Mencumbui Salah … Monggo (2.3)
14 March 2010 | Ditulis oleh: ewa |Bagaimana bila seseorang sembari mengendong anak anak ditemani suami datang ke rumah Sampeyan sembari berkata: “Pak, bagaimana kalau tulisan saya salah”. Dulu, ketika muda, akan dijawab: “Bu, coba dikurangi sombong diri”. Bisa-bisa, kalau suaminya tidak sabar, main pukul. Tapi, begitulah cara memotivasi.
Salah? Kenapa takut salah. Memang apa salahnya salah? Kalau Sampeyan suka sedikit membaca, berabad-abad otoritas gereja berpendirian, matahari mengelilingi Bumi. Ketika Copernicus, Bruno, sampai Galileo Galilie berpendapat berbeda, Bumi yang mengelilingi matahari (helliocentris), mau tahu akibatnya? Hukuman mati. Ingat. Berabad-abad otoritas gereja memelihara kesalahan. Apa boleh buat, kalau yang tidak paham sesuatu memegang otoritas, begitulah jadinya. Tapi, ingat satu hal. Menuju ‘benar’ memerlukan proses. Ya, kebenaran adakalanya didapat melalui proses panjang.
Tidak usah sombonglah. Setidaknya, kurangi sok diri. Apalagi, baru memulai menulis. Salah? Jadikan salah untuk mendapatkan benar. Bagaimana logikanya, begitu memulai menulis tulisannya langsung sempurna. Tidak tahu diri. Sok. Maaf ya. Saya telah menulis ribuan tulisan, ratusan artikel, dan puluhan buku. Salah? Wajar saja. Yang bodoh itu melakukan kesalahan sama berulang-ulang.
Sasaran tembaknya, toleransilah kesalahan. Guru yang tidak merasakan bagaimana ‘perjuangan menulis’, dimana dia mendongeng tentang menulis tanpa pernah menulis, memberi contoh, pemimpi tulisan sempurna. Atau, karena tidak paham esensi pendidikan. Pendidikan itu proses. Menorehkan goresan merah tebal-tebal, membandingkan dengan tulisan penulis hebat, atau memaki-maki: “Dasar goblok. Tulisanmu tidak mutu”.
Orang yang terbiasa menulis, seperti saya he he … akan bersimpati. Salah? Tidak, apa-apa. Bagus kalau tahu salah, mari kita perbaiki. Karena salah ke depan tidak mengulangi. Bila dilakukan terus-menerus, kesalahannya akan berkurang. Kita belajar dari kesalahan. Itu yang saya namakan, Menulis Belajar, Menulis Pembelajaran.
Karena itu, ramahlah sedikit pada salah, dan cumbui untuk perpisahan. Tidak melakukan lagi. Sejarawan melakukan kesalahan memalukan, menulis penemu Benua Amerika, Christopher Columbus. Sekalipun diralat, Americo Peppusi, masyarakat dunia yang justru berkehendak melestarikan kesalahan. Bangsa Indian, penduduk asli Amerika, adalah nama untuk ‘Orang India’, di Asia. Ngak salah kan?
Bagaiman menurut Sampeyan?












