Menulis Menjepit Waktu (7.6)
17 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Menulis yang baik menulis di temat yang bersih, tertata, aman, berkondisi kondusif. Mana pula peralatan serba hebat, ketika dompet lagi tebal-tebalnya, pikiran terang, dan seabreg hal ideal lainnya. Kalau membaca hal sedemikian, kalau tidak tertawa mesem, saya curiga: Enak saja kamu membuat ‘aturan’ demikian? Bagaimana dengan saya yang tidak mungkin memenuhi segala kehebatan tersebut?
Bacalah buku tuntunan menulis, isinya ya begitu-begitu. Apalagi, kalau soal mood. Menulis harus tergantung mood, harus disaat in the mood. Aneh-aneh saja. Kenapa kok tidak mood yang dikondisikan. Hal ideal tentu saja diharapkan, tetapi kita hidup dan berkehiduapan dalam realitas. Tembus tembok aturan tersebut. Hancurleburkan.
Karena sadar tidak mungkin menulis di suasana idael, saya membiasakan menulis bila ada kesempatan. Keinginan menulis tidak mau digadaikan pada aneka teori tersebut. Kalau diikuti berarti tidak membiarkan saya menulis. Ah, perduli amat dengan teori. Sebodoh.
Ada satu hal, saya menulis lebih ganas ketika waktu yang tersedia begitu mepet. Saya belajar jangan dijepit waktu, tetapi melatih menjepitkan waktu. Misalnya, ketika menulis tulisan ini tengah berlangsung diskusi kelas. Saya sudah baca makalah, tidak perlu lagi mendengar penyaji. Toh sambil menulis bisa mendengar.
Secara berseloroh, saya katakan kepada seorang teman. “Nanti kalau pulang kuliah, timbuk anjing yang selalu menggogong ketika kita lewat.Begitu ditimbuk, Sampeyan dikejar. Parit dua meter atau tembok 1 meter, saking takutnya, terlompati. Begitu dilakukan waktu normal, ngak bisa deh.
Artinya, pada saat terjepit, potensi diri bangkit memainkan peran konstruktif. Nah, kenapa potensi diri tidak diasah? Yap, pengalaman menunjukkan, saat-saat tugas begitu mendenda, potensi maju ke depan menyelesaikan. Kalau lagi senggang, waktu banyak, malah leyeh-leyeh, leha-leha.
Coba perhatikan, orang seperti Quraisy Shihab, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, atau banyak lagi, memangnya mereka orang-orang yang berkeluangan waktu? Mereka orang sibuk. Lho, menulisnya kok begitu ‘ganas’? Mana tahu nanti mereka mau membuka ‘rahasia’. Kita tidak akan pernah menjadi, atau seperti mereka. Tetapi, tidak salah pula merubah minset, disela-sela kesibukan menulis.
Oh ya, gagasan ini ditujukan kepada mereka yang sibuk tetapi berkeinginan menulis. Kalau yang tidak punya masalah, apalagi tidak berkehendak menulis, ya menikmati tulisan juga tidak berdosa kok. Menulis tidak bisa dipaksa-paksa, tidak elok menjadi beban. Lagi pula, menulis bukanlah makanan pokok yang harus dikonsumsi.
Mula-mula saya juga heran, semakin banyak pekerjaan, terutama dalam menulis berbagai hal, semakin banyak hasilnya. Dasar dongok, jelas saja. Kenapa? Karena dikerjakan, dilakukan, dan dengan melakukan yang hasilnya berupa tulisan, ‘beban’ berkurang, dan potensi berkembang.
Ya, kuncinya karena dilakukan. Coba bandingkan, setiap hari diskusi, di rumah, di kantor, di ruang seminar, di gardu ronda, apa hasilnya? Paling-paling ‘kecerdasan’ terasah, tetapi tidak kemampuan menulis. Boleh ngak? Ya, silakan. Tapi, kalau berkehendak menulis, dari perspektif pemanfaatan waktu untuk menulis, ya tidak mendukung.
Menjepit waktu untuk menulis,mana tahan he he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?













One Response to “Menulis Menjepit Waktu (7.6)”
By Badiyo on Jan 19, 2010 | Reply
Betul pak. Menulis di mana saja dan kapan saja.