Menulis Membuang Catatan (6.7)

6 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |

Seorang trainee Bandjarbaroe Post, media cetak milik saya, memperlihatkan catatan ringkasan wawancara dengan bersemangat. Dicuekin saja. Kalau laporan sudah ditulis, baru didiskusikan. Segera terlihat, mana yang pantas dimuat, ya dimuat, pantas di tong sampah, ya ditongsampahkan. Yang perlu ditulis ulang, ditulis ulang. Catatan?

Ahai, simpan sebagai catatan. Ada yang disuruh buang saja. Catatan sekadar pengingat, bukan ‘sumber’. Catatan memuat mana yang pokok, yang penting. Membaca atau mendengar berarti mengoperasikan otak, mencatat sami mawon. Lalu, disimpan di otak. Bukan pada catatan.

Yap, membaca catatan memudahkan mengingat keseluruhan. Membaca catatan berarti mengkonstruksi totalitas. Hasil bacaan berupa konstrukis tulisan di otak. Menulis, menuangkannya, menjadikan tulisan melalui proses panjang di otak, sekalipun durasinya beberapa menit saja. Fungsi mencatat, meringkas keseluruhan, dan kemudian untuk mengkonstruksi keseluruhan yang baru.

Saya, 25 tahun mendosen. Mungkin sudah ribuan mahasiswa mengikuti kuliah saya. Tidak terhitung sebagai pemakalah seminar, nara sumber berbagai Diklat. Kalau Sampeyan pernah melihat saya membawa pulpen, sungguh sangat istimewa. Mana bertahun-tahun menjadi pewarta. Bagaimana mau mencatat, kalau pulpen saja tidak punya.

Kisah bermula ketika pada semester pertama di IKIP Padang, Amir B., dosen pengantar Antropologi, menungaskan membaca buku Pengantar Antropologi Koentjaraningrat. Membaca serius, meringkas dalam beberapa kertas folio, dan mendapat nilai A. Tapi, ada rahasia besar dibalik tugas tersebut. Terima kasih Pak Amir.

Saya hapal inti buku tersebut. Catatan? Buang. Sejak itu melatih diri tidak mencatat. Pada akhirnya toh dicatat di otak, disimpan memori. Sampai, akhirnya ketika mewancarai Gubernur atau Menteri, tidak pernah mencatat. Alhamdulillah, tidak pernah ditegur karena salah kutip.

Kalau kuliah dengan saya, mahasiswa dianjurkan tidak mencatat. Tentu bertentangan dengan banyak orang. Begitu juga dalam sharing menulis. Bahkan, ditambah syarat: Tidak boleh melihat kamus, ensiklopedi, buku atau apa begitu, apalagi mencatat. Apa maknanya? Melatih diri memanfaatkan otak yang kapasitasnya tidak terbatas. Kalau tulisan menjadi, mari cek dengan catatan, kamus, atau apa. Hmm … kalau menulis sembari mencet di buku, tulisan cenderung tidak menjadi.

Begitulah. EWT bermuatan memanfaatkan dan melejitkan potensi diri. Kalau otak mampu dilatih mengingat, memproses, atau memproduksi sesuatu, kenapa tangan yang dilatih? Mula-mula bisa jadi susah, tetapi karena dilakukan, menjadi biasa. Ah, tidak cocok dengan ajaran guru saya, Pak. Kalau begitu, jangan dipaksakan. EWT satu cara dari sekian cara. Bebas memilih.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Menulis Membuang Catatan (6.7)”

  2. By ALRIS on Jan 6, 2010 | Reply

    Aha… Pak Amir Bronson dosen nan pagarah itu. Awak dulu maambiak MKDU samo baliau.
    Bagi yang sudah empu, seperti EWA, tentulah hal yang disebutkan diatas hal lumrah. Kalo bagi pemula? Ya… begitu deh.
    Lanca kaji dek dibaco, pasa jalan dek dilalui <<— kritik buat diri dhewek

  3. By Rizal on Jan 8, 2010 | Reply

    Umm.. bukankah mencatat juga termasuk salah satu aktivitas menulis Pak EWA, jadi… kira - kira baiknya gimana yach?

Post a Comment