Menulis di Otak: Sekelabat (7.4)
15 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Menulis di otak sungguh sangat positif bagi kreativitas menulis, menulis produktif. Saya memang bukan orang kaya, tokoh terkenal, atau orang teramat penting. PNS biasa yang tentu saja punya kewajiban tertentu. Untuk menambah pendapatan, siapa pun paham di republik ini, gaji PNS tidak mencukupi untuk hidup layak, harus lebih giat bekerja. Walaupun pegawai ‘kelas tinggi’. Kelas tinggi? Ya, iyalah. Golongan IV. Sombong nie ye. Miskin aja sombong he he he.
Untuk itu menerbitkan media, mengelola kolam, sampai menyiapkan aneka tulisan untuk beragam seminar sampai aneka Diklat. Sebelumnya, tentu membaca. Kalau tidak, apa yang akan ditulis? Saya bukan penulis fiksi. Tulisan fiksi baru beberapa puluh cerpen, puisi, dan novel yang belum diterbitkan. ‘Menangangni’ kuliah … ternyata S3 itu wiuw … menguras enerji. Salut kepada mereka yang sekali seminggu ke kampus meraih predikat Doktor dengan amat sangat baik. Lebih salut, yang tidak pernah kuliah. Seorang kawan mengistilahkan, berdarah-darah. Kecerdasan orang berbeda-beda memang.
Menulis makalah, belum terbayangkan menulis Disertasi, harus membaca buku ini buku itu. Runtutnya harus begini-begitu. Full aturan. Mengeluh? Bukan itu soalnya. Apa?
Saya terlanjur bertekad menulis dalam kerangka memotovasi anak-anak muda, penulis pemula. Budgeting of time menjadi lebih rumit. Menulis kewajiban kuliah hal pokok, ‘ekstra’ jangan dilupakan.
Lebih menantang, kini mulai menulis untuk media semisal Kompas (Jabar). Beberapa tulisan untuk tahun 2010 sudah siap ‘tayang’. Perlu uang untuk membeli buku. Lalu bagaimana solusinya?
Susah menjabarkannya. Ringkasnya begini. Ketika kuliah memahami penjelasan dosen, teng … begitu saja ide terpantik. Dalam sekejab, pengetahuan terkait di otak seolah berkumpul membuat formulasi. Online adalah pilihan saat kuliah. Sebab, kalau dosen membicarakan anu-anu langsung dicek di internet. Pemngetahuan dieksekusi pada waktu itu.
Entah kenapa, berkait saja dengan tulis-menulis. Selalu begitu. Saya tidak paham juga. Ya, layar laptop dibuka dengan program PageMaker. Kapling beragam buku sudah tersedia. Ajaib, tidak pernah memikirkan kalimatnya, pilihan diksi, menjadi kalimat bermuara tulisan. Heran.
Hal tersebut dilatih menstrasfernya pada situasi dan kondisi lain. Mudahan, dalam sebulan ini memasihkan kiat tersebut. Daya tengah berjuang mengonsep formulasinya. Atau, itukah yang dinamakan menulis refleks? Entahlah.
Ya, bisa jadi distilahkan menulis tanpa berpikir. Menulis dengan berpikir sesingkat mungkin. Menulis melipat waktu. Tanpa disangka, seorang teman dari Jakarta mengirim buku Malcom Gladwell: Blink. Gladwell merujuk Gerd Gigarenzer perihal fast and frugal. Ditandem konsep adaptive unconciuos betul-betul menggena. Mengambil keputusan dalam hitungan detik. Ya, menulis Sekelabat. Siiip.
Bagaimana menurut Sampeyan?













5 Responses to “Menulis di Otak: Sekelabat (7.4)”
By Nurita Putranti on Jan 15, 2010 | Reply
ya, saya setuju dengan Abah Ersis
tapi dengan kenekatan menulis terjadilah sebuah tulisan 
jika ingin menulis ya menulis. sudah saya buktikan. ketika otak ini ada yang ingin disampaikan, lgsg buka laptop dan membelai keyboard. saya sendiri mengakui bahwa tulisan saya masih byk kekurangan *setelah selesai menulis dan dibaca ulang*
By Arief Rachman Heriansyah on Jan 15, 2010 | Reply
Ass…Abah!
Lama arief Tak kunjung,mengenai tulisan abah kali ini saya yang juga sangat suka nulis perpendapat dengan Abah.Otak memang bagian penting dalam hal berpikir agar ide atau imajinasi yang ada dalam kepala waktu menulis bisa tersalurkan dengan sukses…
By Ersis Warmansyah Abbas on Jan 15, 2010 | Reply
Nurita dan Aif … mari terus menulis …
By ALRIS on Jan 15, 2010 | Reply
Aih…menulis dengan berfikir singkat, mantap.
Tapi itu baru bisa dicapai kalau sudah fasih. Ya, menulis terus biar fasih.
By ewa on Jan 16, 2010 | Reply
Menulis, menulis, dan terus menulis … pasia jalan karano ditampua