Menulis Saat Lapar (7.9)
20 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Hari ini termasuk hari menyenangkan. Lima hari lalu ketika menimbang badan, bobot menaik, dari yang biasanya 66 kg menjadi 70 kg. Bertinggi 168 tentu tidak ideal. Makan kalau teman-teman ke kos. Saat ini semua orang sibuk mengerjakan. Alhamdulillah, bobot anjlok. Dan, ‘Buku Babon’ tentang menulis untuk tahun 2010 tengah ditulis dibelai.
Pada Bab VI dan VII bertumpu pada ‘Bagaimana Saya Menulis’. Karena buku dimaksudkan sebagai pemantap buku-buku sebelumnya, contohnya bukan bertumpu ranah logika, tetapi praktik. Tantangan menantang. Hayo.
Eksprimen pertama, bagaimana sembari kuliah menulis. Lolos. Sembari bincang-bincang, lolos. Persis seperti menulis saat mengikuti seminar. Menulis dalam berbagai kesempatan. EWT terus dikembangkan.
Mengurangi makan, memang membuat badan lemas, tetapi aktivitas menulis ternyata tidak terlalu terdenda. Setelah dihitung-hitung, produktivitas menulis menaik tajam. Dalam sehari menulis 5 sampai 7 tulisan ‘ringan-ringan’. Mengedit penelitian, sejarah perusahaan daerah dan sejarah daerah, melaju kencang. Eksperimen dapat dikategorikan berhasil.
Ketika Gubernur Kalsel berkhabar di Bandung bersorak dalam hati. Apalagi Pak Gub menghadiri acara silaturrahim dengan warga Kalimantan Selatan di Jawa Barat. Allah SWT selalu memberi peluang. Apa garang?
Saya ingin mengujicobakan menulis disaat mengikuti acara, apakah sama seperti mengikuti seminar? Kesempatan langka, dan tidak mungkin diabaikan. Begitu selesai kuliah, bersama seorang teman, meluncur ke acara. Kali ini ke luar ruang kuliah, tanpa memperdulikan siapa pun. Sangat bersemangat. Kesempatan datang tidak dua kali, dan tidak semudah dibayangkan. Lolos dalam praktik nyata.
Rupanya sama saja seperti mengikuti aktivitas lainnya. Bedanya, menulisnya lebih kencang. Bisa saja mematung menikmati pidato, tetapi telah memilih, sesuai niat awal, menulis. Lolos.
Tersadar saat perut ‘bernyanyi’ menulis lebih buas. Saya puasa makan nasi. Begitu sampai di kos digoda lapar. Aih … eksprimen dilanjutnya. Bukannya makan, tetapi menulis. Hasilnya? Tulisan yang sampeyan baca. Tidak ada hubungannya dengan mampu menulis cepat, ini eksprimen sekaligus contoh motivasional.
Saya jadi ingat, kenapa saat bulan Ramdhan produktivitas menulis begitu tingggi. Ada dua hal. Pertama, tekad manakala dikonsekuenkan melupkan hal lain. Kedua, melakukan sesuatu bisa mengabaikan yang lain.
Atau, melakukan sesuatu bersamaan. Hm … lapar berbuah produktivitas. Hanya saja, jangan digeneralisir. Eksprimen Bung. Teman-teman menikam: Loe bisa mati kalau ngak tidak makan”. Benar. Ke rumah makan Padang, yu.
Bagaimana menurut Sampeyan?













6 Responses to “Menulis Saat Lapar (7.9)”
By Dzakiyul Fuad on Jan 22, 2010 | Reply
asalamualikum.wah, aq tertarik ingin memiliki “buku babon” kpn akan dluncurkan k permukaan, dan dmana sy bisa mendapatkanya.makasih.wasalam
By yussa on Jan 22, 2010 | Reply
Ajaib….sebuah motivasi bagi saya yang sedang belajar dan belajar menulis. Sukses Pak.
***Salam sukses buat kita semua … Amin
By bayuputra on Jan 22, 2010 | Reply
membuat say termotopasi juga pak….
lapar…kadang membuat tidak konsentrasi….
By bayuputra on Jan 22, 2010 | Reply
Salam kenal dari saya di Kalimantan Pak…
***Sama-sama … Kalimantan luas kan he he
By anam on Jan 23, 2010 | Reply
memang luar biasa, kadang berpikir bisa lepas kala isi perut mulai mengelupas. tapi kadang loh!
***Yang kadang aja ambl he he
By edratna on Jan 24, 2010 | Reply
Pak EWA nih sering ke Jakarta Bandung, kok nggak kabar-kabar pak? Padahal bisa ketemuan walau sebentar
Menulis saat lapar? Wahh kepalaku pusing pak..jadi makan dulu baru pikiran jernih.Sambil mendengarkan pidato? Kalau yang ditulis pidatonya, tentu bisa pak. Jika menulis yang lain, berarti nggak mendengarkan pidatonya…atau pidatonya membosankan….
Ratna: Iya … kan lagi sekolah di Bandung Bu … bagus tu Bu … kapan ya