Memupuk Senang Menulis (9.8)

9 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Menulis menuangkan pikiran. Kalau pikiran itu sendiri sedang ruwet manalah mungkin dituangkan, dituliskan. Kalau dipaksakan akan centrang-prenang. Pikiran yang siap ditulis, dibeking suasana hati, biar keren, ada yang menamainya mood, atau lebih tepatnya, in the mood. Tidak usah diperdebatkan mood suasana hati sementara yang akan dituliskan pikiran.

Yang pasti, kalau pikiran ruwet agak susah menulis. Walau, dalam praktiknya, keruwetan pikiran kalau ditulis malahan membuat kenyamanan. Susah kan berteori? Karena itu lebih bagus melatih menulis dalam suasana apa pun.

Seorang kawan mengeluh, menulis di blog atau FB, jarang dikunjungi. Kalau pun dikunjungi dan dikomen, duh … komentarnya sadis. Nah, lho. Dia melakukan dua kesalahan dengan manajemen perasaan tidak positif.

Pertama, menulis ya menulis saja. Dalam bahasa saya, belajar, membelajarkan diri. Tidak dikunjungi orang terkarena belum ‘dikenal’. Kalau dikenal baru tahu rasa, bikin repot kalau tidak dinikmati. Dengan kata lain, nikmati menulisnya.

Kedua, komentar sesadis apa pun, jadikan masukan. Kalau tidak berkenan hapus. Hal sangat sederhana. Tetapi, dari aneka komentar itu kita ‘belajar’. Saya sering mendapat ide dari komentar. Orang Banjar bilang: Baai tatawa ja. Atau ketawakan komentar miring tersebut, teruskan melatih menulis. Positifnya ambil, jadikan pemicu dan pemacu menulis.

Menulis sebaiknya dimaknai menyenangkan dan membuat senang. Kalau tulisan tidak menyenangkan, jangan baca. Kalau ada komen tidak menyenangkan, jangan baca. Tidak dibaca berarti ‘melawan’. Meniru Gandhi, melakoni non-violent. Dengan demikian ‘senang’ diri terpelihara. Berpikir terbalik, kalau perasaan terganggu, tercapai maksud orang yang tidak menyenangkan? Kita rugi. Perasaan terganggu, menulis mentok. Tidak ada manfaatnya.

Dalam kapasitas belajar, apalagi dalam belajar menulis, bagaimana agar senang dan menyenangkan itu yang perlu dipupuk. Bacalah hal yang menyenangkan, kunjungi blog atau FB yang menyenangkan, nikmati tulisan yang menyenangkan, yang membangun kesenangan. Tentu, bukan asal senang. Senang positif, senang yang bermanfaat.

Saya pun sering menggoda dengan tusukan tajam. Tapi, sasarannya umum, pola umum. Tidak pernah pribadi. Kalau yang disasar pola umum ada yang tidak senang, bukan urusan kita. Begitulah dunia menulis, ada yang senang, ada yang tidak senang. Manusia itu berbeda-beda. Itu prinsip dasar.

Lebih mendasar, memelihara kesenangan. Kalau mendapat hal yang tidak disenangi, ya cuekin saja. Ibaratnya: Jangan menyimpan pakaian buruk, yang tidak bermanfaat di lemari kesayangan. Masyak sih yang di simpan wajan jebol? Simpanlah yang baik, yang bermanfaat. Mari pelihara hal-hal menyenangkan, menulis yang menyenangkan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 6 Responses to “Memupuk Senang Menulis (9.8)”

  2. By Arief Rizky Ramadhan on Feb 9, 2010 | Reply

    menulis datangnya dari hati dan kita sebagai para penulis harus bisa memotivasi para pemula untuk rajin nulis… nice posting mas

  3. By Nurita Putranti on Feb 9, 2010 | Reply

    Saya kemarin baru mendapat komentar lisan dari seseorang yang membaca tulisan saya, katanya “Tulisan saya kurang siip!” *dia sambil mencibirkan bibir* –> saya cuekan saja, toh orang yg bicara itu belum ada blog/tulisan yang bermanfaat kok, huehehehe…

  4. By fadly muin on Feb 9, 2010 | Reply

    salam kenal Pak Ersis,..

    mampir untuk silaturahmi dan numpang komentar sedikit :)

    buat saya menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. terutama setelah fokus mengelolah blog. saya seperti menemukan dunia baru yang bikin saya happy.

  5. By T. Wahyudi on Feb 9, 2010 | Reply

    menulis… menulis… menulis… sekarang tanpa menulis… rasanya HAMPA mas… gatel nih tangan…. :D

  6. By sawali tuhusetya on Feb 10, 2010 | Reply

    makin keren dan mantab motivasi menulisnya, pak ersis. slam sukses.

    ***He he he mkasih Pak Guru …

  7. By dobleh yang malang on Feb 10, 2010 | Reply

    post yg baik
    selalu bikin blue bersemangat untuk mwnulis apapun yang blue inginkan jika membaca postingan abangku yang snagat baik ini
    salam hangat

    terimakasih

    ***Salam hangab ...

Post a Comment