Menulis Suka-Suka (7.7)
18 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Seorang teman terkagum-kagum, temannya sangat fanatik memakai mesin tik untuk menulis. Kini zaman komputer Bung. Wow … setiap orang punya kesukaan atau prinsip sendiri. Ada lho yang heregene menulis dengan pulpen doang. Intinya toh menulis dan hasilnya, tulisan. Ingat komputer, desktop atau laptop sekadar alat.
Bahkan ada yang berpendapat lebih ‘maju’, bahasa sekadar alat, tools, bagi penuangan pikiran, berkomunikasi. Intinya, penyampaian pikiran atau komunikasi. Hebat berteori bahasa kalau praktik penuangan pikiran, semisal menulis dan berkomunikasi tidak bagus, ya sama saja boong. Mbuh … saya tidak tertarik memperdebatkan hal sedemikian, lebih tertarik praktik menulis.
Sekalipun demikian, membaca dan memahami hal-hal teoritik sangat bagus. Saya membaca teknik membaca yang baik, begini-begitu. Sedari kecil melihat Bapak membaca sembari tidur-tiduran atau di atas bis. Saya pun membaca dimana ada kesempatan tidak memandang tempat.
Anak saya, kalau makan membaca koran atau majalah. Dalam tatapan ideal mungkin tidak cocok, makan ada etiketnya. Ya, tapi apa salahnya makan sembari membaca?
Membaca dan makan pada waktu bersamaan. Pada ruang satu titik waktu melakukan dua kegiatan. Baguslah itu. Saya mmpraktikan dalam menulis.
Profesor mata kuliah Filsafat Ilmu, sata saya menulis tulisan ini, sedang mencounter sanggahan mahasiswa peserta kuliah S3 UPI. Saya menyimak sembari menulis dan sesekali melirik Paman Google yang memuat informasi tentang Postmodernism. Dalam ruang satu titik waktu melakukan beberapa kegiatan yang mungkin dilakukan.
Kita, barangkali tergadai demikian dalam melakukan sesuatu harus fokus. Fokus tidak ada salahnya dipahami lebih luwes. Kalaulah, akivitas hanya mungkin dilakukan tunggal, ya lakukan. Yang bisa bersamaan, bagus pulalah itu.
Misalnya, tahun 2010 saya bermaksud memecahkan rekor (sendiri) menulis buku. Beberapa buku sudah selesai sampai naskah sementara kuliah ‘memakan’ waktu. Yah, sudah. Setiap kuliah berusaha minimal menulis satu tulisan.
Alhamdulillah, di ruang diskusi, di ruang kuliah ternyata banyak ide bersilewaran dan didiskusikan, terkadang sangat tajam. Hm … saya merasa diuntungkan karena berpikirnya menjadi selintas, dan tulis. Dus, ternyata menulis bisa dimana dan pada kesempatan apa saja, kalau kita suka.
Yah, menulis suka-suka. Dalam artian kalau lagi ada kemauan menulis, tulis. Betapa repotkannya kalau menulis bersandar pada harus begini harus begitu. Wah susah saya menghasilkan tulisan.
Tapi, kalau kemauan menulis yang tidak kuat, ya banyak alasan yang bisa dikedepankan. Terserah saja, kalau mengangungkan alasan, Insya Allah jadi Raja Alasan.
Bagaimana menurut Sampeyan?













3 Responses to “Menulis Suka-Suka (7.7)”
By nadir abbas kamil on Jan 18, 2010 | Reply
dulu saya menulis spontan . di depan mesin tik tanpa konsep menulis s[ontan . setelah kuliah belajar teorti menulis malah tanbah gagu, harus bikin konsep, referensi da dan lain sebgai . saya pingin sekali bisa l;agi menul;is spontan
By Helmi on Jan 18, 2010 | Reply
salam hangat pak…
saya kemaren ngajar N terapin apa yang bapa terapin waktu kuliah (belajar ngeblob) keanak didik tapi benturan sama peraturan sekolah…
By Badiyo on Jan 19, 2010 | Reply
Karena saya belum punya komputer, saya menulis dengan pulpen di lembaran-lembaran kertas bekas. Asyik. Menulis suka-suka saya …