Ampun Bundo (4.5)
15 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |Bagi Muslim, Idul Fitri dan Idul Adha hari teramat istimewa. Idul Adha, puncak ibadah haji, hari raya qurban. Rangkaian shahadat, shalat, puasa, dan zakat. Karena ibadah, Rasulullah tidak ‘digelari’ Haji Muhammad SAW. Kalau saya dipanggil Haji Ersis, itu mengada-ada. Kalau mau, tulis Sahadat Shalat Puasa Zakat Haji Ersis. Haji adalah ibadah.
Saya punya ide menyambut Idul Adha kali ini. Tidak membahas esensi idul qurban. Banyak sudah yang membahas makna hakikinya. Di pikiran gambaran Ibu dan Bapak semakin hari semakin terang.
Ibu dan Bapak, yang sudah berumur, Amak (Ibu) dan Apak (Bapak) berumur 80-an dan 90-an tahun. Keriput tulang pipi, gambarannya, seperti di dendangkan Ebiet nun di Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat. Anakmu rindu Mak, rindu Pak.
Ya. Amak yang bersimbah darah ketika tangis pertama disuarakan pertanda kelahiran. Darahnya, air mata gembira dalam balutan sakit tak terkira. Bukan dirinya yang diperhatikan, tetapi anaknya. Kita. Senyumnya, senyum kehidupan. Senyum kasih sayang tak bertepi, senyum harapan.
Ya. Orang tua kita, asal kehidupan, yang mungkin bagi sebagian orang sudah tiada. Tapi, orang tua tetaplah Ibu-Bapak yang tidak dapat ditukar dengan apa pun. Sudahkan kita merenung, pengorbanan hidup mati menyambung nyawa, sudahkah terbalas? Itu baru ketika baru lahir. Selanjutnya.
Setelah menghirup udara pertama apa yang kita lakukan? Menghirup sari pati tubuh Bundo, menyusu. Belum lagi darahnya tergantinya, kita mengisap ‘tubuhnya’. Lalu, kita ‘kencingi’ tubuhnya sembari menyusu. Dijaganya kita, digantikan popok. Hari-harinya untuk sekadar tidur terampas agar tangis kita reda. Digendongnya, diayun, dibelai, tanpa menghiraukan dirinya. Pengabdian, pengorbanan yang tulus.
Bapak mengimbuhi dengan membanting tulang. Tidak mengenal siang, tanpa menghiraukan malam bekerja agar kehidupan kita tidak terlantar. Demi kita.
Tiada henti derita ditanggung, disekolahkan sampai kita bekerja. Setelah beristri, bersuami, kita tinggalkan mereka dengan segala derita. Sejak lahir sampai tua, menderitakan orang tua.
Ampun Mak, ampun Pak. Atas alasan pekerjaan, karena Istri, tersebab suami, atau anak, dengan enteng kita biarkan dia. Menghiba.
Nak, Ibu sakit. Nak, Bapak sakit. Ibu kangen. Pulanghlah. Apa jawaban kita? Sibuk. Tidak mungkin meninggalkan pekerjaan, nanti atasan marah. Duh … itukah balasan, begitukah pengorbanan seorang anak yang dilahirkan, dibesarkan dengan menyabung nyawa? Mari kita renungkan.
Tidak akan selamat anak yang tidak memperhatikan orang tuanya. Mak, Pak, ampun, Maafkanlah anakmu. Peluk cium, pinta maaf. Ampun.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 24 Novemer 2009













3 Responses to “Ampun Bundo (4.5)”
By ALRIS on Dec 15, 2009 | Reply
Hiks…ingek almarhum & almarhumah kedua orang tua. Salam
By Siti Fatimah Ahmad on Dec 15, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
Dunia kasih sayang ibu bapa tiada batasannya. Pengorbanannya amat mengkagumkan. Alhamdulillah kerana akhirnya kita juga merasai saat menjadi ibu dan bapa tika kita sendiri mempunyai anak. peritnya mengurusi anak (seorang) sudah cukup menggambarkan betapa sibuknya tugas si ibu. Apa tah lagi kalau dua, tiga dan seterusnya.
Ibu bapa mampu mengurus anak sepuluh. Tetapi apakah anak sepuluh itu mampu untuk mengurus ibu dan bapa mereka setelah mereka tua nanti? persoalan seperti inilah banyak yang terjawab dengan jawaban yang menyedihkan.
Mudahan jasa mereka terbayar dengan kebaktian kita walaupun tidak terbalas semuanya. Sekurang-kurangnya kita menggembirakan mereka dengan bertanya khabar - sudah cukup. Mereka tidak meminta apa-apapun dari kita. Cukup dengan mengirimkan “suara” (kalau mengirimkan suratnya mengambil masa yang lama) bertanyakan khabar, bertanya kesihatan dan sebagainya.
Mudahan kita termasuk dalam kalangan mereka yang mengenang jasa ibu dan ayah walau di mana kita berada. Salam mesra dan hormat selalu Tuan Ersis.
SELAMAT HARI IBU BUAT IBU TUAN ERSIS DAN IBU RISNA.
By Badiyo on Dec 15, 2009 | Reply
Betul sekali Pak Ersis. Tidak ada alasan untuk tidak menghormati orang tua kita, terlebih ibu. Jika ingin selamat dunia akhirat, hormati, kasihi, dan sayangi kedua orang tua kita. Pepatah mengatakan, surga terletak di telapak kaki ibu.