Menulis Menunaikan Tugas (7.10)
3 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Bulan Desember tahun ini bulan ‘kepuasan’ menulis. Minggu lalu Hakim dan Qomar ke Bandung membawa bahan untuk buku Rudy Resnawan, Walikota Banjarbaru. Tiga hari menulisnya maraton. Kemarin sore, Qomar datang membawa bahan untuk buku PDAM Bandarmasih. Buku ini ditarget dua hari sebab menyusul kemudian menulis Sejarah Kotabaru.
Padahal, minggu ini punya target menyelesaikan buku kesepuluh (10) tentang menulis. Tulisan ini bagian akhir Bab VII dimana dua bab tinggal digabungkan karena sudah ditulis. Paling-paling tergoda menambah dua bab lagi hingga betul-betul menjadi ‘Buku Babon’ motivasi menulis. Buku motivasi menulis renyah-renyah nyaman.
Setelah itu, sudah antri 7 (tujuh) makalah perkuliahan. Dua untuk dipresentasikan, lima untuk tugas kuliah. Saya harus menulis ekstra cepat. Dan, itu menyenangkan.
Sebenanrnya, tumpukan tugas karena ‘kecelakaan’. Saya dan Bambang Subiyakto, sebenarnya tidak berniat menempuh pendidikan Doktoral (S3) tahun ini. Tapi, karena ‘dipaksa’ ikut tes, dan lulus, dapat beasiswa BPPS, ya kuliah deh jadinya. Prosesnya cepat, hingga tidak sempat memikirkan segala tetek-bengek persiapannya. Hidup sudah digariskan.
Akan halnya buku-buku proyek, kontraknya sudah ditandatangani sejak awal tahun, kecuali buku PDAM sebagai proyek dadakan yang disepakti bulan November. Itulah yang dinamakan menulis menunaikan tugas. Sama tingkatnya dengan menulis untuk keperluan kuliah. Menulis selain itu, apakah karena suka, iseng, memotivasi, atau apa begitu, tidak penting. Yang penting, menulis.
Mungkin ada yang menangkap saya pamer. Terserah. Saya sedang menulis buku dimana dua bab ditulis berdasarkan pengalaman langsung. Itulah sebabnya bereksprimen, berpuasa karena ingin merasakaa —secara sengaja dan khusu— bagaimana menulis saat lapar. Bagaimana menulis saat kuliah, seminar, mendengar pidato, dan seterusnya.
Konon, pengalaman langsung lebih murni. Saya tidak memikirkan atau mendiskusikan, apalagi berandai-andai dalam dalam bahasan logika sampai etika. Lakukan, dan lihat hasilnya. Konon lagi, pengalaman adalah guru terbaik.
Ada pula selipan mau, menulis sebaiknya dipahami dalam kontek belajar, membelajarkan diri. Pengalaman sharing menulis dengan ratusan ana-anak muda, pemulis pemula, ada kesan banyak yang dibelenggu teori ini, teori ana, teori ene. Serba teori. Membiasakan menulis, menulis dengan melakukan, belajar dari menulis itu sendiri, itu yang kurang. Alias, praktik menulis. Hal tersebut yang ingin dikuatkan.
Entahlah. Keyakinan saya semakin kokoh. Belajar teori OK, mengikuti nasehat penulis hebat OK, mencerna anjuran Raja-Raja Komentar, pun OK. Tetapi, belajar menulis sesungguhnya, tetaplah melakukan, menulis.
Artinya, siapa pun yang ingin membangun kompetensi menulis, ya dengan melakukan. Bayangkan, Tim sepakbola Indonesia dikalahkan oleh Laos. Dulu, Indonesia jawara tingkat ASEAN. Kini, dihajar Malaysia, Thailand, bahkan Singapura. Semakin hari semakin menyedihkan, Vietnam, Burma, dan Laos ikut-ikutan mengebuk. Saya tidak menyelaraskan dengan semakin hebatnya pengamat, komentator sepakbola di TV-TV nasional ’hebat’. Menulis melakukan. Menulis belajar, pembelajaran, menjadi Manusia Pembelajar.












