Menulis? Sibuklah (2.6)
17 March 2010 | Ditulis oleh: ewa |Alhamdulillah, pukul 17.00 ke luar kamar kos. Ke RM Sambalado di Panorama Bandung. Mengambil laundrian. Sejak kemarin menjadi anak kos sungguhan. Tidak kemana-mana. Dua puluhan buku berserakan. Visi SMS: Pak sudah shalat? Istri SMS: Sudah makan Da? Antra dari Bali SMS: Nanti malam menuju Malang. Lumayan, terhibur.
Yaps, linguistic turn, narrative turn, sotry telling, dekonstruksi, uservalue, semiotika, hermeneutica, grand narrative, dan general laws. Tentu Sampeyan paham siapa itu Michel Foucault, Jacques Derrida, Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Tariq Tariq Ramadan, Ibnu Khaldun, Adam Smith, sampai David Ricardo. Ada fenomenalogis, strukturalis, modernitas, sampai postmodernis. Bukan soal linguistik atau filsafat sejarah saja, tetapi juga merambah teori ekonomi dan sosiologi.
Dihitung dengan variannya, minimal mencari jawab 15 item. Mana pula disepadankan dengan kondisi pendidikan Indonesia. Begitulah take home mata kuliah: Manusia dan Peradaban. Seorang teman mengingatkan: Filsafat Ilmu menunggu, lebih dahsyat. Alhamdulillah.
Buku-buku tidak memadai. OL terus-menerus. Mana pula ditingkahi telepon dari PDAM, Bappeda, percetakan, sampai diskusi dengan teman-teman di kos, duh padatnya. Benar-benar menantang. Menjelang magrib, tinggal mengetik Kepustakaan. Air wudhu mendidinginkan semuanya. Sejuk ke relung qolbu. Berdoa agak panjang kali ini. Ditandem menulis dengan melakukan, duh … sedaaaaaap.
Terkadang lucu juga. Menulis tugas kuliah puluhan halaman tidak dimaknai menulis. Pikiran Ferdinand de Saussure dan Charlese Sanders Peirce, betul juga. Tapi, lebih baik memamah dan mempraktikkan paham Derrida; pemaknaan bukan monopili otoritas. Jangan-jangan EWT terpengaruh Derrida. Tapi, mana mungkin. EWT dilauching sebelum membaca pikirannya.
Saya jadi ingat seorang. Bertugas wawancara yang diberikan, beralasan; menulis laporan, beralasan, atau membereskan pekerjaan, beralasan lagi. Padahal, semakin sibuk bekerja, semakin banyak hasilnya. Menulis pun begitu. Coba, berapa juta orang FBan untruk sekadar say hallo. Salah? Tentu saja tidak. Suka-suka kitalah, akun sendiri kok.
Tapi, coba Sampeyan gunakan untuk menulis, menulis apa saja yang kira-kira bisa dijadikan bahan buku. Jangan beralasan lho. Jangankan dalam setahun, dalam sebulan saja teres-menerus menulis artikel, puisi, atau kisah hikmah, jadi buku deh. Pernah memperhatikan ‘komentator’ hebat FB?
Saya paling doyan. Soalnya, dia terlatih sebagai komentator. Karena sudah menjadi darah daging, bagus dan bermanfaat. Sering dapat ide menulis justru dari banyak komentator. Sekalipun kasihan juga. Sepanjang tahun 2009 dia tetap menjadi komentator handal, Alhamdulillah saya menulis beberapa buku.
Dengan kata lain, bersibuk diri, dan bersibuklah menulis. Dijamin, akan ada hasilnya. Namun, kalau sibuk akan menulis, dan atau, mencermati tulisan orang saja, apa lagi kalau marah-marah, ya itulah yang diperdapat.
Bagaimana menurut Sampeyan?













3 Responses to “Menulis? Sibuklah (2.6)”
By narno on Mar 17, 2010 | Reply
setelah lama saya tak berkunjung, kini kembali ingin berguru di sini
By rimba on Mar 18, 2010 | Reply
beberapa kawan mencibir saya ketika saya berlatih menulis sebuah artikel….saya sedang berlatih menulis yang baik. ya pak de banyak orang yang pintar berbicara tapi kebingungan saat ia menuliskannya apa yang baru saja ia katakan. salam pak de. pak de..
By narno on Mar 18, 2010 | Reply
baca alinea terakhir saya jadi tersenyum