Archive for the ‘Menuliskan Pikiran’ Category
Saturday, September 5th, 2009
TERJAGA. Gempa yang menguncang Jawa Barat dan sekitarnya, dimaknai sebagai fenomena alam di luar kemampuan manusia. Begitu pula gempa sebelumnya yang meluluhlantakan Jogjakarta-Jawa Tengah, atau yang lebih dahsyat disusul tsunami yang melumatkan Aceh dan beberapa kawasan Sumatera Utara.
Tidak diragukan lagi, gempa yang merenggut nyawa, harta benda, dan terutama pikiran dan ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 15 Comments »
Thursday, September 3rd, 2009
TAUBAT. Pernah, semalaman merenung lakonan kehidupan. Simpulannya: Menyia-nyiakan potensi berian Allah SWT, tidak pandai bersyukur, apalagi ‘mengabdi’ pada asal-muasal diri. Sejak itu, gelombang paksaan agar taubat menghantam ulu jiwa menghujam diri. Berhasil?
Ya, dalam tataran ingin. Tapi, masih sangat jauh pada tindak. Artinya, jarak antara pemaknaan pemahaman dengan pola tindak lakuan ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 4 Comments »
Thursday, September 3rd, 2009
NONTON. Bandung, Rabu, 2 September 2009. Bangun pagi, karena tidak ada kuliah, pagi diisi dengan membaca dan menulis. Sekitar pukul 10.00 Makrupul Kahri menjemput. Dari UPI Dormitory ke jalan Geger Kalong Girang, No. 23, ‘calon’ tempat kos seharga Rp.8 juta per tahuan berukuran sekitar 3x5 meter. Ternyata belum dicat ulang ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 1 Comment »
Wednesday, September 2nd, 2009
TERTIDUR. Bangun ... Sahur ... Begitu biasanya SMS Istri kalaulah tidak menelepon, tiap menjelang waktu sahur. Di lantai 5 UPI Dormitory yang berbayar Rp.125 ribu per malam, dari pukul 02.00 dini hari pengingatan sahur dikumandangkan. Harap maklum, ratusan perawat dari seluruh indonesia, selama empat bulan, dikursus bahasa Jepang. Mereka akan ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 4 Comments »
Saturday, August 29th, 2009
LIBUR. Mencermati, bahkan bisa pula dalam tatapan selayang pandang, setidaknya ada dua cara memandang aktivitas di bulan Ramadhan.
Pertama, Ramadhan bulan mulia, karena itu harus ‘dihormati’, dan karena itu pula, segala tindak harus fokus menjalani Ramadhan. Kalau perlu aktivitas dibatasi. Sampai-sampai, Ramadhan yang sangat positif melatih ‘anak didik’, justru sekolah diliburkan. ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 4 Comments »
Friday, August 28th, 2009
SANGSI. Masuk kamar, ambil sebotol air mineral, kalau perlu sandingkan dengan pisang atau makanan ringan. Mensahabati lapar, memuaskan dahaga, dalam kamar sendirian, bisa jadi mengatasi kendala kebutuhan fisik bagi yang enggan berpuasa. Bahkan, seolah-olah, bisa menipu anak, mertua, atau tetangga. Tapi, sebenarnya siapa yang tertipu?
Diri sendiri. Berpuasa dalam arti memenej ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 3 Comments »
Thursday, August 27th, 2009
TARAWIH. Sebagai perantau, dilanda homesick tentunya agak lucu. Lagi pula, baru seminggu berpisah dengan keluarga. Padahal, bulan Juli 2009, lebih banyak ke luar. Tiga kali ke Bandung, dua kali ke Padang, dan beberapa kali ke Kotabaru. Kalau di Banjarbaru, acara seabreg-abreg. Dari menguji skripsi sampai mengelola seminar dan menerbitkan media.
“Pak, ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 2 Comments »
Wednesday, August 26th, 2009
LETIH. Para pemain piala dunia itu, entah dari Mesir atau Maroko, dengan keyakinan penuh sebagaimana tercermin dari wajah-wajah mereka, memasuki lapangan. Tidak dapat tidak, sesuatu yang menyelinap relung hati dalam tanya: Berpuasa dan bertanding bola tingkat dunia?
Saya sudah lupa pada Piala Dunia tahun berapa. Yang pasti menonton ‘anak-anak Muslim’ bertanding ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 5 Comments »
Tuesday, August 25th, 2009
TERTIB. Mentari semakin menurun, cahanya meredup, sengatannya tidak lagi membakar tubuh. Angin sore berembus sepoi-sepoi. Kulit merasakan kiriman nikmat, kepala menikmat lempang, perasaan ternyaman, dan ... kalimah Allah berkumandang dari corong-corong gema mesjid. Magrib menjelang.
Satu per satu-satu jamaah datang. Mesjid mulai dijubeli orang beriktikaf. Al-Quran dibaca, shalat ditunaikan, doa-doa dipanjatnya. ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 3 Comments »
Monday, August 24th, 2009
SALAH. Tidak seorang manusia pun, baik pada dirinya, sesama manusia, kepada Pencipta, steril dari kesalahan. Bulan Ramadhan pernuh berkah, adalah bulan bertabur maaf. Meminta maaf dengan taubat kepada Allah SWT adalah hal paling pas di bulan Ramadhan. Kepada Ibu-Bapak, anak-isetri, keluarga, tetanga, kenalan, dan seterusnya, jadikan Ramadhan sebagai juadah maaf. ...
Posted in Menuliskan Pikiran | 8 Comments »