Tulisan Kentut (8.7)
29 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Puuk, puuuuuk, puuuuuuuk. Kedatangan ketiga kalinya Hakim dan Qomar ke Bandung rupanya bersuasana baru. Kalau sibuk mengedit itu itu, menukar gambar untuk buku, atau sejenisnya, hal biasa saja. Apalagi, bersin-bersin. Sudah bawaan Qomar barangkali, sejak dua jam pertama di Bandung, bersin melulu. Dia bermasalah dengan udara dingin.
Puuuuuuk. Kentut. Ya mereka kentut bergantian. Saya hanya mengingatkan: “Kalian kan tahu, saking seriusnya aparat penegak hukum menegakkan hukum, kentut bisa masuk pengadilan lho. Tapi, ada prasyarat. Berkelahi dulu gara-gara kentut”. Hati-hatilah kalau kentut.
“OK, silakan kentut. Kentut hak azazi. Tapi, target menulis jangan abai”, dan kami terbahak-bahak. Kami memahami kentut sebagai hal wajar. Kalau kentut sampai dibuatkan undang-undang pelarangannya, wah bahaya tu. Celakanya kedua makluk ini tidak suka makan malam. Paling-paling roti kering. Dan, akibatnya perut kembung, dan angin terkeluar, jadilah kentut. So. Tidak mungkin dilarang.
Bagi saya sederhana saja, dari pada membahas asal muasal ketut sampai dampak dan resiko sosial, apalagi berkekerasan gara-gara kentut lebih baik menulis.
Gara-gara kentut, jangan abai menulis. Membunuh potensi menulis namanya. Bagaimana kalau tulisan seumpama kentut, melompong, dan bau? Kalau demikian hal serius.
Saya pernah menulis ‘Teori Berak’. Apabila perut tidak diisi sementara mesin usus terus bekerja, yang diputar angin. Akibatnya, yang terkeluar kentut. Apabila, tidak terbiasa menambahkan informasi baru ke otak, megisi lumbung pengetahuan, ya isinya ‘udara kosong’, kalau dikeluarkan, dituangkan, jangan-jangan ‘Tulisan Kentut’.
Entahlah. Yang pasti, Herita, PD II FKIP Unlam Banjarmasin datang ke kos saya. Rupanya, diberi bantuan Rp.7 juta. Alhamdulillah. Pasti bukan kentut. Ketika Bambang dan Ma’rupul datang kami ditraktir makan di Steak House Geger Kalong Bandung. Lumayan.
Setelah kangen-kangenan dan bicara ngalor-ngidul, sesuatu yang lama tidak dirasakan, Herita membawa ke toko penjual kelembu, sejenis ubi khas Bandung. Enak rasanya, agak kemanis-manisan. Walaupun masih kenyang, kami sikat saja. Lima belas menit kemudian … pruuuuuuk. Saya terkentut. Walaupun bukan kentut-kentutan. Tawa kami semakin menggelegar. Sekali lagi, memahami kentut hal biasa-biasa. Fiilsafat etika dikesampingkan. Apalagai, kajian norma.
Yang penting, gara-gara kentut jangan sampai membunuh potensi menulis. Jangan sampai, berkelahi. Dan, jangan-jangan lainnya.
Dan, jangan pernah tulisan sekelas kentut. Jangan membenci kentut. Hal terburuk dalam kehidupan kalau ditulis mengasyikkan. Ai … rupanya selesai sudah tulisan yang idenya hanya dari kentut. Jangan kentut sembarangan, Bro.
Bagaimana menurut Sampeyan?












