Archive for the ‘Cerpen’ Category

LAILA DAN PUBER KEDUA

Saturday, May 2nd, 2009

(Menakar cerpen Laila karya Ersis Warmansyah Abbas) Oleh M. Nahdiansyah Abdi Saya membaca cerpen Laila (Radar Banjarmasin, 26 April 2009) dengan tersipu-sipu. Serasa mengalami puber kedua. Sembari dengan lugu membayangkan roman percintaan anak manusia nun jauh dari usia saya yang menanjak ini. Rasa heran bercampur kagum terbersit di benak saya, bagaimana bisa ...

Cinta Yang Tergenggam

Tuesday, March 31st, 2009

Malam melarut. ‘Hello’ Lionel Richie menyamankan rasa. Denting kenangan menyapa dawai hati. Kegundahan disapu rindu. Bintang-bintang menyiangi Bumi. Memanggil-manggil. Kuayun langkah. Menggapai Bulan. ‘Kalau Bulan bisa ngomong’, kan kukurim pesan: “Titip rindu buatnya”. “Selamat malam Uda”. “Oh”. Aku tergagap. Aku menjadi lelaki paling dungu. Gagap. “Da. Ikutan duduk, ya”.

Ketika Hujan Sebulan

Sunday, December 28th, 2008

Bagi kami di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, bila musim kemarau, 'serangan' asap tebal hal biasa, kebakaran dimana-mana. Bila musim hujan, banjir pastilah sudah. Suatu ketika, sedih dan prihatin menyatu, jari-jari menari di tuts komputer, jadilah cerpen Tsunami Banjar. Cerpen 'liar' yang mendapat sambutan ketika dimuat di Radar Banjarmasin. Juga diposting di ...

Cinta yang Terjinakkan

Monday, August 18th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas Malam melarut. ‘Hello’ Lionel Richie menyamankan rasa. Hatiku sedang gundah. Perasaan letih. Bulan menyiangi kegelapan. Memanggil-manggil. Kuayun langkah. Menggapai Bulan. ‘Kalau Bulan bisa ngomong’, kan kukurim pesan: “Titip rindu buatnya”. “Mat malam Uda”. “Oh”. Aku tergagap. Aku menjadi lelaki paling dungu. Gagap total. “Da, ikutan duduk, ya”. “Ya, ya”. Lidahku keluh. ...

Auman Pak Lurah

Sunday, June 29th, 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas (Radar Banjarmasin, Minggu, 29 Juni 2008) Dingin pagi menyapa pori-pori. Pergantian musim menjadi nyata. Bulan Juli musim panas menampakkan identiasnya. Pada bulan Agustus, ratig akan kering sempurna, tanaman perdu kekurangan asupan air, dan api panas bumi memicu ladang gambut membumihanguskan semuanya. Musim asap puncaknya. Pagi itu, entah karena kekacauan ...

Universitas Kolam Ikan

Monday, December 24th, 2007

Oleh Ersis Warmansyah Abbas Karya fiktif ini ditulis sebagai 'tugas akhir tahun' dari Kang Jupri, http://mathematicse.wordpress.com/  dari Belanda,  kelanjutan surat berantai kerjaan Mas Swali, http://sawali.wordpress.com/. Selamat membaca.   Embun pagi menghantar sejuk ke lobang pori-pori. Hujan di akhir Desember membentang nyaman menjangkau awal Januari. Ikan nila merah berkejaran dengan nila hitam, memadu kasih mengitari ...

Bangsat Kali Dongok

Sunday, June 10th, 2007

SANDUL merobek kertas pembukus silet yang baru dibeli dari warung di sebelah rumah. Lapisan kulit luar dan bungkus putih dalam --- pengaman ketajaman silet--- robek seketika. Ujung silet merobek jari telunjuknya. Darah menetes ke lantai. Sandul menahan perih, tetapi tidak sesakit hatinya yang remuk redam. Dampratan Sani --- temannya ...

Dia Yang Ditelikung

Sunday, March 18th, 2007

Guntur sahut-menyahut menyebar ngeri berpadu jilatan kilat sambar-menyambar. Langit kelam menuangkan hujan bak dicurahkan. Rumput-rumput terkulai bukan lagi menjadi labuhan tanya, letih tidak bergoyang. Rapat di pendopo kelurahan Kali Dongok menebar aroma yang lain dari biasanya. Teguran alam mulai dimengerti. 

Mahkamah Tak Berbias

Sunday, October 8th, 2006

Silbi sungguh kaget. Tiba-tiba dia berada di ruangan serba putih. Lantai, dinding, plafon, meja, bangku, dan benda-benda di ruangan tanpa pintu dan jendela tersebut berwarna putih. Darah Silbi terkesiap ketika memandang pakaiannya yang hitam. Kontras dengan ruangan menawan tersebut. Ada satu lagi yang hitam, … sebuah kursi. Terletak diantara meja ...

Pengadilan Oemar Bakry

Sunday, October 8th, 2006

Siang itu, suasana ruang sidang pengadilan negeri Seberang Lautan begitu mencekam. Sidang yang dipimpin hakim ketua Ratul SH dengan hakim anggota Rapal SH dan Rupil SH, MH, semula diprediksi berjalan mulus. Pada sidang sebelumnya, Oemar Bakry, S.Pd. sebagai tertuduh, tidak pernah membantah BAP yang diajukan kejaksaan berdasarkan penyidikan kepolisian.