Menulis Membangun Silaturrahim (9.3)
4 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |Membangun silturrahim mendatangkan rizki. Yaps, saya lupa, kiranya hadis atau bukan. Yang pasti, Al-Quran dan Rasulullah ‘menganjurkan’ jalinan silaturrahim. Kalau silaturrahim beres, duh nyamannya. Caranya? Banyak cara. Satu hal yang mengagumkan melalui tulisan. Maksudnya?
Jujur saja, menulis di media cetak seperti menulis buku, melempangkan jalan berteman dengan banyak orang. Mendatangkan rizki sudah pasti. Hitungannya, lebih banyak positifnya dari negatifnya. Hal tersebut terus melebar dalam guliran menyenangkan. Apa pasal?
Sekitar dua tahun lalu, dikagetkan ketika memasuki wilayah blog melalui www.webersis.com. Tidak sampai setahun mendapat teman ribuan orang, komunikasi dunia maya marak, menjalin silaturrahim. Rizki mengiringi. Tidak ada sangkutan darah, atau profesi, bila ‘kopi darat’ duh nyamannya. Tidak bertatap muka, jalinan silaturrahim terkadang lebih kuat dari talian saudara. Begitu dahsyatnya jalinan silaturrahim sebagai kandungan menulis di dunia maya, blog. Mengagumkan.
Kemudian mucul Facebook yang lebih lincah. Jangankan melalui pertukaran artikel atau perbincangan serius untuk satu hal, dari komen-komen sambil lalu saja, rasanya begitu akrab. Luar biasa.
Dalam kegiatan menulis, tidak terhitung lagi ide dapat dirakit dari komentar konyol sekalipun. Begitu dahsyatnya jalian silaturrahim dari menulis. Menakjubkan.
Begitulah. Sejauh ini tidak menoleransi memanfaatan blog atau FB untuk menyerang seseorang, kalau secara umum dalam batas toleransi tertentu boleh jadi ya. Karena itu, tidak doyan mengunjungi atau mengomentari blog atau FB yang bermuatan hal ‘miring-miring’. Sebab, titik berangkatnya menjalin pertemanan. Pertemanan yang menyenangkan.
Bahwa, terutama dalam semangat memotivasi ada pihak yang terkritik, lalu marah, hal tersbut di luar maksud. Soalnya, ada yang menarik contoh umum ke wilayah pribadi. Seolah-olah yang ‘diserang’ dirinya. Terlalu PD kale. Peruntukkan umum dijadikan ‘milik pribadi’. Loba namanya.
Sebelumnya tidak terbayangkan, bagaimana bisa berkomunikasi dengan Suryanita di Jepang, orang sekampung yang belum pernah bersua, Kwek di Taiwan, atau Tari di Chile. Teman-teman buruh migran di Hongkong, Korena Selatan atau Amerika Serikat. Belum lagi orang cerdas di banyak kampus. Tidak terhitung. Hampir di setiap kota Nusantara saya punya teman akrab tanpa bersua. Ya, karena menulis. Tersebab ada fasilitas internet; blog dan FB. borderless world.
Hal-hal sedemikian sungguh menyenangkan. Alangkah tidak bijak manakala kehebatan dunia maya dijadikan ajang saling tikam. Rugi. Ekspresikan diri, jalin silaturrahim. Bila ada senggolan, maafkan. Senangkan diri, senangkan teman-teman, rubah musuh menjadi teman dalam damainya komunikasi. Mari bercanda sembari membangun kompetensi menulis. Menulis menyenangkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?













4 Responses to “Menulis Membangun Silaturrahim (9.3)”
By Sandy Guswan on Feb 4, 2010 | Reply
Mari jadikan blog dan FB sebagai wadah yang positif
By ofaragilboy on Feb 4, 2010 | Reply
sepakat and tentunya bersifat positif.
nice blog pak haji
salam
By hendriawanz on Feb 4, 2010 | Reply
sesungguhnya kebaikan pun tak pernah habis kita kupas dan kita jalani hingga akhir waktu. andai bisa habis, bisa berpikir yang lain.
yah, ini hanya perenungan.
By rimba on Feb 6, 2010 | Reply
wekekekekekek…..untunglah kang kita hanya bersilaturahmi lewat dunia maya sehingga hanya sebuah logika saja yang bisa saya berikan dan itu tidak terlalu rugi buat saya. coba kalau sampen ketempat saya selain saya harus menyiapkan logika ( bahan obrolan ) saya juga harus menyiapkan Logistik buat sampean ( Makanan ringan )hehehehehehehe. bukan begitu kang. salam silaturrahmi kang dari kami di KEbumen Jateng.
***Bisa jadi, tergantung Sampeyan he he