Buku Bersama 2010 (01)

8 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Keajaiban Umrah Ramadhan

Oleh Om Abenk (identitas?)

Keajaiban tidak pernah kita sangka. Kita tidak dapat merekayasanya. Keajaiban hak prerogatif Allah SWT. Keajaiban datang tidak mengenal waktu dan tempat tanpa kita sadari muncul begitu saja di hadapan kita sebagai sebuah fenomena yangg sungguh sangat luar biasa. Kejaiaban adalah kurniah Allah SWT.

Alhamdulillah. Pada bulan Ramdhan 2007 saya berkesempatan melakukan ibadah umrah. Kenangannya dibagi kepada ‘Jamaah Fesbikyah’, mana tahu, ada hikmah dari keajaiban yang saya alami dan semoga menjadi pemicu kita semua mendekat diri kepada Dzat Yang Maha Agung. Betapa tidak. Allah SWT berkenan memperjalankan hambanya yang dhoif ke Tanah Haram melalui ibadah umrah Ramadhan.

Begitulah. Tanpa terasa pesawat Garuda Indonesia mendarat di King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi. Perasaan galau, haru, gembira campur aduk menrepa jiwa. Tidak sabar hati dibuai angan yang segera akan menjadi kenyataan, mengunjungi kampung Rasullullah, Madinah al Munawarah.

Ke luar dari banadara yang luas dan megah kami menaiki bis yang membawa ke Madinah. Saya duduk sembari memegang minuman botol dan roti yangg dibeli di Jeddah. Pada pertengahan perjalanan, tiba-tiba saya tidak mampu menahan tangis yang membuncah dari dalam. Tersedu-sedu dalam tangis tertahan karena takut mengganggu jamaah lainnya. Teringat Rasullullah SAW takkala beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan pakaian seadanya dan dengan bekal seadanya.

Berhari-hari Rasulllullah SAW berjalan menuju Madinah menghindari upaya pembunuhan kaumnya sendiri, Qurais. Persaan luluh dalam sedih dan p[rihatin, Rasullullah SAW sangat menderita terusir dari negerinya , dikejar-kejar untuk dibunuh. Dalam hati dalam deraian air mata: “Ya Rasullulah, maafkan kami yangg tidak tahu diri ini. Kami duduk di bis berpendidingin sembari makan dan minum dan terkadang bercanda menuju tanah hijrahmu. Engkau, ya junjungan,  berhari-hari tidak makan tidak minum dalam kejaran para pembunuh. Maafkan kami Ya Rasul. Kami khilaf. Kami bisa begini berkat perjuanganmu.

Ya Rasul, ya Rasulullah. Engkau rela mempertaruhkan nyawa demi tegaknya syiar Islam. Maafkan kami Ya Rasullullah. Dalam doa bathin, Subhanallah, sekonyong-konyong dari jendela bis arah sebelah kiri … saya menyaksikan bayangan sekelompok orang bergamis dan bersurban khas orang arab beriringan mengendarai onta ke arah Madinah di tengah gurun pasir yangg luas seolah tanpa tepi. Bayangan tersbut muncul kurang lebih 30 detik dan kemudain hilang berganti dengan gunung batu sepanjang perjalanan.

Batin meyakini sebagai ‘bayangan’ rombongan Rasullullah SAW  takkala hijrah ke Madinah 1400 tahun yang lalu. Ya, saat ini sangatlah jarang orang Arab bepergian degan onta. Allah SWT menampakkan gambaran masa lalu walau sekejab. Mufahan bukan hallusinasi. Amin. Saya menyadari inilah keajaiban yangg ditunjukkan kepada hambanya yang “mengganang” Rasullullah SAW.

Setiba di Madinah, sebelum turun dari bis dalam hati kecil berkata: “Yaa Allah, bagaimanakah gambaran mesjid Nabawi takkala Rasullullah masih hidup? Subhanallah. Tiba-tiba pemandangan kota Madinah yang penuh degan bangunan gedung besar dan bertingkat sirna berganti padang pasir luas dan mesjid kecil beratapkan daun kurma berdiri degan anggunnya. Mesjid Nabawi pada jaman Rasullullah. Saya tersentak seraya mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang membuka hijab dan menunjukkan rahasinya.

Dari kedua ‘keajiban’ yang Allah SWT perlihatkan, lebih merasakan bagaimana kehidupan Rasullullah SAW. Setiap jengkal tanah di Madinah pernah Rasulullah lalui adalah Madina yang dulu sehingga pada setiap langkah kaki merasakan suasana kebatinan, berada di jejak-jejak Rasullullah. Setiap menghirup udara Madinah karena udara Madinah adalah udara yang pernah dihirup Rasulullah. Baghkan, debu Madinah adalah debu Rasulullah.

Madinah adalah gambaran pribadi kekasih Allah yang memang amat dicintai, kekasih Allah SWT. Allahu Akbar … Allahu Akbar … Yaa Rasullullah. Hambamu datang di kampungmu, di mesjidmu, rumahmu, dapurmu, makammu,  mihrabmu, mimbarmu, musyafmu. Beri kami syafaat di Yaumil akhir, ya Rasulullah, Ya Allah Yang Maha Kuasa.

Saya pun diberi keajaiban Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT. Ketika beziarah ke makam Rasullullah SAW, seorang tua bergamis putih, berjubah hitam, bersurban putih, berjanggut putih lebat, bertongkat kayu memandu ziarah. Seorang kakek dengan wajah berwibawa dan tatapan penuh kasih membimbing langkah demi langkah dengan telaten.

Allah Maha Besar. Takkala menuju Mekkah barulah terpikir, siapa gerangan yang membimbing kami? Saya berniat, apabila diperjalankan lagi ke Mesjid Nabawi, akan mencari kakek tua tersebut, memastikan gerangan. Wallahu Subhanahu wataa’la A’lam.

  1. 4 Responses to “Buku Bersama 2010 (01)”

  2. By Guru Go!Blog on Feb 8, 2010 | Reply

    Kayaknya saya bisa mengamanken pertama ya pak?

  3. By Guru Go!Blog on Feb 8, 2010 | Reply

    Ini cerita haji ya pak?

  4. By Guru Go!Blog on Feb 8, 2010 | Reply

    Ini cerita haji ya pak, semuga kita semua bisa ngambil ibrohnya.

  5. By achoey on Feb 9, 2010 | Reply

    Allah Maha Pemberi Petunjuk

Post a Comment