU pagi itu Banjarbaru mulai hangat disapa lembut matahari. Asap menghilang. Bulan November hujan semakin rajin mengguyur. Dapat dipastikan, bulan Desember banjir menyapa yang mencapai puncaknya pada Bulan Januari di Tahun Baru. Di langit, awan putih bak gumpalan kapas pemalas yang enggan beranjak mulai berarak. Awan membentuk puzzle ...
Posted in Novel | 7 Comments »
Tuesday, February 10th, 2009
DENSIKO
MATAHARI siang itu tidak terlalu menggigit. Hujan masih belangan kambing. Lawe, melonjorkan kakinya di taman belakang kampus UPB. Aneka pohon khas Kalimantan yang tertata rapi menjinakkan panas sinar mentari. Pikirannya tersedot ke Pekonina. Seminggu sudah, sejak mereka ke Mandiangin, Pekonina tidak muncul-muncul. Tidak ke kampus, tidak ke Markas Gerilya. HP ...
Posted in Novel | 6 Comments »
Monday, February 9th, 2009
DANAU CINTA
LAWE dan Sigintir mengikuti Sugiantil ke ruang tengah, terus ke belakang. Ada dua pilihan, berwudu’ di dalam rumah ---ada kamar mandi dimana disitu berwudhu’--- atau di luar rumah. Mereka memilih tempat wudhu’ khusus di luar. Lawe menuju WC, kantong kemihnya menagih. Sehabis itu ke pancuran ledeng. Eit ... matanya ...
Posted in Novel | 11 Comments »
Sunday, February 8th, 2009
PROFESOR KANCIL
LAWE memacu motor gedenya di jalan Cokrokusumo arah ke Pelaihari. Sepuluh menit kemudian belok kiri. Perumahan Graha Citra Persada dilalui, lekukkan seksi zigzag apitan dua bukit mengantar sensasi berkendara. Ke kiri, ke kawasan Dodiklatpur Rindam Tanjung Pura. Di persimpangan jalan ke Sungai Abit dan wilayah Transito, Lawe memacu kendaraan ...
Posted in Novel | 15 Comments »
Saturday, February 7th, 2009
MANDIANGIN
SEJUK udara Mandiangin menyambut Lawe dan Pekonina. Angin sepoi-sepoi basah. Mereka betul-betul mandi angin. Pohon pinus mendominasi areal Wisata Mandiangin. Ada aneka pohon asli Kalimantan sekalipun kurang terawat. Kantor pengelolaan Wisata Mandiangin dikepung ilalang dan tumbuhan liar. Lantainya bertanah, dedaunan membusuk bergabung. Atapnya bolong-bolong.
Lawe mengajak Pekonina menaiki undakan Taman Mandiangin. ...
Posted in Novel | 24 Comments »