Dijebak ‘Contoh’ Abstrak (8.10)

1 February 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Hampir dipastikan, banyak orang membaca apa yang tertulis, membaca tulisan, tetapi sedikit orang yang menuliskan apa yang dibaca. Hampir dipastikan, setiap orang memikirkan banyak hal, namun sedikit yang menuliskannya pikirannya. Jutaan orang terpingkal-pingkal membaca bacaan bermuatan kelucuan atau menitikkan air mata manakala membaca tulisan berkesedihan, tetapi tidak banyak yang menuliskan ketika disapa senang atau saat didenda sedih.

Jutaan guru atau dosen, bisa jadi memotivasi berjuta-juta anak didiknya untuk menulis, namun sungguh sangat sedikit guru atau dosen memberi contoh dengan karya tulisnya. Berceramah lebih dipilih dibanding memberi contoh karya nyata: “Ini lho contoh karya bagus, tulisan gurumu”. Mencontohkan dengan tataran ‘dongeng’ memang lebih mudah dibanding hasil perbuatan.

Seperti pula, banyak penatar memberi kriteria, arahan, rambu-rambu atau apalah namannya, hanya saja tidak banyak yang memberi contoh dengan praktik, apalagi hasil praktik. Ya, pada akhirnya, kegemaran ‘mendongeng’, mendongengkan hal-hal bagus akan bersarang di pikiran banyak orang, dan melahirkan ahli-ahli teori.

Coba lempangkan pandangan. Tidak mungkinlah bangsa ini tidak mampu membuat jarum untuk tambatan benang untuk sekadar melengketkan kacing baju. Faktanya, jarum-jarum tesebut berlabel, made in China. Sama halnya, beberapa dasa warsa terakhir, Indonesia memasuki masa emas penanganan pertanian. Pada kenyataannya, kita mengimpor beras, kedelai, dari durian sampai paha ayam. Entahlah. Ada belenggu something wrong.

Begitu pula, pada awalnya saya juga lupa, kenapa terjerambab memotivasi banyak orang menulis. Melihat beberapa orang mahasiswa saya yang berkeinginan menulis, memberi pencerahan. Lalu, sharing menulis bergulir begitu saja. Semakin hari semakin melebar. Memprihatinkan, sadar diri kenapa menulis kok dikesankan begitu sulit. Sebaliknya merasakan mengalir begitu saja.

Dengan kata lain, saya menulis apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan selevelnya. Tidak lebih. Kemudian berusaha membaca ini-itu, bertanya pada banyak orang tentang persepsi, apa yang dilakukan, kenapa sulit dan berbagai hal tentang menulis. Apa kesimpulanya?

Menulis melakukan. Teori, hal-hal ideal, atau keinginan kesempurnaan adalah ‘jalan’ bagi menulis. Menulis itu melakukan. Bukankah kita tahu tulisan seseorang melalui tulisannya. Kita bisa menikmati atau muntah membaca tulisan seseorang setelah menjadi tulisan.

Nah, dalam memasihkan menulis, terutama bagi pemula, berarti melakukan. Jangan terjerat dengan hal-hal ideal, itu hal abstrak yang susah ‘dikunjungi’. Berbeda dengan menulis atau hasil tulisan. Yang pertama melakukan, berupa aktivitas, yang kedua hasil aktivitas, berupa tulisan.

Saya pikir, setelah menulis terbiasa, bahasa lainnya, pada tataran standar, mari mengarah ke hal ideal. Bagaimanapun saya adalah ‘anak bangsa’ yang berkeinginan menulis sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti, apalagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit. Produksi buku kita kalah dari Vietnan yang baru kemarin sore ke luar dari perang dahsyat. Mari menulis apa adanya, sesuai kemampuan. Karakanlah, belajar, dan berlatih. Mangga.

Bagaiamana menurut Sampeyan?

  1. 6 Responses to “Dijebak ‘Contoh’ Abstrak (8.10)”

  2. By Nova Imoet on Feb 1, 2010 | Reply

    budaya membaca di indonesia aj kurang, apalgi menulis…

    ***Artinya, mari membaca dan menulis

  3. By Vicky Laurentina on Feb 1, 2010 | Reply

    Menulis itu hobi yang sangat eksklusif, Pak. Cuman dimiliki orang-orang yang senang membaca. Membaca apa saja, mulai dari baca koran sampai baca tulisan welcome di keset. Kalau orang sudah alergi lihat huruf yang banyak, niscaya otaknya tumpul dan tidak lagi mau menulis. Jangankan orang itu mau menulis panjang. Menulis komentar yang pendek tetapi bermutu saja dia akan kesulitan.

  4. By Ersis Warmansyah Abbas on Feb 1, 2010 | Reply

    Nova: Ngapain ngeluhkan Indon … kita tanya dan mulai dari diri senndiri … ntar Indon kan kumpulan kita-kita
    Vicky: hmmm .. makanya kita membaca dan menulis …

  5. By Diah Anggraini on Feb 1, 2010 | Reply

    bagai mana dengan keberbakatan menulis, menurut anda?
    bukankah bakat itu juga diperlukan.

    lantas bagai mana dengan orang yang berkeinginan menulis, tapi di mentahkan oleh perasaan tidak memiliki bakat tuk menulis?

    ***Kalau saya ngak percaya: bagi saya kita dah ditiipi potensi sejak lahir, tugas kita mengembangkan dengan melakukan …

  6. By warm on Feb 1, 2010 | Reply

    bukankah teori juga asalnya adalah dari pengalaman yang dituliskan, ya :)

    ***Bisa jadi

  7. By Hendriawanz on Feb 1, 2010 | Reply

    Saya jadi ingat pelajaran waktu SMP. Pada zaman dulu, sudah banyak didirikan bangunan megah dengan perhitungan rumit. Candi Borobudur, Piramid sebagai contoh. Tetapi mengapa negara Barat sekarang begitu maju? Karena mereka sudah terbiasa menulis. Melakukan menulis. Dan itu menjadi “jejak” bagi generasi penerusnya tentang apa yang sudah diperoleh dan apa yang perlu dikembangkan.
    Kita sadari, banyak dari kita asyik mendengarkan dongeng, pepatah, cerita, pengetahuan, dari mulut ke mulut namun kurang mengimbanginya dengan menulis.

    ***Lebih kepada belajar dari tulisan dan karya pendahulu …

Post a Comment