Nyaman Menikmati Tugas Menulis (9.7)
8 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |Bagaimana sikap kita menghadapi tugas? Banyak cara. Dalam kaitan menulis, sebaiknya dilakukan dengan senang, riang gembira. Setidaknya, berusaha menyenanginya. Cara lain? Tidak usah dipikirkan. Sebab, tugas adalah kewajiban yang harus dilakukan. Titik.
Prinsip tersebut memang tidak bisa diamini semua orang. Ada seorang yang sharing menulis ketika diberi ‘tugas’ menulis minimal satu tulisan dalam sehari, selama satu bulan tidak boleh abai, marah-marah ketika dicoret sebagai anggota sharing. Apa pasal?
Pada hari ke lima dia tidak menyerahkan tulisan, yang harus dikoreksi, dan tentu dierbaiki, dengan alasan ini-itu. Yang saya perlukan tulisan terbarunya untuk dikoreksi, bukan alasan. Ketika ‘diceramahi’, ya itu tadi, dia marah-marah.
Saya tidak dapat berbuat apa-apa. Yang hendak sharing menulis dia, saya dapat tambahan kerja, gratis pula. Kok dia yang marah. Belakangan malah menjelek-jelekan. Aneh.
Menulis, dalam arti melakukan, sejatinya pekerjaan mandiri, pekerjaan merdeka. Kalau lagi mau menulis, ya menulis saja. Bebas. Kalau lagi enggan, jangan diakukan. Siapa paksa?
Tapi, kalau sharing, apalagi ikut pelatihan, lain lagi ceritanya. Lagi pula, siapa yang memaksa ikut? Diri sendiri. Ya, harus ikut aturan.
Saat ini beban kerja menulis pada puncaknya. Ya, tugas kuliah, tugas menulis kontrak, dan ‘ambisi’ memenuhi persiapan buku untuk tahun 2010. Ibarat kata, siang-malam menulis melulu. Wong yang mau diri sendiri.
Dari pagi, memahami buku Comparative Research: Approaches and Methods yang dieditori Mark, Bon Adamson dan Mar Mason, terbitkan Comparative Education Research Centre, The University of Hongkong, 2007. Buku setebal 443 halaman merupakan kumpulan 16 (enam belas) artikel yang menyajikan berbagai artikel sesuai keahlian masing-masing penulis dari studi yang mereka lakukan. Berat memang.
Alhamdulilah, karena tugas ya dilakukan. Saya punya target, subuh nanti selesai. Besok membuat power point karena akan dipresentasikan hari Sabtu. Lelah, capek, bosan, atau muak? Entahlah. Saya hanya ingin menyelesaikan.
Barangkali, menyenangi menulis, atau setidaknya berusaha menyenagi tugas itulah yang ‘menyelamatkan’. Namanya saja mahasiswa. Kalau tidak dilakukan, yang rugi diri sendiri. Lagi pula ini ‘pelatihan’.
Latihan membaca, memahami; meringkas, mengolah, menganalisis, dan berujung mempresentasikan. Menulis itu belajar, membelajarkan diri. Itu kata kucinya.
Degan kata lain, melatih menulis dengan menulis. Mencintai tugas bisa jadi berarti mencintai diri. Mengeluh atau beralasan barangkali tidak cocok bagi yang berkeinginan menulis. Senangi. Nyamankan.
Bagaimana menurut Sampeyan?













5 Responses to “Nyaman Menikmati Tugas Menulis (9.7)”
By Nurita Putranti on Feb 8, 2010 | Reply
segala sesuatu yang dikerjakan dengan senang dan gembira, insya allah akan memberikan hasil yang maksimal.
***Itu dia, mulai dengan niat baik
By Khalid Abdullah on Feb 8, 2010 | Reply
motivasi menulis tatkala ada tujuan yang jelas yang melandasinya… itu menurut saya mas…
salam kenal yo…
By darahbiroe on Feb 8, 2010 | Reply
ijin mengamankan ketigaxxx
berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih
By andry sianipar on Feb 8, 2010 | Reply
Salam super-
salam hangat dari pulau Bali-
memang harus dihadapi mas,,,,
hidup adalah perjuangan tanpa henti…
By Rafi on Feb 8, 2010 | Reply
menurut Saya, Dalam kegiatan menulis yang paling terpenting Ikhlas, dlm kondisi tenang & tanpa paksaan. sehingga Ide-ide pun bisa mengalir lepas.