Archive for the ‘Novel’ Category

Novel: Lolo (6.2)

Monday, May 12th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas Sesuai kesepakatan, dalam menunaikan tugas, soal cara urusan masing-masing. Yang penting, tugas dijalankan. Lolo mendatangi lagi PT TAR. Tetap ditolak. Sekalipun demikian, Lolo mendapat sedikit celah. Lebih mengenal represionis perusahaan, Panai. Gadis cantik asal Marabahan.   Celah itu dimanfaat sempurna. Lolo mendatangi tempat kos Panai. Diterima setengah hati. Bahkan, ...

Novel: Lolo (6.1)

Monday, May 12th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas MALAM ITU. Lolo tersandar lemas. Pikirannya mengawang. Hatinya gundah. Kiriman dari kampung tidak kunjung datang. Bapaknya, Lurah Kelurahan Gempol, tanpa sebab yang jelas ---menurutnya--- diperiksa kejaksaan, dan dijebloskan ke Hotel Pordeo. Kasusnya penggelapan uang Bantuan Tunai Langsung (BTL). BTL sebagai kompensasi kenaikan BBM untuk rakyat kecil. Kasus ...

Novel: Laboratorium (5.2)

Monday, May 5th, 2008

Wajah Alai, gadis Landasan Ulin yang kuliah di jurusan Tehnologi Nuklir Universitas Banjarbaru hadir di pikiran. Suatu kali, Lundang bersama teman-temannya makan siang di RM Bundo Kandung. Mereka baru saja menghadiri seminar “Penggunaan Briket Batubara untuk Energi Rumah Tangga”.   Lundang ingat benar. Laweh yang sudah SMS-an dengan Pekonina, membawa empat temannya. ...

Novel: Laboratorium (5.1)

Monday, May 5th, 2008

MALAM ITU. Kedatangan Gintir, ditambah Pekonina, membuat Markas Gerilya menjadi semarak. Begitu biasanya. Kini, suasana berbeda. Tujuh Pendekar nampaknya pada, gimana gitu. Pengaruh peristiwa siang tadi masih membekas dalam. Mereka mencerna di pikiran masing-masing.   Lundang murung. Menerawang. Ingatannya terfokus pada perannya sebagai 007 Tujuh Pendekar. Semester lalu, saat kuliah di semester ...

Novel: Cempaka (4.2)

Monday, May 5th, 2008

Gintir ke parkir sepeda motor. Pak Tayeh mengikuti. Sepeda motor melaju ke arah Pelaihari. sepuluh menit kemudian Gintir membelokkan sepeda motor ke kanan, naik bukit Liaran kantor Camat Cempaka. Dari situ, area penambangan intan dan kota Banjarbaru terlihat sangat jelas.

Novel: Cempaka (4.1)

Monday, May 5th, 2008

MALAM ITU. Gintir kaget. Begitu sadarnya tersentak, sudah di persimpangan jalan Soekarno-Hatta. Jalan terlebar di Banjarbaru. Jalan itu dibangun atas inisiatif Walikota Banjarbaru. Belum ada perumahan, belum ada perkantoran. Jalan selebar 50 meter itu membelah kota Banjarbaru diproyeksikan untuk pengembangan Banjarbaru tahun 2020.

Novel: Pekonina (3.2)

Sunday, May 4th, 2008

Pekonina sebenarnya bukan orang lokal. Ibu dan Bapaknya berasal dari Sumatera Barat. Tepatnya, Solok Selatan. Kalau bercerita tanah kelahirannya,  Pekonina bersemangat, sebersemangatnya Pendekar Tujuh mendengar.   Kalau ke Padang, melalui Minangkabau Airport, atau pelabuhan Teluk Bayur, kita hanya disuguhi satu hal, keindahan alam. Minangkabau Airport, bandara baru pengganti Tabing, terletak di bibir ...

Novel: Pekonina (3.1)

Sunday, May 4th, 2008

SENJA ITU. Lawe, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, Balun, dan Gintir kembali dari sholat Magrib. Rupanya, Bangko, Supir Sungai Pagu, sudah menunggu di teras rumah. “Assalamualaikum. Pada dari langgar, nich?” “Yoi”, Balun menyalami Bangko diikuti yang lain. Sekalipun bukan Muslim, dia sudah in budaya Islam. Sejak menjadi polisi, Bangko bertugas di Kalsel. “Apaan ...

Novel: Markas Gerilya (1.2)

Sunday, May 4th, 2008

Akhirnya Suliki membicarakan dengan Lawe. Anaknya yang tengah belajar di FPMIPA jurusan molekuler Universitas Banjarbaru. Lawe sangat tertarik ‘cerita’ Bapaknya.   Lawe memutar otak. Menjadikan rumahnya tempat kumpul-kumpul. Deposito yang ditinggalkan Bapaknya cukup untuk membiayai hidup ketujuh temannya. Begitu juga untuk membeli buku. Buku Ikwanul Muslimin, Meinkamf, serial Che Guevara, sampai karya ...

Novel: Markas Gerilya (2.1)

Sunday, May 4th, 2008

SENJA ITU. Lawe, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, dan Balun naik mobil dinas Kapolres Sungai Pagu. Berdiam diri. Tidak ada yang membuka suara. Mobil melaju kencang. Dalam 20 menit sampai di kawasan Ratu Elok.  “Kami turun disini saja, Bang”.  “Kita makan, dulu”.  “Terima kasih, Bang”  “Ayolah. Aku belum makan. Tadi ada rapat di Polda ...

Novel: Merah Putih (1.2)

Saturday, May 3rd, 2008

Tiba-tiba, konsentrasi mahasiswa terpecah. Sepuluh truk polisi berisikan pasukan Dalmas, lengkap dengan tameng dan pentungan, berhenti. Dalam hitungan detik, pasukan terlatih tersebut mengambil posisi. Berbaris, membuat lingkaran. Ujung lingkaran merangsek pagar PT KAR.

Novel: Merah Putih (1.1)

Saturday, May 3rd, 2008

SIANG ITU. Go. Go. Go. Sorak sorai menggelegar. Campur aduk dengan raungan gas sepuluh truk dan ratusan sepeda motor. Asap mengepul. Menyumbat hidung menyesakkan nafas. Lapangan Murjani di alun-alun Balaikota Banjarbaru bak suasana perang. Para PNS berseragam buggi terbengong-bengong.