Memupuk Dengki Membunuh Potensi (8.8)

30 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Adakah kenalan Sampeyan yang menerbitkan buku? Atau, yang lebih sederhana, tulisannya diterbitkan media cetak terkenal? Atau, yang saat ini lagi ngtrend, tulisannya di FB disenangi facebooker? Kalau ya, reaksi Sampeyan?

Ada tiga kemungkinan. Pertama, Bangga. Terpacu dan terpicu mengikuti prestasi teman. Namannya juga teman. Teman berprestasi, ya senanglah. Prestasi siapa pun, kalau positif, wajar diikuti untuk berbuat lebih hebat.

Kedua, biasa-biasa saja. Apakah karena telah melewati fase tersebut atau memang tidak punya atensi, gempa pun dunia ini akan dianggap bias-biasa saja. Tidak ada pantikan emosional. Segala sesuatu dianggap kewajaran belaka.

Ketiga, ada ganjalan di hati. Kenapa ya Si Dongok itu bisa, saya tidak. Hmm … karya Si Dongok biasa-biasa saja, karya saya lebih hebat. Padahal, jangankan dibaca, ditoleh saja tidak. Apalagi, orang mau merogoh kocek mendapatkan. Hebat menurut diri sendiri. Lebih celaka, berkampanye, diam-diam atau bersorak, karya tersebut jelek.

Kalau punya kekuasaan, atau otoritas, menggunakannya untuk menghajar. Saking tidak senangnya, sampai dibumbui dengan aneka pembusuk rasa. Sempurna.

Kalau hendak membunuh potensi menulis, pilihlah perilaku ketiga. Tumor yang ditanam di pikiran dan rasa akan memakan potensi menulis. Kenapa?

Potensi yang bersemayam di diri memang tidak semuanya harus dikembangkan. Kalau ada yang dibunuh satu-dua, biasa saja. Tidak akan menggangu kehidupan. Misalnya, potensi menulis sembari mengembangkan potensi iri, dengki, hasad dan sejenisnya.

Hanya saja, mencari-cari kejelekan, menggalang pengikut agar tidak senang, memupuk rasa tidak senang, memerlukan waktu, energi, dan bisa jadi dana. Mengembangkan iri, dengki, dan hasad, menguras potensi. Nah, pratiknya memojokkan potensi untukmenulis. Berhasil deh membunuh potensi menulis.

Celakanya, penulis mana peduli dengan orang-orang berpenyakit demikian. Justru belajar dari segala bentuk reaksi, dari yang paling buruk sampai menyenangkan. Si Pendengki akan semakin terpuruk dengan kebenciannya. Bayangkan kalau bertemu, perasaan tidak nyaman. Melihat karyanya, darah bergejolak iri. “Menurut Sampeyan, bisa jadi tidak bermutu, tapi bagi saya memotivisi, mengairahkan”, kata istri atau suami, misalnya. Semakin sempurna deh.

Sebaliknya, jika berkehendak membangun potensi menulis, jangan pernah cemplungkan pikiran dan rasa dalam lembah tidak senang. Tidak menyukai sesuatu, jangan sampai menganggu diri. Anggap hal wajar. Setiap orang mendapatkan apa yang dilakukannya.

Mau mengembangkan potensi (menulis) atau membunuhnya? Kita bebas memilih. Terserah.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 20 Responses to “Memupuk Dengki Membunuh Potensi (8.8)”

  2. By andry sianipar on Jan 30, 2010 | Reply

    Salam super-
    salam hangat dari pulau Bali-
    wah beruntungnya saya main ke blog ini..
    langsung saya bookmark….
    artikelnya keren keren-

  3. By sauskecap on Jan 30, 2010 | Reply

    kalau aku apabila menulis mendapatkan banyak tanggapan rasanya sangat senang… perasaan iri apabila melihat tulisan orang lain yang lebih ramai dikunjungi kadang muncul. Kadang-kadang terpikir “tulisan kaya gitu aja kok bisa banyak pengunjungnya”.

    Tetapi dari situlah muncul semangat ga mau kalah, dan berusaha menulis dengan lebih baik. Selain menulis diikuti promosi juga tentunya.

  4. By Ersis Warmansyah Abbas on Jan 30, 2010 | Reply

    Andry: Salam menulis … hm muji ni ye … ngaklah kita sama belajar aja
    Saus: Yaps … semangat … semangat menulis

  5. By edratna on Jan 30, 2010 | Reply

    Senang jika ada teman yang bisa menerbitkan buku….hehehe

    Kalau FB..saya hanya sesekali mengoknya…dan tujuan buat FB, agar bisa mengintip kegiatan anak (tengok kiri kanan, semoga dia nggak baca komenku ini)

  6. By Ersis Warmansyah Abbas on Jan 30, 2010 | Reply

    Kalau ngintip ngak ketahua kan Bu he he

  7. By Perawan Desah on Jan 30, 2010 | Reply

    Benar mas, saya juga berusaha untuk berlatih menghindari iri dengki.Salam kenal dari Eny - Semarang ya mas.

  8. By Mariska Ayu on Jan 30, 2010 | Reply

    Mariska tak ingin berbuat iri dengki kak, karena itu hanya akan merapuhkan persahabatan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.

  9. By Guru Go!Blog on Jan 30, 2010 | Reply

    Kok terserah pak, apa pak Ersis mudah menyerah? HHH haks haks, just kid. :lol:
    Menawi miturut kula sih ampun ngantos kula ndamel boten remening penggalih tiyang sanes, amargi punika saget ndadosaken panasing ati, titik cemeng pak. Betul betul betul? :roll: :lol:

  10. By RhyzQ on Jan 30, 2010 | Reply

    maaf Om… untuk ini sy kurang sependapat. hehe…

    kalau sy sih nd pake teori kalau mau menulis. tergantung personalnya saja, mau menulis atau tidak.

    kalau menurut bobbi d’ potter (cie… pake referensi segala) tingkat kecerdasan seseorang untuk menyempaikan maksudnya dalam sebuah tulisan tergantung seberapa sering orang tersebut membaca, terlepas dari penilaiannya terhadap tulisan-tulisan yang ia baca.

    mohon dikoreksi kalau salah, sy jg bkn org yg jago nulis kok. hehe… tp senang bisa sharing disini.

    peace… :)

  11. By Ersis Warmansyah Abbas on Jan 30, 2010 | Reply

    Perawan: Yaps mBak Perawan .. eit maaf, mBak Eny, kita kudu lawan tu dengki di diri kita
    Mariska: Sip … itu dia, niatkan dan lakukan
    Guru: kulo mboten gretos he he
    RhyzQ: pendapat bagaimana mengoreksinya ya … namanya pendapat … nah kunjungi FB EWA: lagi dposting tu ‘Kesalhan Lgis’ … termasuk, barangkali, pendapat Sampeyan he he

  12. By didtav on Jan 30, 2010 | Reply

    makasih posting nya, salam dari didtav.com

  13. By Zian X-Fly on Jan 30, 2010 | Reply

    Terimakasih pak. Nambah lagi ilmu saya setelah membaca tulisan sampeyan.

  14. By Anang on Jan 30, 2010 | Reply

    disini selalu ada ilmu yang terus dibagikan… makasih pak…

  15. By ofaragilboy on Jan 30, 2010 | Reply

    keren kang..

    salam ngeblog

  16. By Blogger Bertasbih on Jan 30, 2010 | Reply

    syarat info….

  17. By liza on Jan 30, 2010 | Reply

    saya mau menulis pak :D

  18. By Ersis Warmansyah Abbas on Jan 30, 2010 | Reply

    didtav: Salam buatdidtav to
    Zian: Sama-sama
    Anang: ha ha ha …
    ofaragilboy: Salam Menulis
    BB: ya ya ya

  19. By Maren Kitatau on Jan 31, 2010 | Reply

    Balik kunjung Kang!
    Mau numpang nulis lagu
    Lagu ayang-ayang gung

    Salam kenal maya
    Kenal maya pada
    Maya pada goblog

    Notnotnya tak ada,
    Tak apa-apa lah!

    Salam!

  20. By nanaharmanto on Jan 31, 2010 | Reply

    Saya pernah “ngiri” melihat tulisan orang lain yang biasa-biasa saja menurut saya, tapi banyak pembacanya yang meninggalkan komentar.

    saya jadi terpacu untuk menulis lebih bagus lagi, dan lagi, dan lagi…
    Jujur, saya senang kalau ada banyak komentar di tulisan saya. menurut saya sih, komentar yang bagus dan membangun, membuat saya semakin bersemangat. sebab itu saya juga selalu berusaha memberi komentar yang baik.
    Kalau saya tidak “sreg” dengan suatu tulisan, saya tidak akan meninggalkan komentar apapun..

    salam,
    nana harmanto

    ***Yaps … kalau begitu buatlah tulisan bagus hingga dikomentari sebagi masukan

  21. By Kika on Feb 3, 2010 | Reply

    Yang penting menulis dan belajar memahami terus menerus. Salam

Post a Comment