Belenggu Malas (5.6)

26 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

“Kim”, tanya saya, ”pernah didenda malas menulis?”. Abdurrahman Hakim yang tengah asyik melayout buku menjawab enteng, pernah. “Kapan dan kenapa?”. “Kalau lagi bentrok dengan pekerjaan lain”. Harap maklum keseharian Hakim menulis. Dia pemimpin Redaksi Bandjarbaroe Post dan ‘guru’ saya dalam setting dan layout.

“Mar”, tanya saya, “pernah didera malas menulis?”. Syamsuwal Qomar yang asyik menyeting buku menjawab tersendat-sendat, pernah. “Kapan dan kenapa?”. “Kalau pekerjaan lagi banyak, tugas menulis menumpuk-numpuk”. Seperti Hakim, Qomar berkeseharian menulis. Sejak Rabu, 26 November 2009, di kamar kos saya di Bandung, kami mengerjakan pekerjaan menulis.

Saya tahu persis, Hakim delapan tahun bergabung sementara Qomar dua tahun. Mereka Pekerja Menulis Komersial (PMK) he he he. Yang namanya malas menulis dalam artian, kehendak menulis mengebu-ngebu tetapi enggan melakukan, bagi mereka sudah lewat. Soal waktu, diburu deadline lazim bagi wartawan.

Tentu, mereka yang bekerja profesional dalam tulis-menulis, tidak didenda malas. Masalah mereka memenej waktu, dan terkadang alokasi waktu yang tersedia memang sempit. Masing-masing mereka punya tanggung jawab menulis sesuatu. Begitu sepanjang tahun.

Dibandingkan saya, mereka isa jadi kalah jauh. Saya menulis lebih ‘ganas’. Terkadang harus menulis ulang pekerjaan beberapa orang. Malas? Ya. Bukan malas menulis, tetapi memperbaiki pekerjaan orang. Menulis, bagi kami mengairahkan. Menyenangkan.

Saya mendidik banyak orang dalam pekerjaan tulis-menulis sejak hari pertama dengan satu syarat, tidak boleh beralasan. Bagi yang suka beralasan silakan minggir sebelum dipecat. Untuk yang satu ini tidak ada kompromi. Makanya jarang yang tahan bekerja dengan saya he he he.

Nah, benar atau tidak, malas menulis tersebab waktu. Kalau malas karena hal lain tidak dibahas pada bab ini tersebab sudah dibahas pada buku terdahulu. Waktu, ya waktu. Kiat menyiasati waktu agar jangan digayuti malas menjadi tema menarik untuk dibahas.

Jawaban pastinya, karena tidak mampu memenej waktu. Kalau kita menyadari waktu begitu berharga, punya sedikit waktu untuk menulis, kita harus melatih diri menulis cepat. Ersis ini bagaimana, menulis normal saja sulitnya minta ampun, apalagi menulis cepat. Itu dia.

Saya punya strategi membaca apa yang dapat dibaca, melihat, mendengar, atau memikir apa yang dapar dilakukan. Disimpan di memori, asal ada waktu luang ‘di tulis di otak’. Begitu mendapat kesempatan menuliskannya, ditulis. Terkadang sembari menunggu antri mandi, di pesawat atau seperti menulis tulisan ini, ketika rehat menulis memori sesorang, tepatnya mengedit.

Tanyakan kepada teman satu kelas saya. Sambil kuliah, menulis. Menonton video bajakan 2012 sembari menulis. Sambil terkekeh-kekeh menonton Mr. Bean atau menoton Liga Inggris, ya menulis. Tidak usah dibahas, hasilnya yang selama ini Sampeyan baca. Tapi, kan tulisan Ersis tidak mutu?

Begitulah. Kalau menunggu waktu memadai, wong saya saat ini ngak diberkahi waktu memadai, lalu tidak menulis, ya rugi. Saya ingin menulis. Tidak mau dibelenggu menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Belenggu Malas (5.6)”

  2. By sugik on Dec 29, 2009 | Reply

    setuju kang, saya salah satu dari orang yang sampeyan sebut tadi, keinginan menggebu, tapi kadang saya terjerat penyakit malas, menunda sedikit waktu, e e ternyata sering kebablasan, lepaslah peluang itu.

    ya..h begitulah, tapi dengan membaca tulisan sampean itu saya jadi semangat lagi untuk menulis,

  3. By Rizal on Dec 29, 2009 | Reply

    Ya ampuunnn… untung saya nggak jadi partner kerja nya Pak Ersis…

    Yang ini nih… penyakit super duper kronis yang sering hinggap di saya… MALAS NULIS… aha ha ha…

    Iiih… ketampar lagi deh…. aha ha ha ha…

Post a Comment