Archive for the ‘Menuliskan Pikiran’ Category

Gempa Memanah Guncangan (6.3)

Saturday, September 5th, 2009

TERJAGA. Gempa yang menguncang Jawa Barat dan sekitarnya, dimaknai sebagai fenomena alam di luar kemampuan manusia. Begitu pula gempa sebelumnya yang meluluhlantakan Jogjakarta-Jawa Tengah, atau yang lebih dahsyat disusul tsunami yang melumatkan Aceh dan beberapa kawasan Sumatera Utara. Tidak diragukan lagi, gempa yang merenggut nyawa, harta benda, dan terutama pikiran dan ...

Gempa Spritual (6.2)

Thursday, September 3rd, 2009

TAUBAT. Pernah, semalaman merenung lakonan kehidupan. Simpulannya: Menyia-nyiakan potensi berian Allah SWT, tidak pandai bersyukur, apalagi ‘mengabdi’ pada asal-muasal diri. Sejak itu, gelombang paksaan agar taubat menghantam ulu jiwa menghujam diri. Berhasil? Ya, dalam tataran ingin. Tapi, masih sangat jauh pada tindak. Artinya, jarak antara pemaknaan pemahaman dengan pola tindak lakuan ...

Gempa Penyadaran (6.1)

Thursday, September 3rd, 2009

NONTON. Bandung, Rabu, 2 September 2009. Bangun pagi, karena tidak ada kuliah, pagi diisi dengan membaca dan menulis. Sekitar pukul 10.00 Makrupul Kahri menjemput. Dari UPI Dormitory ke jalan Geger Kalong Girang, No. 23, ‘calon’ tempat kos seharga Rp.8 juta per tahuan berukuran sekitar 3x5 meter. Ternyata belum dicat ulang ...

Ramdahan: Kelengahan (5.9)

Wednesday, September 2nd, 2009

TERTIDUR. Bangun ... Sahur ... Begitu biasanya SMS Istri kalaulah tidak menelepon, tiap menjelang waktu sahur. Di lantai 5 UPI Dormitory yang berbayar Rp.125 ribu per malam, dari pukul 02.00 dini hari pengingatan sahur dikumandangkan. Harap maklum, ratusan perawat dari seluruh indonesia, selama empat bulan, dikursus bahasa Jepang. Mereka akan ...

Ramadhan: Puncak Mood (5.8)

Saturday, August 29th, 2009

LIBUR. Mencermati, bahkan bisa pula dalam tatapan selayang pandang, setidaknya ada dua cara memandang aktivitas di bulan Ramadhan. Pertama, Ramadhan bulan mulia, karena itu harus ‘dihormati’, dan karena itu pula, segala tindak harus fokus menjalani Ramadhan. Kalau perlu aktivitas dibatasi. Sampai-sampai, Ramadhan yang sangat positif melatih ‘anak didik’, justru sekolah diliburkan. ...

Ramadhan: Lasuh Berpuasa, Lasuah Menulis (5.7)

Friday, August 28th, 2009

SANGSI. Masuk kamar, ambil sebotol air mineral, kalau perlu sandingkan dengan pisang atau makanan ringan. Mensahabati lapar, memuaskan dahaga, dalam kamar sendirian, bisa jadi mengatasi kendala kebutuhan fisik bagi yang enggan berpuasa. Bahkan, seolah-olah, bisa menipu anak, mertua, atau tetangga. Tapi, sebenarnya siapa yang tertipu? Diri sendiri. Berpuasa dalam arti memenej ...

Ramadhan: Membasuh Diri (5.6)

Thursday, August 27th, 2009

TARAWIH. Sebagai perantau, dilanda homesick tentunya agak lucu. Lagi pula, baru seminggu berpisah dengan keluarga. Padahal, bulan Juli 2009, lebih banyak ke luar. Tiga kali ke Bandung, dua kali ke Padang, dan beberapa kali ke Kotabaru. Kalau di Banjarbaru, acara seabreg-abreg. Dari menguji skripsi sampai mengelola seminar dan menerbitkan media. “Pak, ...

Ramadan: Berpuasa Aktivitas? (5.5)

Wednesday, August 26th, 2009

LETIH. Para pemain piala dunia itu, entah dari Mesir atau Maroko, dengan keyakinan penuh sebagaimana tercermin dari wajah-wajah mereka, memasuki lapangan. Tidak dapat tidak, sesuatu yang menyelinap relung hati dalam tanya: Berpuasa dan bertanding bola tingkat dunia? Saya sudah lupa pada Piala Dunia tahun berapa. Yang pasti menonton ‘anak-anak Muslim’ bertanding ...

Ramadhan: Kok Menunda-Nunda (5.4)

Tuesday, August 25th, 2009

TERTIB. Mentari semakin menurun, cahanya meredup, sengatannya tidak lagi membakar tubuh. Angin sore berembus sepoi-sepoi. Kulit merasakan kiriman nikmat, kepala menikmat lempang, perasaan ternyaman, dan ... kalimah Allah berkumandang dari corong-corong gema mesjid. Magrib menjelang. Satu per satu-satu jamaah datang. Mesjid mulai dijubeli orang beriktikaf. Al-Quran dibaca, shalat ditunaikan, doa-doa dipanjatnya. ...

Ramadhan: Maaf Memaafkan (5.3)

Monday, August 24th, 2009

SALAH. Tidak seorang manusia pun, baik pada dirinya, sesama manusia, kepada Pencipta, steril dari kesalahan. Bulan Ramadhan pernuh berkah, adalah bulan bertabur maaf. Meminta maaf dengan taubat kepada Allah SWT adalah hal paling pas di bulan Ramadhan. Kepada Ibu-Bapak, anak-isetri, keluarga, tetanga, kenalan, dan seterusnya, jadikan Ramadhan sebagai juadah maaf. ...