8.6 Menggadai Mau Melupa Ide
28 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Seorang ‘ponakan’ saya, maklum banyak punya ponakan dunia maya menulis di komen FB: “Kita banyak belajar dari tulisan, tetapi malas belajar untuk menulis”. Saya suka kalimat tersebut. Kalau tidak, mana mungkin dikutip dong.
Yeah, belajar dari tulisan, tepatnya buah pikir seseorang yang ditulis. Kalau dicacat apa saja inspirasi atau ide dari apa yang dibaca, dari yang tersurat dan tersirat, apalagi ‘dibalik’ semuanya itu, mencatatnya saja bisa memakan waktu berlama-lama. Itulah sebabnya, pada perkuliahan atau sharing, saya menganjurkan untuk tidak dicatat.
Saya punya keyakinan, otak kita mampu mendeteksi, memfilter apa yang bermanfaat, apa yang sesuai, apa yang cocok, sampai batas mampunnya. Orang boleh tidak sependapat. Itulah sebabnya saya tidak membawa pulpen kemana-mana. Biasanya, untuk menandatangi honor sebagai nara sumber meminjam pulpen orang. Sok loe ah?
Sure. Saya tidak melatih diri mencatat. Kuliah kek, pelatihan kek, atau mendengar ceramah kek. Memasukkan informasi sesuai kemampuan otak. Tidak memaksa-maksa. Saya sadar kemampuan otak ada batasnya. Logikanya, apa yang masuk otak, yang mampu ‘ditangkap’ otak, itu yang disimpan. Saya kan bukan orang hebat dengan otak berkelebihan.
Masukan terfilter, ketika di olah, karena memang sudah di ACC Otak, mudah dipanggil, ditambah-kurang, atau dijadikan landasan analisis. Betapa repotnya begitu akan menulis melihat ide tercatat, mencari bahan itu-ite, lalu mencek teorinya. Kapan menulisnya Bro? Saya enjoy saja membaca sesuatu, ada ide, diproses, jadikan tulisan, dan … lupakan. Tidak melatih diri berlama-lama. Emang Hamlet?
Ada seseorang begitu tulisannya dimuat di media cetak dibacanya berkali-kali, dipamerkan kemana-mana. “Bos. Lebih baik Sampeyan buat tulisan baru, biar dimuat lagi. Dapat duit lagi”. Artinya, belajar dari tulisan tesebut, pelajari, setelah masuk otak, lupakan. Yang tertulis dari susunan huruf-huruf itu yang dilupakan, makna tulisannya simpan di memori.
Saya berkemauan memotivasi, makanya begitu ada ide menyapa, langsung ditulis. Ide bukan dicatat. Tidak menggadai mau, tidak melupa ide. Ada pula orang punya bejibun ide. Ide tersebut dicatat rapih, dibelai-belai, dibanggakan kemana-mana. Punya segerobak ide pang. Saya punya sedikit ide, dan ditulis. Anehnya, justru ada yang bilang banyak ide.
Bagi saya justru terbalik. Punya sedikit ide, ditulis, jadilah tulisan. Karena dilakukan berkelanjutan, ide dalam bungkusan tulisan bertumpuk. Orang-orang punya banyak ide dan disimpan, terus ditambah tiap hari, namanya menumpuk ide. Membunuh ide, membunuh potensi menulis. Saya tidak sanggup. Lagian, untuk apa? Pernah berlama-lama?
Pernahlah. Misal, ketika menulis Tesis. Wuaw, cerewet. Tapi, sesuai tuntutannya. Kini, ketika mengambil posisi memotivasi hal tersebut tidak rasional.Lagi pula, banyak guru berposisi mengajarkan teori menulis. Saya memotivasi dengan tulisan. Mana yang cocok dengan Sampeyan itu yang diambil, dimanfaat, atau dipraktikkan.
Intinya, jangan meggadai mau, jangan melupa ide. Ide yang disarangkan di otak tidak lari kemana. Ide yang dicatat, akan merepotkan. Coba, kalau catatannya hilang? Mengingat-ingatnya memusingkan. Lebih ringkas, ide yang diingat itu dikembangkan, dan ditulis. Alias menulis apa yang ada di pikirkan. Bukan, memikirkan apa yang akan ditulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?













One Response to “8.6 Menggadai Mau Melupa Ide”
By RomoWage on Jan 28, 2010 | Reply
salam kenal, tulisan yang menarik dan kebetulan saya juga sedang mendorong teman2 untuk banyak menulis. Sekedar ber bagi info, pada tanggal 7 April 2010 yad ada launching buku 4 penulis wanita.
***Siiip … bagus