Menulis Berkawan Nyaman (9.5)
6 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |Lingkup kehidupan saya hanya level lokal di Kalimantan Selatan. Coba ketik kata Ersis Warmansyah Abbas, Paman Google mencatat puluhan ribu. Hebat juga. Saya tidak tahu. Erwin D. Nugroho, Bos JPPN, yang menyuruh mengetik semisal: ‘Teori Menulis’, nah ‘Menulis Tanpa Berguru’ peringkat atas. Dan, banyak lagi. Oh begitu kiranya. Saya tergolong gaptek.
Lagi pula, hal-hal sedemikian, jangankan dibangakan, wong paham saja tidak. Tetapi, satu hal, ternyata dengan menulis melempangkan jalan untuk berkawan.
Kalau makan di restoran, sudah bukan hal baru lagi: ‘Pak sudah dibayar. Bapak yang berbaju dinas yang membayarkan’. Aneh saja, kenal saja tidak kok mentraktir. Tapi, begitulah nasib penulis. Belum lagi diberi kemudahan untuk banyak hal. Menyenangkan.
Bagi yang berpikir ngatif:: “Nyata saja, kalau tidak dibayarkan, nanti Anda tulis kejelekkannya”. Ya, Allah SWT menciptakan Malaikat, juga Iblis. Iblis yang memandang sesuatu negatif, berniat jelek, agar semua masuk neraka.
Hmm … bukan sombong, dari walikota sampai Gubernur, bercanda dengan mereka hal biasa saja. Contoh SMS Gubernur: “Sis … Aku lapar. Kita makanan di Cendrawasih … Sudah dimana?”. Seaslinya disalin. Erwin pernah menulis: Ersis menulis apa adanya. Pengalamn pribadi dengan orang lain sekalipun. Padahal, belum tentu orag itu suka ditulis.
Entahlah. Saya bukan ‘orang baik’. Setelah dipikir-pikir, kritikan Bambang Subiyakto benar adanya. Saya bicara suka-suka saja. Mau marah kek, mau cemberut, sebodoh. Masyak harus menyenang-nyenagkan. Bicara apa yang dipikirkan, sesuai pendapat saya. Agak mengoreksi diri setelah mengikuti ESQ Training. Ary Ginanjar menekankan: Kecerdasan sosial. Berarti, saya dungu sosial selama ini he he.
Sudahlah. Kalau dipikir-pikir, lalu kenapa pejabat sampai penguasa mau berteman? Bicara tidak bagus, body language apa lagi. Kalau kesal ya kesal saja, ngak suka, bilang tidak suka. Ringkas saja.
Saya jarang memuji, apalagi pejabat. Tapi, kalau memuji, ya memang pantas dipuji. Jangankan mereka, dengan Dekan FKIP atau Rektor Unlam, atasan saya, kalau tidak setuju bilang saja tidak setuju. Mau berdua, saat rapat, atau pada acara resmi, sama saja. Bagaiaana kalau tidak disukai? Urusan merekalah.
Dalam kaitan menulis, jangan-jangan ‘apa adanya’ itu yang menjadikan ‘bersahabat’ dengan banyak orang. Sementara, dengan yang sukanya hanya dipuji saja, sudah terseleksi secara alamiah sejak awal. Jadi, kalau mendapat teman memang yang pantas dijadikan sahabat.
Mbuh. Belum pernah menganalisisnya secara radiks. Yang pasti, menulis sampai sejauh ini membuahkan kenyamanan dalam arti persahabatan. Alhamdulillah.
Bagaimana menurut Sampeyan?













2 Responses to “Menulis Berkawan Nyaman (9.5)”
By Anang on Feb 6, 2010 | Reply
saya menuliskan komentar ini berkawan nyamuk.. hihihi…
***Ha ha ha nyaman dan nyamuk
By volver on Feb 7, 2010 | Reply
Kalo blogger itu juga penulis ya pak ? Walaupun bukan paper/cetak tapi tetep peenulis iyah. kadang bingung juga sih, penulis, atau blogger
***Pastilah … kalau ngak nulis gimana jadi bloger dong