Menyimpan Ide (4.8)
18 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |Setiap hari otak kita digempur Ide. Ada ide yang bisa langsung ditulis, ada yang perlu pengendapan, ada yang perlu disimpan, dan ada yang begitu menyapa, langsung dibuang. Dunia manusia, kehiduan manusia, adalah dunia ide. Kalau tidak ada ide, barangkali ras manusia tidak lebih bagus nasibnya dari ras binatang.
Alkisah. Begitu artis porno Jepang, Miyabu, ditangkal masuk ke Indonesia, apalagi ada ‘pengharaman’, ada keinginan mengetahui, dan menuliskannya. Demi Allah, sampai hari ini belum pernah melihat gambar Miyabi. Sebenarnya semacam sikap anti ‘kampanye larangan’. Saya malahan berangan-anagan, ada pihak yang melarang buku-buku saya. Pelarangan ide, karya kreatif, sebenarnya bantuan kampanye gratis.
Tetapi, karena memang tidak tertarik, harap maklum pekerjaan saya cukup banyak, terlalu sia-sia kesempatan kalau hanya untuk melihat ‘paha’ atau ‘susu’ Miyabi. Lupakan. Soal Miyabi biarlah urusan yang bekecanduan. Ide mempelajari dan menulis tentang Miyabi, lupakan. Banyak yang lain.
Ketika mantan Mekes Siti Fadilah Sapari, menulis buku ‘berani’, bingung soal proyek NAMRU2, di Kalimantan asap mendenda musim kemarau, banjir menghajar manakala musim hujan, dan kebetukan membaca novel Snows, Orhan Pamuk, membangun, mengembangkan ide menulis novel. Jadilah novel ASAP. Tinggal disiangi untuk diterbitkan.
Meeksekusi ide yang harus didelet tentu pekerjaan mudah, menuliskan ide yang ‘dikuasai’tentu menyenangkan, langsung jadi tulisan. Satu hal yang dihindarkan menulis setengah-setengah. Tidak membiasakan ‘Partai Tunda’, tulisan harus menjadi. Bagaimana kalau setengah jadi? Buang. Lupakan. Jangan pernah menyimpan hal yang tidak jelas.
Seperti telah diintrodusir, ada ide yang perlu diendapkan atau dimatangkan (mangga kale). Contoh, saya terpantik nenulis, kenapa pembelajaran Bahasa Inggris begitu susah bagi kebanyakan orang. Jawabannya, karena guru-guru mengajarkan tata bahasa dan seterusnya. Pembelajar seolah-olah akan dijadikan ahli bahasa (Inggris).
Pergilah ke Bali. Anak-anak ingusan atau pemijat, fasih berbahasa Inggris. Mereka tidak belajar formal, past tense, persent, apalagi future. Langsung praktik, berkomunikasi barbahasa Inggris. Language is habit. Sementara, guru-guru berpeluh-peluh mengajarkannya di sekolah, uang pemerintah triliun habis untuk itu, kemampuan berbahasa Inggris pelajar memprihatinkan. Begitu kenyataannya. Tulis?
Wow … bukan hal mudah. Simpan. Dikaji dengan kondisi obyektif, dan, bla-bla. Bahasa lainnya simpan untuk disempurnakan. Pada saatnya tulis.
Lebih hebat dari itu, bila disapa ide, simpan. Tidak perlu diingat sebab akan muncul begitu saja suatu saat. Jadi? Kalau ide menyapa, kalau di pikiran muncul ide, simpan atau tulis di otak. Mudahkan?
Bagaimana menurut Sampeyan?













5 Responses to “Menyimpan Ide (4.8)”
By ulan on Dec 18, 2009 | Reply
weeeeeeee… nulis lagi aaahhh
By Newsoul on Dec 18, 2009 | Reply
Mantap pak Ersis. Kalau saya, bla masih belum jelas bentuknya, biasanya saya simpan/diinkubasikan dulu di otak. Bila bentuknya sudah lumayan jelas, langsung ditulis. Akan berkembang sendiri saat di depan monitor. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1431 H. Semoga hari esok yang sukses dan barokah menjadi milik kita semua.
By squidy on Dec 18, 2009 | Reply
sering dapat ide , tapi sering sekali tuk menundanya. dan pada akhirnya jd kelupaan pak. gimana solusinya pak?
By Siti Fatimah Ahmad on Dec 19, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum Tuan Ersis
Idea akan terbentuk melalui apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan dibicara oleh mulut. Apabila sudah terbentuk segala pengalaman yang dilalui maka idea tidak akan malu untuk menghampiri kita dengan segala ungkapan yang kadang kala tak tersimpan oleh kita kerana terlalu banyak idea-idea menerjah.
Sebaiknya jangan simpan idea terlalu lama. coretkan ringkasannya dilampiran kertas agar mudah diingat pada masa akan datang kerana tidak semua orang punya kelebihan mengingat. Salam hormat penuh takzim Tuan Ersis dari saya di Bangi.
By sholik_khun@yahoo.com on Dec 27, 2009 | Reply
boleh ngak nulis tampa teori