Archive for the ‘Menulis’ Category

Kebiasaan Buruk 9 : Menulis Membanding-Bandingkan

Thursday, August 26th, 2010

SEORANG pesharing berkeinginan luar biasa menulis. Ketika dia mengutarakan: “Saya ingin menulis seperti Pak EWA. Enak dibaca dan sentilannya mengena”. Mau tahu komentar saya? “Maaf Mas, Sampeyan tidak usah menjadi penulis”. Tentu saja dia terperangah. Yaps, syarat utama menjadi penulis adalah menjadi diri sendiri. Membanding-bandingkan tentu bukan hal haram. Yang haram ...

Kebiasaan Buruk 8 : Menulis Merusak Mental

Wednesday, August 25th, 2010

DASAR anggota DPR (DPR RI dan DPRD) maunya fasilitas melulu; hadir saja malas kok meminta dana ini-itu. Pemerintah tidak becus, tarik saja tabung elpiji, ledakannya tidak bisa ditolerir lagi. Apa yang dilakukan sarjana pertanian? Sebagai negara agraris kita mengimpor aneka produk pertanian paling rakus. Duh, pada kemana teknolog hasilan ratusan ...

Kebiasaan Buruk 7 : Menulis Mengeluh

Tuesday, August 24th, 2010

MENGELUH adalah alasan paling nyaman bagi pecundang. Indonesia dikesankan ---buktinya banyak he he--- negara yang sedang terdenda, ada yang mengatakan bisa menjadi Negara Gagal. Ngeri memahaminya, pilu merasakan, miris untuk sekadar dibanggakan. Tidak seorang pun rakyat negara tercinta ini menghendakinya. Keyataan adalah fakta tidak terbantah. ‘Terjemahan’ fakta bila dibawa ke wilayah ...

Kebiasaan Buruk 6 : Menulis Menimpakan Alasan

Monday, August 23rd, 2010

ALASAN paling populer yang dijadikan bemper pembenar untuk tidak menulis ... sibuk. Sibuk menyelesaikan tugas kuliah, kantor, memandikan anak, memasak, dan sebagainya. Padahal, menulis tidak ada hubungannya dengan hal-hal tersebut. Setidaknya, tidak berbanding lurus dan sepadan. Saya pernah mencandai seseorang: Loe mikir-mikir deh kalau berkata sibuk?”. Apa pasal? Saya pernah menghitung ...

Kebiasaan Buruk 4 : Menulis Menunda-Nunda

Saturday, August 21st, 2010

KEASYIKKAN membaca buku-buku praktik culas MNC, apalagi ‘provokasi’ Pengakuan Bandit Ekonomi, Jhon Perkins, plus rasa bangga atas Menkes RI Siti Fadilah Supari yang nasionalistik, dipadu kondisi obyektif daerah penambangan, gairah menulis novel memuncak di ubun-ubun. Satu-dua bab diselesaikan dalam sehari. Menulis mengalir begitu saja. Ndilalah ... atas nama tugas negara mengikuti ...

Kebiasaan Buruk 3 : Menulis Terdesak

Friday, August 20th, 2010

APABILA guru atau dosen, memberi tugas menulis, tentu dengan batas waktu pengerjaan, deadline atau tenggat. Jangankan tugas, pada dasarnya pekerjaan apa pun, ada batas waktunya. Menulis tanpa waktu awal atau akhir adalah menulis menurut kemauan sendiri. Kapan saja atau dimana saja. Setidaknya, soal kapan memulai, kapan selesai terserah yang menulis. ...

Kebiasaan Buruk 2 : Menulis Tanpa Konsep

Thursday, August 19th, 2010

KEBIASAAN jorok kebanyakan penulis (pemula), apabila melihat sesuatu yang menarik atau terpincut ketika membaca sesuatu, tanpa memahami hakikatnya, langsung menulis. Ibarat makan tidak dikunyah-kunyah dulu, langsung ditelan pluuuk. Wajar saja kalau tersedak atau terganjal di kerongkongan atau membuat lambung kepayahan memprosesnya. Menulis tanpa konsep sih. Konsep (KBBI, 1988: 456) ide atau ...

Kebiasaan Buruk 1 : Menulis di Anagan-Anagan

Wednesday, August 18th, 2010

APABILA seseorang berkeinginan menulis hal-hal hebat tentu sangat baik. Kalau menulis novel sepadan novel Laskar Pelangi Andrea Hirata, kalau menulis motivasi bak Ary Ginanjar Agustian menulis buku ESQ, menggugah perubahan ala Rhenald Kasali, Re-Code Change Your DNA, dan seterusnya. Pokoknya, membaca karya hebat-hebat, semangat menulis sehebat itu, bahkan lebih hebat, ...

Kiat Menulis 8 : TAKUT SALAH

Tuesday, August 17th, 2010

IDE sudah mantap, menulis sudah dilakukan, tulisan sudah jadi, tapi ... takut mempostingnya. Nah lho. Kalau menemukan pesharing berperilaku demikian tanpa banyak komentar dikatakan: “Mas, tulisan itu tulisan siapa? Blog itu punya siapa? FB itu milik siapa? Punya Sampeyan kan?” “Ya”, katanya pendek. “Tapi, saya tidak PD. Minder”, jelasnya mantap. “Begini ...

Kiat Menulis 7 : TAKUT BERBEDA

Monday, August 16th, 2010

SATU dari sekian ‘naluri’ manusia adalah meniru. Kalau basik pikiran bagus meniru hal-hal baik. Kalau basik pikiran ‘jorok’ yang ditiru hal-hal buruk. Wajar anak pencoleng ‘menyalin’ kehebatan mencoleng bapaknya. Anak kiai cenderung mengikuti bapaknya menjadi lentera umat. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Terlepas benarnya, ada juga anak orang baik-baik menjadi ...