Mengembangkan Ide (4.6)

16 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Tiap hari ide menyapa. Apabila pikiran masih mampu beroperasi, alat indera masih berfungsi, perasaan masih normal, tentunya. Kekurangan ide sesuatu yang tidak mungkin. Dapat dipastikan, setiap orang banyak disapa ide. Bahkan, adakalanya mendesak minta ‘dilayani’, dipaksa ide. Desakan ide, dalam kerangka menulis, bisa bikin pusing. Apalagi, kalau tidak mampu memenejnya. Puizzzing.

Pada bagian terdahulu, sudah diskusikan bagaimana memilih ide, yaitu yang paling mungkin dikembangkan, mengenai apa-apa yang paling ‘dekat’, yang dikuasai. Pantikan Ide menulis novel lebih hebat dari Habiburrahman El Shirazy tentu bagus, hanya saja, ukurlah bayang-bayang diri. Tidak semua ide pantas dilayani, dikembangkan.

Begini saja. Saya bukanlah pengangguran dalam arti mempunya banyak waktu luang. Apalagi, saat ini sedang mengikuti program Doktoral. Saya ingin, berkemauan, punya ide menulis buku. Tapi, tidak mungkin meluangkan waktu khusus menulis buku.

Sebelum kuliah, mengampu beberapa mata kuliah di kampus. Kalau pengeluh, apalagi ditambah tugas kampus lainnya, membuat pusing. Mana pula, memelihara 20 kolam ikan, menerbitkan Bandjarbaoe Post, kontrak kerja sama penelitian, dan pekerjaan rutin lainnya. Memiliki keluarga yang menjadi tanggung jawab. Melayani ‘tugas sampingan’ menghadiri undangan sebagai pemakalah, pelatihan menulis, dan sebagainya, kiranya tidak punya waktu. Lalu?

Belajar mendisain buku, program PageMaker dan InDesign. Menulis pada pola buku, lalu diposting atau dikirim ke media cetak. Tulisan siap menjadi bagian buku.

Begitulah. Menjelang mandi, di sela-sela kuliah, sembari mengikuti seminar, atau di pesawat, menulis. Menulis dengan patokan, harus selesai. Tidak ada istilah, separoh selesai. Kalau tidak selesai, lupakan. Delete. Bagi saya, menulis harus waktu khusus, menunggu mood, in the mood, tidak cocok, pembodohan. Makanya, tulisan Ersis ngak mutu. Ah, biar saja. Wong mutu saya, ya segitu itu.

Ide menulis buku dikembangkan berdasar pemahaman kondisi real, tidak diandai-andaikan, tidak diangan-angankan, hingga tidak ada istilah, … seandainya. Yang pasti-pasti saja. Dan, saya tidak berkonsultasi dengan siapa pun. Patokannya, punya tugas pokok, itu kewajiban. Menulis, tambahan.

Sehari minimal satu tulisan. Realisasinya bisa beberapa tulisan. Begitu sampai 30 tulisan buat daftar isi, buat kata pengantar, kirim ke penerbit. Ide menyata, buku. Nah, kalau diikuti Teori Kuno, wauw harus membaca sekian referensi, meluangkan waktu ‘menyogok’ mood, berkonsultasi agar isi buku hebat, dan bla-bala, ya tidak mungkin karena berbagai keterbatasan. Tidak mungkin ide menulis buku terealisasikan. Jadi, lakukan sekalian, sesuai kemampuan.

Soal ada yang berlaku sebagaimana hal-hal ideal, ya bagus saja. Dia sanggup dan cocok dengan hal sedemikian sementara saya tidak. Bodoh amat, gara-gara teori, ide saya terendam begitu saja. Ngak lah yaw.

Dengan kata lain, setiap orang adalah dirinya masing-masing, idividual differences. Lakukan sesuatu sesuai diri. Kembangkan ide sesuai kemampuan. Terkagum-kagum dengan Kahlil Gibran, Leonardo Da Vinci, atau Ahmad Thohari, wajarlah. Tapi, mereka hanya satu sebgaaimana mereka masing-masing, the one and the only. Be Yoursefl. Kembangkan idemu.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Bandung, 25 November 2009

  1. 2 Responses to “Mengembangkan Ide (4.6)”

  2. By ALRIS on Dec 16, 2009 | Reply

    Mantap da. Yo sabana sibuk masih sempat menulis. Ambo malu, banyak wakatu luang, cuma jadi angin. :)

  3. By L@2 on Dec 16, 2009 | Reply

    iya jg ce…
    tp klau nulis koq gk bs bgus y kalimat2q…
    kurang indah gt rasanya…!!!

Post a Comment