Menulis Menikmati Tugas (10.3)
13 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |Jalan menuju stres, seperti juga ‘menikmati’, bisa berlika-liku, bisa pula pendek, atau berpanjang-panjang. Tergantung bagaimana kita memenej pikiran, perasaan. Bagaimana memenej waktu, kemampuan, keinginan, atau ambisi. Ibarat kata, ‘terjadi’ dari bagaimana memahami diri.
Kalau kuliah, misalnya, seperti juga ketika sekolah, mendapat tugas menulis dari dosen dan guru, setiap orang berbeda reaksi dan responnya. Ada yang begitu dapat tugas, langsung stres. Otaknya sudah distel, menulis pekerjaan sulit, membosankan, atau menghabiskan waktu. Ada yang biasa-biasa saja, ada pula yang riang gembira.
Naga-naganya, kalau diingat-ingat, saya mengalami semuanya. Lalu, pada suatu ketika memikir ulang, kenapa yang namannya tugas tidak dimaknai sebagai hal menyenangkan? Itulah yang mebuahkan labeling, Menulis Belajar. Aplikasinya, kalau mendapat tugas menulis, berarti kesempatan belajar lebih terbuka. Ada faktor resiko, ada faktor harapan.
Tentu saja, jalan menuju menulis menikmati tugas tidak serta-merta melekad menjadi minset. Perlu latihan, komitmen, dan kesungguhan dalam praktiknya. Tapi, memang memberi nikmat kok. Maksudnya?
Yaps, kesempatan belajar tertuntun, dan belajar membangun ‘hal baru’, ya itu tadi, membelajarkan diri, belajar merubah hal membeban menjadi sesuatu untuk dinikmati, menulis tugas menikmatinya.
Alhamdulillah, melalui proses pelatihan diri dalam konteks membelajarkan diri, kalau mendapatkan tugas, sudah lebih sering terbetik di pikiran, kesempatan belajar. Tugas perkuliahan tidak bisa ditawar-tawar sebab bagian kewajiban. Ada unsur paksaannya. Masyak sih gara-gara mengabaikan tugas tidak lulus.
Dengan prinsip demikian, mengerjakan tugas menjadi hal menyenangkan. Sekali lagi, kesempatan belajar. Kalau dijadikan hal membeban, duh capeknya. Mencari bahan, menyeleksi, menganalisis, menuliskannya tentu meerlukan enerji, waktu, dan uang. Capek deh.
Kalkulasinya, mau mengerutu kek, mau capek ke, mau teriak-teriak kek, mau marah-marak kek, memarahi istr atau anak, tugas ya tugas. Sesuatu yang harus dilakukan. Bandingkan dengan melakukan dengan riang gembira, enjoy aja. Hati disenangkan, rasa dihibur, diri diyakinkan, melakukan kewajiban itu menyenangkan, loe mau apa saja, tugas ya tugas. Artinya, mau mengerutu atau menikmati, ujungnya sama, menyelesaikan tugas. Begitu pamahamannya.
Mari belajar dan membelajarkan diri menikmati tugas. Soal waktu bisa dimenej, budgeting of time. Soal keterampilan, itu yang diasah dengan melakukan. Soal bahan, bertebaran dimana-mana.
Ringkasnya, mengerutu atau menyenangi tugas, ujungnya sama saja, dikerjakan. Pilihannya, kalau mau merusak diri, mengerutulah. Kalau mau menyenangkan diri, nikmati.
Bagaimana menurut Sampeyan?













13 Responses to “Menulis Menikmati Tugas (10.3)”
By joko santoso on Feb 13, 2010 | Reply
Apapun yang kita kerjakan dengan perasaan senang, maka hasilnya pasti akan maksimal. salam kenal
By webmaster informations on Feb 15, 2010 | Reply
apapun yang di kerjakan dengan iklash pasti hasil lebih memuaskan
By meiy on Feb 15, 2010 | Reply
do it with love beda rasanya…dg terpaksa
By volver on Feb 15, 2010 | Reply
wah menggerutu itu ga ada gunanya, seharusnya berpikir positif untuk mengerjakan sesuatu
By annosmile on Feb 16, 2010 | Reply
walaupun kesal..tetep harus berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik
By Tukang belanja on Feb 17, 2010 | Reply
Tugas? saya tidak sedang bertugas, tapi sedang melakukan hobi saya !!. Tentu saja menyenangkan.
By batiknovita.com on Feb 18, 2010 | Reply
Tugas…!!
Enjoy aja…
By dinda27 on Feb 21, 2010 | Reply
Akhirnya sy tertuntun kemari juga.
Sementara pic nya kerap muncul di sidebar FB saat OL.
Kupasan dg gaya bertutur yg apik.
Sy ingin belajar agar bisa menulis dg baik.
salam kenal lagi
By sarahtidaksendiri on Feb 22, 2010 | Reply
yg trepnting Ikhlassss..hehe insya Allah semuanya bisa dikerjakan dan berhasil di amanartkan.. iya khan.. hehe, lama aQ tak berkunjung k eblog ini.. seneng rasanya bs mampir lagi
By Syifa18 on Feb 24, 2010 | Reply
Mengubah pandangan negatif menjadi positif,mengapa tidak? Ini bisa d terapkan pd semua pekerjaan.Mari kita lakukan!
By Siti Fatimah Ahmad on Feb 28, 2010 | Reply
Assalaamu’alaikum
Ternyata tulisan saya terdahulu sudah hilang. maaf Tuan Ersis, baru kembali bersilatutrahmi setelah hilang lenyap dari dunia FB… Saya tidak betah di sana walau dunianya penuh dengan warna warni.
Cukuplah saya berusaha menikmati tugas menulis di laman blog Tuan Ersis di sini sahaja. salam mesra dari Sarawak, Malaysia.