Menakar Ide (4.4)

14 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Setiap hari ide ‘menyinggahi’ batok kepala. Syaratnya sederhana saja, selama pikiran mampu bekerja, selama alat indera masih berfungsi, ide akan menyapa. Para pembohonglah yang bersikukuh tidak punya ide apa pun. Ide adalah apa yang dikonstruk pada pikiran.

Melihat air got mampet, air tumpah ruah merendam jalan, pikiran terpantik, perasaan tergugah, hmm … kalau sampah-sampah penyumpat dibuang, selamat tinggal genangan banjir. Membersihkan got? Tunggu dulu. Janganklan membersihkan got, membersihkan kuping atau lubang hidung saja enggan. Jarang orang yang mau mengerjakan hal sedemikian. Paling-paling mengeluh. Ide membersihakan got berdasarkan pertimbangan ini-itu diabaikan.

Seseorang begitu terkesan menonton film 2012. Apalagi, ada ‘promosi gratis’ MUI yang menjadikan semangat semakin mengebubu. Padahal, tidak lebih tidak kurang, tipuan olahan studio, utak-atik komputer. Sepanjang perjalanan pulang terkonstruksi di otak. Istilah saya, menulis di otak.

Begitu sampai di rumah, desktop diaktifkan. Menulis dimulai. Film tersebut menusuk nyali. Alinea pertama dan kedua selamat. Ketika mau menulis, bahwa sutradranya telah membuat beberapa film sejenis sebelumnya, lupa. Termenung.

Ketika mau mengetik Kalendar Maya, jangankan penanggalannya, suku Maya itu berkehidupan dimana tidak tahu. Paman Google disapa.

Dapat secuil informasi. Lalu, pikiran tertarik pada benturan planet, atau katakanlah meteor ‘pencium’ Bumi. Pengetahuan tentang astronomi cekak. Menikmati kesibukan orang-orang Bule menyiapkan “Kapal Nabi Nuh’ pengetahuan tentang itu tidak memadai. Yaps, tangan letoy, pikiran mandek, tulisan baru dua alinea. Ejakulasi Dini Menulis.

Siapa pun tidak akan mampu merealisasikan pantikan ide menulis sesuatu kalau pengetahuannya tentang sesuatu tidak cukup. Namanya, entry behavior. Manusia bukanlah Nabi Adam atau Rasulullah yang pengetahuannya langsung diinstal Allah SWT. Ciri manusia, mencari pengetahuannya.

Hal senada sama dengan orang, yang ketika berniat menulis novel, berlagak bak Andrea Hirata. Kehebatan Andrea atau Chekov dimamahnya. Dia merasa sehebat pengarang genius tersebut. Kalau ada orang yang baru menulis tersendat-sendat, ditembaknya dengan karya penulis hebat tersebut. Sampai matipun dia tidak akan menghasilkan karya. Menulis bukan kapling pemimpi, menulis melakukan. Karena itu, kembangkan ide, bangun ide sesuai kemampuan diri.

Itulah sebabnya, bagi pemula, saya menekankan, kembanghkan ide, bangun ide, sesuai kemampuan diri. Dalam bahasa sederhana, tulislah hal-hal sederhana yang dikuasai.

Kita tidak kekurangan ide. Yang kurang, maunya kita yang hebat-hebat, yang spektakular. Bagaimana katak mau menyebarangi samudera Atlantik kalau tidak pernah ke luar tempurung kehidupannya. Aya-aya wae.

Bagaimana Menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Menakar Ide (4.4)”

  2. By Badiyo on Dec 14, 2009 | Reply

    Ide memang begitu banyak berkeliaran dan beterbangan di sekitar kita. Yang tidak semua orang bisa adalah menangkap, menjinakkan dan memeliharanya. Yang biasa menangkap dan menjinakkan lazim disebut pawang. Yang bisa dan suka memelihara biasanya peternak atau penghobi. Jadi untuk menjadi seorang penulis tidak cukup menjadi pawang ide, tapi juga harus menjadi peternak dan atau penghobi ide. Bagaimana menurut sampeyan, eh maaf menurut Pak Ersis?

  3. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 15, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Sering kita mendengar orang berkata, menulis sangat payah pada hal mereka menulis setiap hari. Saya setuju kalau dikatakan semangat menulis itulah yang lemah sehingga timbul alasan menulis menjadi susah.

    Kekuatan dan kelemahan dalam menghasilkan penulisan sebenarnya datang dari dalam diri kita sendiri. Kalau mahu menulis..menulis ajalah, fikirkan hal yang mudah dan dapat dicapai oleh otak kita, dalam lingkungan sesuai untuk kita membina idea penulisan kita.

    Mulanya mungkin sukar mahu memulakan penulisan kerana ketamakkan idea yang bertompok di minda kita.. namun setelah menulis apa sahaja yang terlintas di fikiran kita iya menjadi lebih mudah dan terus mengalir senang yang akhirnya akan berfokus.

    Terima kasih Tuan Ersis kerana banyak meberi inspirasi buat saya menulis. Selamat membina idea dalam menulis. Salam hormat buat Tuan Ersis selalu dari saya di UKM,Bangi.

Post a Comment