Menulis ‘Ngapain’ Fokus (6.6)
5 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Satu kebiasaan ‘buruk’ saya, menulis bukan hanya menulis saja. Kalau ada teman, biasanya sembari bercanda. Sembari menonton bola atau menikmati ‘tarian kaki’ Michel Jackson, duh nikmatnya. Minimal, sembari mendengarkan lagu. Saya suka Hello Lionel Richie, Dealova Once, senandung Ebiet G. Ade, Be Gees atau hentakan Queen dan Scorpion.
Kebiasan tersebut dibangun dari kebiasaan suka mendengar musik. Muncul tanya: “Menulis sembari mendengar musik kok seolah dapat pelumas, begitu. Ah, kalau begitu, bagaimana kalau mata juga dilatih?”. Nyatanya bisa aja tu. Saya malahan punya mimpi, teknolog nanti menciptakan alat dimana dengan tatapan mata atau kekuatan pikiran apa yang ada di otak bisa langsung tertulis he he he.
Dengan kata lain, kalau fokus diartikan perhatian dan seluruh potensi diri hanya dihadapkan pada satu hal, menulis, kok merugikan begitu. Hal seperti ini, seperti juga menulis harus menunggu mood, kalau lagi mood baru menulis, lucu saja begitu. Ada yang mengatakan sok, ya biar saja.
Bagi saya, apa yang ditulis apa yang dipahami. Dipraktikkan. Rupanya, ‘paham’ menulis harus fokus, menulis harus menunggu mood sudah begitu merasuk. Sampai-sampai ada yang menyiapkan waktu khusus, tempat khusus, suasana khusus, dan khusus-khusus lainnya. Waduh, kalau demikian ‘harusnya’ saya tidak mungkin menulis.
Sebaliknya, melatih diri, menulis dimana sempat, kalau ada kesempatan, jadilah. Hingga, terhindar dari bertapa di WC, atau mengusir teman yang bertamu. Resepnya sederhana saja, kalau lagi menulis ada yang bertamu, Ok saja. Saya tidak akan berhenti menulis. Ngobrol sembari menulis.
Ya, syarat-syaratan, harus-harusan, dihindari. Bohong? Tulisan saya buktinya. Mereka yang bergaul dengan saya akan paham, ya begitu itu. Begitu pula, kalau suana kebathinan tidak hendak menulis, ya tidak menulis. Intinya, tidak memaksa-maksakan diri. Kontinu menulis lebih kepada kebiasaan. Tapi, jarang didenda malas menulis.
Ya, kata kuncinya kebiasaan, habit. Bukankah ketika kita membaca ‘sesuatu’ atau alat indera direspon ‘sesuatu’, ‘sesuatu’ memicu ‘sesuatu’ di pikiran? Nah, ‘sesuatu’ diformulasikan lalu ditulis. Bisa jadi, menulis susah itu kalau menulis apa yang tidak di pikiran kita. Kalau yang ada di pikiran, apa yang di pikiran, tinggal melatihkan untuk dituangkan.
Kata-kata yang sering dituliskan: Jangan memikirkan apa yang akan ditulis, tulis apa yang ada di pikiran. Itu kan untuk hal-hal sepela? Mana mungkin menulis skripsi, tesis, disertasi, atau jurnal ilmiah sedemikian. Kalau bermaksud menulis hal-hal akademis-ilmiah, silakan mengikuti kuliah saya. Saya pengampu mata kuliah penelitian he he he.
Karena itu, kepada yang nekad sharing serius menulis, memberi waktu sebulan. Tiap hari wajib menulis, tidak boleh beralasan. Nah, banyak yang sudah menikmati metode yang dilabeli Ersis Writing Theory. Paling-paling, apa yang telah dipelajari, telah ditanamkan di pikiran, simpan sementara. Kata guru, tentor, simpan dulu. Ternyata, …. Alhamdulillah banyak yang berhasil. Gratis lagi he he he.
Ya, setiap orang mengembangkan potensi dirinya, orang lain hanya memotivasi. Latih diri sendiri. Jadilah, guru menulis sekaligus murid menulis. Dengan, berkali-kali ingat, dengan melakukan menulis. Menulis, menulis, dan terus menulis. Menulis Tanpa Berguru. Tanpa membayar. Gratis.
Bagaiman menurut Sampeyan?













2 Responses to “Menulis ‘Ngapain’ Fokus (6.6)”
By marshmallow on Jan 5, 2010 | Reply
intinya kita harus dapat melatih multitasking capability ya, pak. biar lebih efisien penggunaan waktunya.
tapi pekerjaan yang dilakukan dengan fokus tentu akan berbeda kualitasnya dengan pekerjaan yang disambi hal lain toh? menurut hemat saya begitu. paling tidak kemungkinan kesilapan dapat diminimalisasi.
By Rizal on Jan 8, 2010 | Reply
Menurut saya sih… ya… dalam hal tulis menulis, ternyata saya masih termasuk dalam SPESIES yang suka berdalih dan beralasan ini dan itu deh…
Nyatanya dalam kondisi apapun Pak EWA mampu gitu… ^_^