Berlagak Guru Besar (8.5)

27 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Menulis melakukan. Tidak usah didebat lagi. Siapa saja yang tidak melakukan menulis, tidak akan pernah menghasilkan tulisan. Ada sih orang yang tidak pernah menulis, eit … punya karya tulis. Bisa ditebak bagaimana dia sampai mempunyai tulisan. Wuaw … bukankah ada orang tidak pernah kuliah bisa bergelar Doktor. Teknologi semakin maju Bro … he he he.

Apakah Sampeyan pernah punya teman yang sangat piawai menilai, membahas, mengoreksi sampai mencaci-maki tulisan orang lain? Kalau belum usahakan mendapatkan teman seperti itu. Kenapa? Sampeyan dapat memanfaatkannya sebagai ‘anak buah’ untuk melihat kelemahan tulisan Sampeyan. Kerjain aja Bro.

Hanya saja, dalam konteks tulisan ini, kalau prilaku demikian dimapankan, itulah contoh membunuh potensi menulis dahsyat.

Betapa tidak. Tiap hari teman khayal kita —ditulis teman khayal tersebab kalau sebenarnya bisa ada yang masuk angin tentu kurang elok— membaca banyak tulisan. Membaca buku, media cetak, blog, FB, atau apa saja dengan super cepat akan ditemukan kekurangannya. Apabila berpenyakit senang menyakiti dia akan menghajar tulisan dan penulisnya.

Bagi penulis sejati tidak ada masalah. Harap dicatat semakin tulisan dimasalahkan semakin cepat menarik perhatian. Ibaratnya, kalaulah saya produser filem 2012 akan menyewa orang untuk melarang pemutarannya. Kenapa?

Membuat publik penasaran menonton. Promosi murah meriah. Padahal, bukankah film yang diputar di republik ini sudah melalui ‘potongan’ Badan Sensor Filem (BSF)? Kalau BSF yang didesak mengunakan gunting lebih tajam, lain lagi ceritanya. Wong filem berdurasi 2,5 jam bisa jadi 1, jam. Memulis dalam pengibaratan film ada dipangkalnya. Membangun ide, menulis cerita, menulis skenario.

Dengan kata lain, dalam konteks membangun kompetensi menulis, yang dikembangkan ya kemampuan menulis. Tidak ada alasan. Kalau berkehendak menjadi kritikus ya kemampuan kritik. Ingat, setiap kemampuan pada dasarnya punya peran.

Hanya saja, karena kapling sajian motiviasi menulis ala Ersis Writing Theory berbasis menulis belajar, ya menulis itulah yang menjadi core. Bukan berarti anti teori, anti kritik, dan sebagainya. Konsisten pada bidang garapan. Memotivasi.

Jadi, kembangkan potensi menulis. Jangan bunuh potensi menulis dengan ‘kebiasaan’ yang tidak berkaitan langsung, tidak kontributif bagi pengembangan potensi menulis. Apungan saya, menulis, menulis, dan terus menulis.

Sebaliknya, untuk membunuh potensi menulis, bak plesetan pepatah: Beribu-ribu cabang jalan menuju Roma. Tidak usah sok jadi Guru Besar Menulis. Menulis saja dan tulisan yang dijadikan guru.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Berlagak Guru Besar (8.5)”

  2. By ALRIS on Jan 27, 2010 | Reply

    Pertamax…(makin mahal)
    Kebanyakan malah orang yang seharusnya jadi motivator yang jadi pembunuh nafsu menilis. Misal guru bahasa Indonesia waktu sekolah… Tapi tidak semua guru.

Post a Comment