Membangun Senang Menulis (9.9)
10 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |Setiap orang mempunyai kesenangan. Ada yang senang mengintip, ada yang suka bicara sepanjang hari, ada yang hobi main tenis, ada yang terpuaskan menonton bola, atau berdiam diri di kamar. Suka-suka, senang, menyenangi dan tersenangi, tidak bisa dipaksa-paksa. Jangan pula memaksakan pada orang lain. Adakalanya tidak logis. Namanya juga senang.
Kalau saya menyenagi banyak hal. Kalau dianggap baik dan mampu menyenangi, kenapa tidak? Senang dan menyenangi mendobrak banyak kendala, sebab kita akan berusaha meraihnya, dan menikmati.
Saya senang membaca. Karena itu berlangganan koran, membeli majalah, atau buku. Tidak berpikir panjang. Karena bukan orang kaya, memperbanyak membeli buku, jarang membeli baju. Heran kalau ada manusia suka meminjam buku.
Senang membaca rupanya menumbuhkan senang menulis. Untuk memupuknya, semakin menyenangi membaca. Menyenangi berjalan-jalan, wisata, atau bepergian. Sebab, tanpa disadari menjadi pupuk bagi menulis. Menyenangi mengamati seuatu, merasakan, dan seterusnya.
Kesemua itu mendukung kesenangan menulis. Sebab, ‘melihat sesutu’ lebih cepat berkoneksi dengan entry behavior, otak sigap menganalisis, feeling mendeteksi, oh ini bagus, itu perlu dipertimbangkan. Dengan kata lain, melempangkan jalan untuk menulis, mempermudah menulis.
Lebih hebatnya, melatih senang atas senang menulis, menjadikan rangkaiannya menyenangkan. Dan, otomatis menyingkirkan hal-hal kurang mendukung. Misal, bertemu dengan seseorang yang kalau dia berbicara bisa membuat kita terperangah karena retorikanya. Ada tu sinyal: Loe lebih baik menulis, ini ada ide, tulis tentang Orgasme Menulis. Itu misalnya. Adakalanya, dengar omongan itu orang, tulis.
Percaya atau tidak. Apabila bersengaja menmpuk senang menulis, begitu ada hal-hal yang mendukung, langsung nyambung. Sebaliknya, hal-hal yang meruntuhkan kehendak menulis tertolak, tersingkirkan.
Contoh lain. Banyak orang mengatakan, menulis, atau memberi ceramah, menulis itu harus begini, begitu, begana. Bagus saja. Tapi, saya maunya menulis, bukan belajar atau berniat menjadi ahli teori menulis. Belajar menulis dalam arti melakukan, ya lakukan. Silakan yang suka teori. Pilihan masing-masing.
Bagaimana kalau tidak senang menulis? Jangan dipaksakan. Orang dungu saja yang mau-maunya memaksa dirinya. Tapi, kalau ada kehendak menulis walau sebesar biji zahra, pupuklah, bangun senang menulis.
Pantangannya, berkehendak menulis yang dibangun kebalikannya. Berkemauan mengembangkan kemampuan menulis, senang diarahkan mencaci tulisan orang, tidak korelatif. Bangun senang menulis dengan melakukan.
Bagaimana menurut Sampeyan?













3 Responses to “Membangun Senang Menulis (9.9)”
By Rakuen on Feb 10, 2010 | Reply
halo… permisi numpang promo ^^!
demo song Rakuen bisa diunduh di 4shared.com
critics are welcome
By batiknovita.com on Feb 10, 2010 | Reply
Menulis membutuhkan inspirasi dan ketenangan jiwa.
Hal ini juga perlu dilatih, jika tidak maka kemampuan menulis menjadi tumpul.
Makasih infonya..
By syaifulrizals on Feb 10, 2010 | Reply
aku ingin menulis….