Archive for the ‘Muaralabuh’ Category

Muaralabuh my Reading

Thursday, June 21st, 2007

Ada yang bertanya, mengapa aku membawa Erwin D. Nugroho, pemimpin redaksi Radar Banjarmasin ke Muaralabuh. Dia sahabatku. Kami menghabiskan hari-hari bersama. Dia ‘orang besar’, punya ‘kekuasaan’, dan aku penulis. Di korannya aku menulis ratusan artikel. Tetapi, yang paling menjadi penarik, dia suka baca buku. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Kini ...

Muaralabuh my First Love

Thursday, June 21st, 2007

As. WW Salam kenal uda Ersis. Awak Urang Muarolabuah juo, kini di Kotobaru, Kalimantan Selatan. Awak jauah dibawah uda, kalahiran tahun 66. Mambaco tulisan Uda tantang Muarolabuah bakaco-kaco mato awak ... lah lamo indak pulang … taubek hati awak mambaco nyo …awak minta lanjuikan tulisan Uda tu … kalau bisa jadi ...

Muaralabuh my Memories

Saturday, June 2nd, 2007

PULANG kampung adalah saat-saat paling menyenangkan, menyentuh, mengharubiru bagi perantau. Menapaktilas perjalanan kehidupan. Sebagai anak kampung, Muaralabuhku adalah identitas itu sendiri. Dari situlah semuanya bermula sebelum mengharungi hidup di perantauan. Jakarta, Jogja, Bandung, dan menetap di Banjarbaru.

Muaralabuh My Inspiration

Saturday, June 2nd, 2007

MENAKJUBKAN. Sebenarnya soal kebun teh bukanlah hal baru dan terlalu mencengangkan. Erwin yang rajin berkelana ke berbagai daerah nusantara dan mancanegara tentu telah melihat yang serba lebih. Apalagi bagiku. Ketika enam tahun di Bandung hampir tiap bulan ketika ke Jakarta bersirobok dengan kebun teh di Puncak atau di banyak tempat ...

Muaralabuh My Hope

Friday, June 1st, 2007

  JUJUR saya tidak terlalu hapal wilayah Muaralabuh apalagi kabupaten Solok Selatan. Ketika kecil sering memang ke Pekonina, daerah perkebunan, atau ke Padang Aro. Yang lengket di memori, ya bentangan perkebunan dengan hutan perawan. Udara bagus bersih masuk paruh-paruh dengan aman. Pokoknya nikmat nian.

Muaralabuh My Dream

Tuesday, May 22nd, 2007

  BEGITU mobil bergerak meninggalkan Sigintir, siang itu, mata Erwin nampaknya terpuaskan. Betapa tidak, Muaralabuh yang ibarat mangkok dikelilingi perbukitan dengan hutan (yang nampaknya) masih perawan membuat decak kagum. Aku mulai memberikan keterangan agak panjang lebar. Betapa tidak, inilah desa kelahiranku disaat terjadinya peristiwa PRRI/Permesta.

Muaralabuh My Kampoong

Monday, May 21st, 2007

TERUS terang aku anak kampung. Lahir di atas bantaran bukit barisan yang membelah pulau Sumatera. Rindu pada kampung adalah rindu jiwa tak bertepi. Keluarga, kampung, begitu juga teman-teman, dan segala kenangan sedari kecil adalah kehidupan itu sendiri. Kita tidak bisa hidup tanpa rantai masa lalu karena dari situlah perjalanan berawal. ...