Belenggu ‘Pendapat’ (5.9)

29 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Agus Supriono, penulis Kompas, Irwan Abbas penulis Maluku Utara, baru usai diskusi rutin di kos saya sehabis kuliah Filsafat Ilmu. Self, being, dan conscious. Kami beranjak berdikusi keras ke ranah esensial dan … berujung menulis. Sepakat: menulis satu diantara sekian jalur bagi ‘belajar’ sekaligus berdakwah. Rencana besar tahun 2010 digagas.

Setiap kita, sebagai buah dari pengetahuan dan pengalaman, membawa frame of mind. Setiap orang individu yang berbeda dari lainnya, individual differences. Pemaksaan atas lainnya tidak valid.

Begitulah, ketika kita tidak suka terhadap sesuatu, tidak usah gelisah. Apalagi, membenci. Mengmbil hal-hal bermanfaat lebih positif dari ‘membenci’. Membenci merusak diri, mengambil manfaat membangun diri. Islam rahmatin lil alamin.

Dus, bisa jadi ketika melihat sesuatu, aktivitas sesuatu, apalagi tulisan, ‘melahirkan’ respon. Respon adalah hal wajar ketika diri dipantik sesuatu luar diri. Nah, biasanya kalau hal menyenangkan, kita tersenang. Sealiran sih.

Sebaliknya, ketika tidak cocok, reaksi keras tercuat. Masalahnya adalah, apakah orang lain tidak berhak menjadi dirinya sementara kita berjuang menjadi diri sendiri, be yourself? Keinginan, kalau tidak dikendalikan, berbuah amarah, benci, dengki, dan seterusnya. Kalau demikian, pemaksaan menjadi. Musuh kemerdekaan.

Kami juga bersepakat, dalam pertemanan, keberbedaan menjadi landasan menuju pemahaman. Maklum, beberapa tahun ke depan sama-sama meluluhkan diri menjadi pelajar. Ternyata, belajar sesunguhnya membelajarkan diri.

Pada posisi demikian, termangu. Ya, seperti juga menulis, belajar, belajar, dan terus belajar. Kita belajar menulis makalah, book repor, book review, dan seterusnya.

Belajar ‘menulis umum’ tidak kalah menantang. Target, menembus beberapa media umum. Soal jurnal sudah keharusan, kalau tidak, tentu tidak mungkin naik pangkat he he.

Yang dihindarkan, setidaknya belajar menghindari, memasalakan yang tidak disukai. Misal, tidak suka dengan blog atau FB sesorang, ya tidak usah dilihat. Tidak suka pikiran Huntington, jangan baca. Kalau tugas kuliah, ya apa boleh buat (ampun). Lebih menyadarkan, belajar atau mempelajari yang tidak disukai rupanya menantang.

Dengan kata lain, pembelajar sejati adalah mereka yang tidak menutup diri. Bahwa, suka dan tidak suka, itu hal lazim. Yang tidak elok adalah, didenda oleh yang tidak disukai. Untuk itu perlu benteng diri, jangan merusak diri. Tidak semua hal pantas disukai dan bisa disukai.

Lebih hebat, yang membuat mereka terbahak-bahak, belajar menyukai menulis. Mereka memaki: “Dasar motivator nekad”. Tapi, ngak maksa kan?

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 5 Responses to “Belenggu ‘Pendapat’ (5.9)”

  2. By Widiya Ayu Rekti on Dec 29, 2009 | Reply

    Ya.. Memang sudah seharusnya kita open minded, disenting opinion itu kan wajar. Tapi biarpun begitu, proses saling mempengaruhi akan tetap jalan. Nothing to lose kan pak? Orang mau ikut ya syukur, nggak ya silahkan. Seperti kata anda, kita kan nggak maksa :D
    Tapi untuk hal2 yg tidak kita suka, tak ada salahnya juga dipelajari. Seperti halnya filosofi perang klasik, siapa yg ingin memenangkan perang, maka dia harus mengenal musuhnya sebaik dia mengenal dirinya sendiri. Intinya kita speard something good, kita sampaikan dgn santun, dan tak hanya fokus masalah, tapi lebih pada fokus solusi.
    Salam menulis.. :)

  3. By Rizal on Dec 29, 2009 | Reply

    Iya juga ya Pak Ewa… ^_^ jadi merasa sedikit tertampar nih… xixixixi..

    Benar Pak, kalau kita tidak suka… ya… nggak usah sampai gelisah atau kemudian membenci dong… yang rugi akhirnya malah kita sendiri…

    Membenci kan cenderung merusak diri sendiri ya?

    Kalau memang nggak suka, ya ngapain di kunjungi… ^_^

    Eh.. blog nya Pak EWA, biarpun dah lama banget saya tau nya (soalnya alm. Sassie dulu paling banyak cerita soal blog nya Pak EWA sih ^_^ )tapi BELUM BERANI saya kunjungi…

    Bukannya nggak suka loh Pak, tapi nggak berani aja… Soalnya cara saya menulis masih amatiran kelas teri penyakitan, jadi ya.. malu lah kalau sampai di kunjungi penulis sekaliber Pak EWA… ^_^

    Akhirnya sih saya pikir yaach.. itu hanya KETAKUTAN yang NGGAK BERALASAN aja… bodoh banget…

    jadi sekarang waktunya deh saya mengeruk ilmu banyak - banyak dari tulisan - tulisannya Pak EWA ini.. :)

    Salam hangat dari saya,

    Rizal

  4. By HE.Benyamine on Dec 29, 2009 | Reply

    pembelajar sejati … mereka yang tidak menutup diri dan percaya bahwa ada kebenaran pada luar dirinya

  5. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 29, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Buah fikiran yang luar biasa sebagai mengingat diri supaya berfikiran terbuka dalam beberapa hal yang bukan menjadi kedukaan kita.

    Manusia dicipta dengan pelbagai olah dan ragam hidup yang menjadikan lukisan kehidupan di dunia ini sangat indah bertambah dengan huru haranya kerana pelbagai beda pendapat dalam kehidupan dalam menguruskan pentadbiran.

    Begitu juga dalam mengemukakan pendapat, perbedaan tersebut sering kali berlaku. Hal ini menambah unik dan hebatnya fungsi otak. Kita akan lihat pelbagai ide tercetus yang terhasil dari satu perkara menjadi cabangan yang luas dan bermanfaat baik ia diterima atau ditolak.

    Salam takzim dan mesra selalu dari Sarikei, Sarawak.

  6. By ati.sudarti on Dec 30, 2009 | Reply

    om ewa bolehkan, aku coba aja, ya untuk membiasakan menulis, dimulai disini agar aku bisa dikit PD, maklum kadang rasa ketakutan selalu menyelimuti diri. banyak yang aku baca tapi cara menuangkan kadang-kadang membosankan, boleh juga dikatakan membingungkan, namun setelah membaca tulisan om ewa aku kini mau menulis tanpa guru, mungkin dengan banyak membaca dan memulai dengan berbagai cara dan terus. tq

Post a Comment