Menulis, Plong … Alamaaaaak (9.2)

3 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Banyak hal dibaca. Dari yang remeh-temeh sampai serius. Membaca tabloid dengan sajian bisa menggelikan sampai buku tentang Ibnu Rusyid yang begitu serius. Apalagi di ruang kuliah, dari wejangan dosen sampai diskusi saling adu argumen. Hmm … Keinchi Ohmae boleh saja membahas percaturan dalam The Borderless World dengan peringatannya. Dalam tarikan Indonesia, harus berbenah diri.

Betapa dalam kehidupan ini, banyak yang diinginkan, yan baik-baik semua. Tapi, kehidupan menyata lain. Hidup ini adalah perjuangan. Ada tantangan, ada kekecewaan, ada kesedihan, ada pula kesuksesan atau kegembiraan. Campur aduk. Kita harus tetap hidup.

Tangan beraksi, hidung mencium, mata melihat, telinga mendengar, apa saja yang dapat dijangkau. Semua ini saling berdesak meminta tempat di memori otak. Ada yang disimpan, dibiarkan lewat, atau ditolak. Macam-macam.

Otak kita, bisa pula ranah rasa, digempur ragam hal tiap saat. Mana pula dari dalam diri, aneka keinginan saling berebut minta direalisasikan. Diapakan? Terserah masing-masing kita punya diri.

Ada yang mengeluarkannya melalui kepiawaian bicara, kalau tidak tertanggung berteriak histeris. Konon, apa yang bergejolak tersebut, kalau tidak dikeluarkan bisa bikin hang, nenbuta stres, atau apalah namanya. Puncaknya gila.

Wahai pembaca yang Budiman. Tidak salah bukan manakala disalurkan dengan menulis? Tentu, apa-apa yang dipikirkan, apa-apa yang dirasakan, apa-apa yang dimaui, tidak layak begitu saja dikeluarkan begitu adanya. Ada filter, ada pertimbangan. Terjadi lagi pergulatan dalam diri. Ya, begitulah seharusnya.

Hasil pergulaatn diri, manakala menjelma menjadi tulisan … duh nyamannya. Plong. Terserah, mau dijadikan catatan pribadi atau dipubliaksian, soal pilihan saja. Yang penting, begitu ‘sesuatu’ menjadi tulisan, pikiran nyaman, perasaan enak, badan ‘ringan’. Pernakah mengalami hal serupa? Kalau ya, menulis adalah jalan bagi kesehatan jiwa dan raga. Dalam hidup ini yang dicari, satu dintaranya, kenyamanan. Kalau menulis ‘memberi’ kenyamanan kenapa dihindari?

Bagi saya, itulah yang dirasakan begitu selesai menulis. Kalau begitu, menulis itu egois ya, demi kenyamanan diri sendiri. Bisa jadi. Tetapi, bukankah kalau orang lain dapat pula merasakan kemanfaatannya positif adanya.

Ya, menulis dapat jadi terapi diri. Minimal mengurangi beban pikiran, hantaman perasaan, atau menjinakkan ingin yang mungkin tidak terealisasikan. Menulis mendatangkan senang. Karena itu mari jadikan hal menyenangkan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment