Mendiskusikan ‘Kodrat Menulis’ (2.4)
16 March 2010 | Ditulis oleh: ewa |Bagi yang sudah terbiasa menulis, tentu mudah. Bagi kami yang baru memulai, jelas saja susah. Terkadang tertawa dengan bangun logika banyak pesharing menulis. Saya tidak pernah mendikhotomikan sedemikian. Bagi saya, menulis itu belajar. Tidak ada orang dilahirkan langsung piawai menulis. Karena itu, biasakan saja menulis. Untuk itu setiap orang telah dibekalai 1 milyar neuron (sel syaraf) yang siap dikembangkan. Sesuai kehendak masing-masing.
Ada pula yang membekap dengan kurungan bakat sampai kodrat. Mau sharing atau berteori? Perbanyak membaca, dan dayagunakan indera, peroses di otak, tumpahkan. Tulis. Lakukan terus-menerus. Kemampuan didapat dari proses melakukan, bukan berwacana. Nasib, kita yang menentukan. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau tidak dirubah sendiri. Punya rambut? Kodrat rambut memanjang. Banyak orang memotong rambutnya.
Lucu. Ada yang mewacanakan menulis harus begini-begitu, begana-begene, dan segerobak harus. Memangnya dengan berwacana kemampuan menulis terbangun? Nehi, Bro. Banyak orang yang mempelajari bahasa, mendapatkan gelar akademis tertinggi sampai Doktor, kalau tidak menulis, ya tidak ada tulisannya.
Teori sih perlu. Tidak usah diperdebatkan. Tapi, kalau memaui tulisan, hasil menulis, hanya satu caranya, menulis. Ingat, Allah SWT memberi potensi. Ada sebagian yang lebih baik dari yang sebagian, ya begitulah. Tetapi, ingat. Pada ranah potensi. Soal mengembangkan urusan masing-masing.
Kenapa puisi Rendra bagus, karena dia menulis puisi, dan itu dilakukan terus-menerus. Kenapa Taufik Ismail yang dokter hewan terkenal sebagai sastrawan sementara kedokterhewannya kurang diketahui? Karena dia menulis puisi. Dia melakukan menulis (puisi).
Dengan kata lain, setiap manusia dihibahkan potensi oleh Allah SWT. Tugas kita mengembangkannya. Dalam hal menulis, dengan melakukan. Ibarat jalan, fasih jalan karena ditempuh. Bandingkan dengan memasihkan ‘menilai’ tulisan orang: Oh, itu bagus. Tulisan Si Anu, jelek. Ya, kemampuan meilai itu yang berkembang. Ketika ditanya: Tulisan Sampeyan mana? Marah. Wong yang diasah menilai, bukan menulis.
Sudahlah. Tidak usah mendiskusikan tentang fislafat menulis, menulis saja. Kalau sudah fasih, sudah bagus tulisannya, mari berdiskui. Kita mendiskusikan tulisan yang sudah menjadi. Ini, belum menulis sudah ramai. Kalau begitu, kapan menulisnya. Mana tulisannya he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?













2 Responses to “Mendiskusikan ‘Kodrat Menulis’ (2.4)”
By a-chen on Mar 16, 2010 | Reply
ywudah wong tinggal nulis kok, yang penting inti dan tema tulisannya nggak ngelanggar norma…

salam kenal…
By rimba on Mar 16, 2010 | Reply
sip pak de sudah banyak teori yang dikembangkang bagaimana caranya menulis…tapi ujung-ujungnya adalah menulis..menulis…menulis…dan menulis…gimana kabar pak de