Belenggu Sok Tahu (5.8)

28 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Pasti sudah setiap orang mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan mampu berpikir. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak bisa menulis, kalau berkemauan. Hanya saja, antara mau dan mampu, dua hal berbeda. Mau lebih kepada keinginan, kehendak, atau tekad. Mau akan menjadi manakala dilakukan. Melakukan, tidak semudah berkemauan. Ada seperangkat hal pendukungnya, dan itu tidak mungkin diperdapat dengan memikirkan atau mengangankan. Kemampuan buah melakukan, buah latihan, atau pengalaman.

Implikasinya, kalau berkemauan menulis asah kemampuan. Mengasah kemampuan dengan melakukan; menulis, menulis, dan terus menulis. Tidak perlu belajar teori menulis? Siapa bilang. Teori penting, pengetahuan penting, nasehat guru penting. Tapi, tidak akan menjadikan kemampuan menulis kalau menulisnya tidak dilakukan.

Banyak orang berpengetahuan luas, menguasai aneka teori, pengalaman kehidupan lebih dari cukup. Tuntutan profesi apa lagi. Tapi, tidak menulis. Ya, nihil karya tulis.

Karena itu jangan sok tahu. Misal, seperti pengamat. Pengamat yang baik memberi contoh, kecuali pengamat politik atau sepakbola. Menulis, tidak ada ada urusan dengan amat-amatan. Siapa yang melakukan menghasilkan karya tulis. Siapa yang tidak melakukan pasti tidak akan pernah punya karya tulis. Melakukan dan bukti. Jelas dengan sendirinya.

Dengan kata lain, menulislah dalam arti dimulai dengan ‘belajar’. Belajar dalam menulis melakukan menulis itu. Ya belajar, ya melakukan. Pada posisi ini jangan sok tahu, sok bisa. Tidak ada debat-debatan, tidak ada hebat-hebatan, atau mencitrakan diri sebagai orang hebat. Menulis hal melakukan, dan tulisan sebagai hasilnya.

Kalau tulisan menjadi, tulisan itu yang ‘bicara’, tulisan yang membentuk imej, dan Sampeyan sebagai penulis akan tercitra sebagaimana yang ditulis. Mereka yang sok tahu, susah melahirkan karya tulis. Mereka yang hobi menilai, menghajar, atau melecehkan tulisan orang, akan susah menulis. Menulis melakukan. Penulis lebih memilih membangun diri, membangun kemampuan menulis dari bersok-sok pintar (menulis).

Ya, menulis akan mejedot waktu luang untuk belajar. Menulis ‘memaksa’ berlatih, membangun kemampuan, tidak untuk berbusung dada: “Saya hebat’. Penulis sejati adalah mereka yang selalu mau dan mampu belajar. Tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memancangkan kehebatan diri. Menulis belajar, dan pelajar tidak sok tahu.

Mereka yang merasa dirinya serba tahu, sempurna, apalagi tidak mau berbagi, egois, akan sulit untuk menulis. Menulis akan menjadi ‘kehebatan’ ketika seseorang membelajarkan diri, berkemauan berbagi ‘perjuangan’ dan ‘hikmah’ untuk perjuangan ‘kebaikan’ bersama. Menulis berbagi. Dan, itu mustahil dipagut para pemeluk ‘agama’ sok hebat atau Si Egois.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 4 Responses to “Belenggu Sok Tahu (5.8)”

  2. By Nug on Dec 28, 2009 | Reply

    “Teori penting, pengetahuan penting, nasehat guru penting. Tapi, tidak akan menjadikan kemampuan menulis kalau menulisnya tidak dilakukan.”

    Aku suka bagian itu Bang. Seperti menguasai Grammar Bahasa Inggris tapi gak pernah dipergunakan, ya gak akan pernah bisa berbahasa Inggris, kan..? :)

  3. By HE.Benyamine on Dec 29, 2009 | Reply

    jikapun dikatakan soh tahu karena menulis, maka menulislah terus agar semakin tahu berbagai kekurangan.

  4. By ati.sudarti on Dec 30, 2009 | Reply

    aku mau belajar untuk keluar dari belenggu sok tau, tapi mengapa selalu merasa tidak tahu untuk keluar dari rasa tidak tahu, aku tahu setelah tahu bahwa aku tidak tahu, aku juga malu ketika tahu bahwa aku malas menulis untuk memulai tahu. kemungkinan kurang tempatku untuk memulai keluar dari ketakutanku.

  5. By 3t on Jan 3, 2010 | Reply

    menulis bisa jadi tergantung dari karakter jiwa sang penulis. jika dia berkepribadian egois dan penyerang jadilah tulisannya bersifat egois dan menyerang, toh dia juga tetap menulis. masalahnya relativitas penilaian suatu tulisan itu menyerang atau egois tergantung yang membaca juga..jadi siapapun bisa menulis. tak perduli dia egois atau tidak. selama ada yang dibaca walaupun tanpa ‘pembaca’, menulislah..dan saya bukan penulis

Post a Comment