Buku Bersama 2010 (1.2)

10 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Kejujuran Menulis, Menuliskan Kejujuran

Oleh Meiy

Menulis dengan jujur sangat penting sebagai upaya memperbaiki diri. Jujur itu tak pernah ketinggalan zaman, selalu bersih dan disukai. Kita tidak dapat merekayasanya.  Kejujuran Menulis, Menuliskan Kejujuran. Mari.

Pikiran ini hadir ketika bertualang di dunia cyber, dan mengobrol dengan sahabat mengenai banyaknya orang yang tidak memperdulikan etika ketika mengambil tulisan orang lain di internet. Aku menemukan banyak hal yang membuatku kadang tersenyum-senyum. Berbagai ekspresi, informasi dan berita apa pun ada di dunia maya. Tinggal, memilih atau memilah, mana mau dilihat, dipakai atau dipercaya.

Sekalipun denikian, ada menjadi ‘tanda tanya”, yaitutentang kejujuran dalam menulis. Benarkah para netter, blogger, facebookers,’buku-ers’ apa pun sebutannya, telah menulis dengan jujur? Jawabnya relatif. Tergantung kejujuran orangnya. Aku menemukan puisi temanku di copy paste utuh. Ketika hal tersebut didiskusikan dengan teman, jawabannya: Biar sajalah. Aku bukan siapa-siapa. Berarti, ada yang menyukai tulisanku. Aku senang tulisanku bermanfaat’.

Itu bagi orang yang tidak mempermasalahkannya. Tetapi, bagaimana kalau yang bersangkutan tidak suka dan merasa dirugikan karena hak ciptanya di langgar? Ada yang dengan bangga mengutip lirik lagu, memasukkan dalam tulisannya atau mengutip baris-baris kata di buku, tanpa malu-malu. Dan bangga ketika pembaca memujinya sebagai penulis hebat. “Waahh kamu memang piawai menulis. Benar-benar pujangga”. Taidk ada penjelasan dari yang dipuji, larut dalam kebanggan palsu. Itu berlaku juga terhadap hasil cipta yang lain, misalnya foto dan musik (lagu).

Ada penulis yang memanfaatkan orang lain; hasil survei, riset, atau wawancara. Ini kudapatkan dari berbincang dengan seorang teman Dosen. Sayangnya tidak banyak yang mau mengakui bantuan orang lain tersebut dengan menulis sumber sebagai pengakuan. Apalagi, kalau yang karyanya dimanfaatkan hanyalah orang-orang tak berdaya misalnya ’penulis bukan siapa-siapa’ atau pun mahasiswa binaan.

Republik ini memang mempunyai UU ITE yang masih kontroversial, bisa digunakan sesuai kepentingan masing-masing orang. Begitulah fenomena penegakan hukum di negeri ini. Namun, menciplak, mencuri utuh atau sebagian tulisan seseorang (plagiat) bukankah hal memalukan?

“Jadi kalau seseorang menulis fiksi nggak jujur begitu?” tanya seorang temanku. Jujur yang kumaksudkan adalah asli karya kita sendiri, kalaupun ada kutipan yang perlu dari suatu sumber, tentulah dengan menyebutkan sumbernya.

“Fiksi itu adalah jenis tulisan teman“, kataku. Fiksi bukan berarti bohong. Fiksi adalah daya karya imajinasi yang, media ekspresi yang membebaskan manusia menjadi yang diinginkannya. Fiksi jenis apa pun pastilah dilatarbelakangi keberadaan penulisnya; pengetahuannya, pandangan hidup, pengalaman, daya khayal, impian, dan sebaginya. Namun, harap diingat, kebebasan manusia adalah kebebasan terbatas yang tidak boleh melanggar hak makhluk lain. Maksud kamu?

“Ada orang yang berteriak-teriak tentang kebebasan menulis, tapi lupa tulisannya melanggar hak-hak orang lain. Ada hukum formal ada etika, ada rasa, ada nurani. Manusia dibatasi aturan, misalnya, hukum Sang Pencipta. Dia yang Mahatahu kondisi-situasi makhluk ciptaanNya. Kebebasan mutlak adalah kemustahilan, dan kalau manusia tidak mengetahuai keterbatasannya, kebablasan. Apa yanga dibnalik dinding saja tidak bisa dilihat.

Ada yang mengidentikkan menuliskan kejujuran adalah menulis tanpa batasan. Jujur tidak sama dengan terbuka. Ada hal-hal yang tidak boleh dituliskan, yakni aurat diri, rumah tangga, orang lain apalagi aib. Kita harus pandai memindai mana yang patut.

Kemampuan menulis, haruslah dibangun dengan jujur, berdasarkan kejujuran, kejujuran menulis, menulis dengan jujur, menuliskan kejujuran.

Rumah Cinta, Ayahanda Medan, 23 Januari 2010

  1. 4 Responses to “Buku Bersama 2010 (1.2)”

  2. By syaifulrizals on Feb 10, 2010 | Reply

    sudah jujurkah aku? terima kasih postingnya, salam

  3. By Langit on Feb 10, 2010 | Reply

    yeah… menuliskan kejujuran

  4. By meiy on Feb 11, 2010 | Reply

    kemarin mau ke sini, langsung mati listrik!

    wah nggak nyangka tulisanku masuk. alhamdulilah, makasih pak, makasih editor, jadi bagus tuh keliatannya, simple. tapi masukan dariku dikit, ada beberapa salah ketik, kalo bisa jangan ada :)

    salam menulis :)

  5. By damai ayu nindar on Mar 1, 2010 | Reply

    kejujuran memang harus, apalagi untuk menulis, pasti…

Post a Comment