Merealisasikan Ide (4.7)
17 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |Ide, dalam pengertian umun, dalam menulis, pantikan pikiran yang dikonstruk di otak untuk diketik menjadi tulisan. Tulisan secara ringkas dipahami sebagai penuangan pikiran. Ide, sehebat apa pun, kalau tidak ditulis tetaplah menjadi ide. Dalam kalimat lain, menjadi lamunan atau imajinasi belaka. Ide ranah abstrak tulisan ranah konkret.
Ide bisa datang dari pikiran, respon atas tangkapan indera, dapat pula datang dari orang lain, atau kolaborasi interaksi. Tidak penting ide dalam memenuhi kemauan individual, bersama, pesanan, atau gabungan semuanya.
Saat menulis tulisan ini, Adurrahman Hakim dan Syamsuwal Qomar sedang ‘merealisasikan’ ide menulis. Hakim memasukkan foto pada naskah buku perjalanan sesorang dalam kiprahnya sebagai pejabat, sementara Qomar menyusun buku sejarah perusahaan suatu daerah. Kedua ‘proyek’ harus diselesaikan akhir tahun ini. Begitulah kami merealisasikan ide menulis, sekaligus mencari nafkah. Tiap tahun kami merealisasikan ide berbau ‘proyek’ he he he.
Kedua buku bermula dari ide berbeda. Buku pertama, berawal ketika suatu instansi menyusun buku, saya diminta mengedit. Hasilnya, membuat baru. Buku kedua, bermula melalui FB dimana diminta ‘menuliskan’ sejarah perusahaan sukses yang dalam levelnya berkembang luar biasa. Tentu saja diterima dengan senang hati. Sumber fiansial.
Setelah bahan-bahan didapat, tibalah saatnya menuliskannya. Karena saya sekolah di Bandung, tidak mungkin pergi-pulang Bandung-Banjarmasin. Capek. Ada pantikan ide, ‘anak-anak’ ke Bandung. Menuliskan sejarah penelitian satu kabupaten, kami juga telah menuliskannya di Bandung. Kini satu tim sedang melengkapi bahan akhir.
Sebenarnya saya kasihan karena mereka menerbitkan Bandjarbaroe Post. Tahun depan, mengurangi menulis atas ‘ide pesanan’. Pekerjaan yang diterima yang bisa mereka tuntaskan. Dari mana datangnya ide menulis di Bandung?
Saya ingin menekankan, apabila ada tuntutan penyelesaian pekerjaan, ide langsung bergabung. Menulis yang tidak berkaitan dengan pihak lain, itu kecil saja. Hal paling berat, merealisasikannya. Kerena itulah, untuk ‘lingkungan dalam’ saya tidak menanamkan ‘Teori Menulis’, tapi melakukan. Ketika melakukan itulah ‘teori’ didalami. Hasilnya? Tulisan. Akan berbeda kalau memperdalam teori sementara menulisnya kapan-kapan he he he. Pada tahap awal, ‘diharamkan’ menilai karya orang, juga berdebat. Menulis melakukan.
Yaps, ide menulis di Bandung ternyata menambah amunisi. Anak-anak bisa rehat, berwisata, sekalian menyelesaikan pekerjaan. Soal biaya lebih mahal, itu soal lain.
Dengan kata lain, ide menulis mustahil mandek. Yang mandek adalah ‘kemampuan’ menulis. Yang terakhir mengatasinya, hanya dengan satu cara, melakukan. Ya, menuliskan ide. Berani?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 26 November 2009













4 Responses to “Merealisasikan Ide (4.7)”
By ALRIS on Dec 17, 2009 | Reply
Pertamax <<< mahal hehehe…
Ide? Banyak, tapi belum dituliskan hahaha.
By HE.Benyamine on Dec 17, 2009 | Reply
namanya merealisasikan … ya melakukan, tentu ide sudah ada. Sementara ide tinggal ambil saja … jika tidak ingin menikmati sendiri ide yang ada, maka tuliskan untuk berbagi.
By Siti Fatimah Ahmad on Dec 17, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
Semakain banyak idea kita semakin nyaman untuk menulis dan berbahagi dengan khalayak pembaca. maka jangan dipendamkan.. kerana potensi menulis kita sudah tersedia lama. jangan selalu bilang bahawa kita sering kekeringan idea. Minda yang kering idea akan cepat rosak selnya dan menjadikan manusia cepat nyanyuk.
Salam mesra selalu dari Bangi.
By Siti Fatimah Ahmad on Dec 17, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum Tuan Ersis
SAHABAT
Walau…
Langkah tak bertemu
Tangan tak berjabat (perempuan sahaja ya)
Ucapan tak terdengar
Izinkan hati ini memohon maaf
Atas segala…..
Sikap dan lisan yang tak terjaga
Janji yang terkota
Hati yang kerap berprasangka (insya Allah tiada)
Sepanjang setahun perkenalan kita
Selama persahabatan kita terjalin di dunia maya
Terima kasih atas kasih sayang dalam ukhuwwah yang dicerna
Semoga kita selalu di dalam perlindungan-Nya
SELAMAT MENYAMBUT MA’AL HIJRAH 1431
Salam Awal Muharam dan salam manis dari saya di Bangi, Selangor, MALAYSIA.
SITI FATIMAH AHMAD