Menulis Kata-Kata Menjamah Rasa (9.4)

5 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Semilir angin malam dingin-dingin sejuk. Penjara ingin membalut harap di Bandung nan mempesona. Roda hari berpacu lebih kencang. Canda anak-isteri mendenda batin, hadir dalam bayang rindu. Nun, di kaki gunung Kerinci, asal diri, Ibu-Bapak mogahan sehat walafiat. Doa dipanjatkan.

Malam makin mendaki, globalization berbungkus international education semakin menggaruk, local genius harus dipancangkan kokoh agar persada jangan di telan mentah-mentah. Duh … Mak, muatan lokal digadai English. Mau jadi apa bangsa ini. Meruwetkan pikiran menghujam rasa.

Pisau aturan memotang rizki, mereka megasahkan kilat pedang, bukan untuk mereka. Mata dipaksa, tangan diminta, pikiran didera, pelatihan demi negara. Mereka tertawa terbahak-bahak membagi korma, menjulur lidah: “Rasain loe, siapa suruh sekolah”.

Dunia ini misteri, nasib ini, bukan Allah SWT lagi yang menentukan, mereka-mereka menyiksa dengan mesra. Bumbu-bumbu logika ala pembenar mengirim duka. Dasar durjana.

Duh Gusti ya Allah. Maafkan mereka. Serakah bukanlah fitrah, rantai kuasa memesona, biarkanlah nikmat dikecap, mereka akan tahu: Kekuasaan bukanlah segala.

KasihMu Asmaul Husna tidak mudah dicerna. Angin masa akan berkhabar, keserakahan mudahan bertukar doa berbuah doa nenelur rasa dalam cinta sesama.

Malam semakin mendaki. Doa-doa mengiring duka menuai suka lampaui puncak-puncak menara gema menaik ke ArasyMu, ya Yang Maha Kuasa. Tiada dosa dalam duka, tiada kata kalau tak bermakna. Kehidupan adalah pembelajaran.

Malam ini bintang-bintang nun di sana krdipkan cahaya, panggil-panggil gema surga, berjalan di BumiMu jalankan hadiahkan celaka. Setiap yang ada adalah keadaan labuhan cinta sempurna tentang ada dan tiada dalam ke-adaan-Mu, ya Allah Yang Maha Sempurna.

Maafkan hamba Ya, Rabb, ketika telunjuk mengancung, empat jari menanda dada, … salah. Ya Allah, jangan biarkan hamba menendang pasrah, tiada apa-apa manakala apa-apa tiada. DalamMu tiada petaka.

Tangan ini menghapus prasangka menjauh dosa dalam kata-kata yang tak sempurna. Kau kisahkan tentang mereka yang tiada goyah dimakan kala, kisah hamba adalah buah kata, ampuni kalau tak bermakan dalam kisah perkasaMu. Ampuni ya Yang Mahapengampun. Biarlah hamba belajar kata-kata, memetik mencerna memamah adanya rona kata.

Ya, ya Allah. Kau lihatlah kami bersaudara, dunia maya dunia ada dalam tiada, kami yang menuju berkah, berkahMu untuk sesama.

Kata-kata adalah doa, kata-kata adalah makna, kata-kata adalah berkah. Kata kami adalah kami. Hati kami adalah kami, kami yang menulis kata-kata, kata-kata untuk dibaca, kata-kata menjamah rasa. Menulis kata-kata nyata adanya rasa.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 4 Responses to “Menulis Kata-Kata Menjamah Rasa (9.4)”

  2. By hendro on Feb 5, 2010 | Reply

    saya hanya bisa mengatakan,,
    SEGALA PUJI BAGI ALLAH TUHAN SEMESTA ALAM

  3. By Hendriawanz on Feb 5, 2010 | Reply

    mengarungi dinamika kehidupan
    bak menaiki kapal kecil nan ramping, meliuk-liuk menembus ombak.
    ada tantangan namun ada pegangan.

  4. By muhammad fakhruddin on Feb 5, 2010 | Reply

    kata-kata bisa disusun indah,
    ak terbanding kalam Allah.

    ***MOnggo

  5. By afifharsono on Feb 16, 2010 | Reply

    mas EWA ya.. mau izin mas jadi muqolid artikelnya ..bolehkan?

Post a Comment