Menulis Kehidupan (6.2)
1 January 2010 | Ditulis oleh: ewa |Bandung. Kuliah. Makalah. Book Report. Book Review. Take Home. Gramedia. Palasari. Fotokopi. Lantai III, V, atau VI Gedung SPS UPI. Antri di depan lift. Diskusi. Google. Laundry. Mandi tergesa-gesa. Antri di depan lift. Begitu tiap hari. Bosan dan membosankan. Seorang teman mengeluh.
Seorang teman terenyuh. Beasiswa belum ‘cair’. SPP dan tetek benget perkuliahan bayar sendiri. Gaji untuk keluarga. Pendapatan sampingan nol. Teman dari teman menelepon: Situ kuliah nyaman. Universitas membantu Rp.20 juta. Si teman tertawa masam, pahit. Istrinya sakit. Duuuh. Sedih.
Hmmm … ada yang meminjam koperasi, menggadaikan SK. Ada teman dilanda ‘kecemasan’ luar biasa, ada yang bilang sters berat. Seorang lagi tidak kuliah, sakit. Kecapekan. Yaps, satu hal: Kuliah adalah perjuangan. Begitulah kehidupan. Usaha, perjuangan, bahkan pengorbanan. Banyak orang yang lebih parah. Wajib bersyukur. Hadapi kehidupan dengan semangat. Apa hubungannya dengan menulis?
Alhamdulillah, sampai hari mari sehat, enjoy-enjoy saja. Ada waktu luang menulis, legaaaaaaa. Disela-sela kuliah, menulis. Kalau ada dosen terlambat sepuluh menit saja, menulis. Kangen istri, rindu anak, menulis. Terutama puisi. Duh … bukan geer, dirasakan begitu indah dan ‘dalam’. Saya jarang menangis namun air mata meleleh. Kenapa?
Menulis dari kenyataan kehidupan, dari yang dialami. Menulis makalah tentang peradaban, perbandingan riset, atau Hasan Al-Bana, perihal tata ruang, spacial, bertumpu diranah otak, di pikiran saja. Menulis kehidupan menjadi obat batin.
Dulu, menulis untuk mendapatkan uang. Kini, kenapa tidak? Mulailah mengirim tulisan ke media cetak. Alhamdulillah, di muat dan dapat honor. Sharing menulis di beberapa tempat dilakoni. Prinsip pegangan, selama tidak mengabaikan kuliah, OK punya. Hidup ini perjuangan.
Lebih mendasar, menulis dimaknai, dan dipraktikkan bukanlah beban kehidupan. Menulis ‘koridor’ bagi banyak hal meringankan pikiran, melegakan rasa, menyamankan bathin, dan seterusnya. Menulis menyenangkan. Menulis menjadikan hidup lebih hidup, lebih bermakna.
Tidak beralasan, menulis menganggu kuliah. Justru, dengan menulis belajar. Tidak merengek-renget, menulis perlu waktu khusus, begitu ada waktu luang menulis. Bagaimana akan menulis, kehidupan sedang diuji? Menulis menghaguskan kesedihan, menjadikan kegembiraan pada tempatnya.
Menulis membangunkan potensi diri, membentang harapan, menerangkan pikiran mencerahkan batin. Sebab, menulis belajar dan membelajarkan diri. Asal, tidak beralasan. Menulis bukan angan-angan. Sekali lagi, membelajarkan diri. Menjadi manusia pembelajar. Believe it or not.
Bagaimana menurtut Sampeyan?













7 Responses to “Menulis Kehidupan (6.2)”
By Jidat on Jan 1, 2010 | Reply
Selamat Tahun Baru
By Nova Imoet on Jan 1, 2010 | Reply
klo nulis diblog sih lebih asik dan berharap tulisan bisa diterima SERP…
hehehehee….
By Lambang Emha on Jan 1, 2010 | Reply
Selamat Tahun Baru 2010 dan selalu sukses.
Pingin tahu juga, angka di belakang judul itu maksute opo tho mas?
Salam Persahabatan.
By Ersis Warmansyah Abbas on Jan 2, 2010 | Reply
All: Selamat Tahun Baru … salam persahabatan
By yulian on Jan 2, 2010 | Reply
Maaf om, out of topik, cuma mau ngucapin :
SELAMAT TAHUN BARU 2010 ,
semoga tambah sukses dan salam menulis…
By yussa on Jan 2, 2010 | Reply
Saya mau belajar seperti Bapak, menulis sudah menjadi “jiwa” . Mohon ijin taut blognya, Pak. Sukses selalu.
By seindahhiasan on Jan 29, 2010 | Reply
Anda minat menulis?
Jom singgah http://www.seindahhiasan.com