Pembunuh Berbuat (8.9)
31 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Menulislah yang baik-baik. Menulislah dengan dasar pemikiran mendasar dan kokoh. Menulislah dengan memakai bahasa Indonsia yang baik dan benar, jangan mengabaikan EYD. Apabila menulis sesuatu, berkacadirilah, apakah yang ditulis seusai dengan apa yang dilakukan. Ingat, kalau menulis jangan sampai salah, penempatan titik sekalipun.
Mau menjadi penulis? Sudahkah mampu menulis seperti HAMKA? Bacalah betapa pusitis kalimat Kahlil Gibran. Berkelana mengikuti tulisan Karl May, sungguh mebuai. Bacalah buku-buku Pramoedya Ananta Tour, begitu bagusnya pengagarapan cerita berlatar belakang sejarah. Menulislah sperti Pram.
Pernah kan membaca novel Andrea Hirata, NH Dini, atau Abdullah Harahap? Menulislah seperti mereka. Ya, nasehat sangat bagus.
Kita bersyukur, Indonesia syarat guru, motivator, kritikus, atau apalah namanya yang berkeinginan menulis hal-hal sempurna dengan cara sempurna. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Bagus. Ideal.
Tidak ada seorang pengurus bola di republik ini yang tidak bangga dengan apa yang dilakukan. Demi Merah Putih. Kenyataan saja yang ‘aneh’. Laos, baru saja menghajar Tim Merah Putih. Dulu, di kawasan Asia Tenggara Tim Merah Putih ditakuti. Dulu. Ya dulu. Bila Timor Leste mengalahkan Indonesia, berarti semua negara telah mengeokkan Indonesia.
Dengan kata lain, antara apa yang dimaui dengan apa yang terjadi, dua hal berbeda. Pada banyak kasus, diskravensi das sein dan das sollen begitu menganga. Lalu, dalam menulis apa kaitannya langsungnya?
Menulis dalam bincangan tataran ideal, ya begitulah. Tetapi, dalam arti melakukan, lain lagi ceritanya. Melakukan menulis menghasilkan tulisan. Jelas adanya. Tidak ideal lagi.
Karena itu, melakukan itu yang dilatih, bukan berbicara ideal. Membincang keidealan sebelum menulis. Coba saja, mereka yang hebat-hebat secara ideal, berapa orang sih yang mampu menulis sebagaimana dimaui? Sedikit.
Sebabnya sudah jelas. Melakukan memerlukan latihan, pembiasaan. Itu pula sebabnya saya mengibarkan semangat, latih menulis dengan menulis. Menulis adalah keterampilan, keterampilan didapat dari melakukan. Latih itu.
Apabila berjehendak menulis yang dilatih hanya hal-hal ideal, menulisnya tidak, namanya membutnuh potensi menulis dengan ‘berpikir’ dan meluluhkan angan ke hal-hal ideal. Potensi diri diselamkan pada yang super hebat, maha sempurna, sementara keterampilan tidak di asah.
Jadi, kalau berkeinginan menulis, lakukan menulis. Hal-hal ideal adalah gambaran yang akan dituju. Jangan membunuh berbuat, membunuh menulis, dengan penjara ideal. Hal ideal adalah sasaran bagi panah ingin. Menulislah.
Bagaimana menurut Sampeyan?













6 Responses to “Pembunuh Berbuat (8.9)”
By hersu on Jan 31, 2010 | Reply
oke, mari membudayakan menulis. Dikatakan sudah berbudaya jika sudah mengabadikan pikiran dengan tulisan (iya ga sih)…
***Bagian kecil aja he he
By Sema Tarbiyah on Jan 31, 2010 | Reply
Sepakat tuh, Pak. Jadi, menulis memang butuh keterampilan, dan keterampilan butuh diasah dan dilatih…
Salam kenal dari Sema Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya….
***Yoi … senang ne kenal ama-ama dengan dari Sunan Ampel
By geblek on Jan 31, 2010 | Reply
“Jangan membunuh berbuat, membunuh menulis, dengan penjara ideal.”
saya suka kalimat ini. masih belajar menulis, terkadang ide malah terbunuh saat niat menulis ada
By DV on Jan 31, 2010 | Reply
Hahaha, ideal adalah sasaran panah ingin?
MANTAP, Pak!
By Rindu on Jan 31, 2010 | Reply
Menulis adalah makanan jiwa, pengasah jiwa .. ehm, kapan yah saya bisa jadi penulis buku
By Hendriawanz on Jan 31, 2010 | Reply
Saya jadi ingat bahwa jika ingin menuai padi, maka perlu waktu untuk menanam benih dan memilihara pertumbuhannya.
Artikel menarik. Saya follow ya..
***Yoi