Empat Jari VS 1 Telunjuk (2.3)

15 March 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Ketika Satanic Verse Shalman Rushdie dipublikasikan ‘Dunia Islam’ geger, sebagaimana jahilan karikaturis Denmark atau filmer Belanda melansir Fatima. Wajar, mereka hanya memuaskan kehendak tanpa mempertimbangkan keyakinan umat Islam. Ibarat macan, mencari gara-gara.

Yang tidak lucu, memaki-maki Yahudi, dari pemikiran, bisnis, finansial, sampai aneka produk. Enerji dihabiskan ‘menembak’ Coca Cola, aneka ‘fired chikken’ sampai jejaring sosial dunia maya, tetapi memakai tanpa malu-malu. Enerji ditanamkan menyemai iri, dengki, dan variannya.

Ya, bukannya belajar lebih serius atau membangun keyakinan diri dengan berbuat. Rasulullah, di tanah padang tandus dengan kebudayaan tidak jelas, dari menit ke menit ‘membangun peradban setapak demi setapak berbuat, tanpa demonstrasi, dan jadilah Islam lambang peradaban dunia.

Allah SWT tentu tidak berkesia-sian menurunkan firman pertama kepada Muhammad, iqra’, iqra’, iqra. Rasulullah SAW, melihat para Sahabat gugur ketika terjadi peperangan, memerintahkan menuliskan Al-Quran. Membaca dan menulis adalah ‘petunjuk’ yang banyak diabaikan. Kalau ada yang bertanya, kenapa peradaban Islam berjaya semasa Baghdad sampai Andalusia? Pembangunan perpustakaan menjadi perhatian serius. Belajar.

Orang terkagum-kagum dengan segala ‘Barat’. Padahal Eropa belajar dari Islam. Kalaulah Ibnu Rusyid tidak menyambungkan pemikiran Yunani, betapa dungunya Eropa. Terjebak ‘The Dark of Middle Ages’. Pernah membaca karya Dante Alighieri, Divina Comedia yang terkenal itu? Rasulullah ‘ditempatkan’ di kerak-kerak neraka. Jarang orang menyadari, Dante nyontek Peristiwa Isra’ Mikraj’ Rasulullah. Dante tidak memaki-maki, tetapi berbuat. Menulis.

Banyak pihak geger ketika 2012 atau Avatar dilansir sementara tidak berupaya menulis dan kemudian membuat filem lebih bagus. Ibnu Rusyid, Ibnu Sina, Al-Gazali, dan sederetan Pendekar Muslim tidak memaki-maki, tidak mendewakan masa lalu, mereka belajar dari masa lalu untuk berbuat dalam memandang masa depan.

Menuding dengan telunjuk bermuatan amarah, tanpa disadari empai jari menunjuk diri sendiri. Jadi, mari kurangi mencaci tulisan orang, mari berlatih menulis, menelorkan pikiran (sendiri) betapapun awamnya. Menulis memang bukan menyelesaikan persoalan nyata, tetapi setidaknya menjadi wahana penyadaran diri, dan syiar. Insya Allah.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 3 Responses to “Empat Jari VS 1 Telunjuk (2.3)”

  2. By Kadir on Mar 15, 2010 | Reply

    Luar biasa.

    Semoga bermanfaat….!

    Syamsudin Kadir
    085 320 230 199

  3. By muhammad fakhruddin on Mar 15, 2010 | Reply

    benar pak,kata pepatah Inggeris
    Actions speak louder than words…
    tetapi bagi sang penulis,
    Pen is mightier than swords =)

  4. By Ersis Warmansyah Abbas on Mar 15, 2010 | Reply

    Kadir: Semangat
    MF: yap, ty

Post a Comment