3.9 Membaca Pengalaman

6 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Pak, Bapak, bagaimana ini. Keinginan menulis sudah di ubun-ubun. Membaca sudah. Ikut penataran menulis sudah. Mahal pula bayarannya. Meminta nasehat kesana-kemari sudah dilakoni. Begitu menulis, dua-tiga aline stop. Ide malayang begitu saja. Entah kemana. Tolong Pak, bagaimana caranya agar keinginan menulis terealisasikan. Please.

Kali ini saya tidak ‘menyindir’ sebagai ejakulasi menulis, atau susah mendapatkan orgamisme menulis he he he. Soalnya, tema bab buku ini, membaca dan menulis.

Coba cermati keluhan kawan tersebut. Segala hal untuk menulis sudah cukup syarat. Tapi, begitu menulis, dua-tiga alinea stop. Menulis, stop. Besok menulis, stop lagi. Begitu seterusnya. Apa yang difasihkan? Apa lagi kalau bukan membiasakan, menyetop menulis.

Pengalaman adalah guru terbaik. Kalau Sampeyan menulis dan stop, ‘pelajari’ mengapa stop. Kalau perlu tulis tentang mengapa stop menulis. Sampai selesai. Tuntas. Pasti jadi tulisan. Itu tentang stop menulis.

Kini, mari kita analisis secara sederhana. Pengalaman stop menulis pastilah tidak dikehendaki, tetapi begitulah kenyataannya. Kenapa pengalaman tersebut tidak ‘dibaca’? Kalau dibaca, akan ketahuan dimana masalahnya. Ibarat kata, pengalaman dilalui dari waktu ke waktu, namun pelajarannya tidak diambil, tidak dimanfaatkan. Yo opo rek.

Kalau mau sedikit memakai resep berdosis agak keras, jangan pernah mau berhenti menulis sebelum yang ditulis selesai. Menulis memenej diri, membentang kemampuan, membuktikan tekad, melakukan, hingga apa yang dimaui (ditulis) maujud. Buktikan diri, buktikan kemamnpaun. Jangan pernah beralasan apa pun. Mereka yang bersembunyi dibalik topeng alasan, tidak pantas menulis. Menulis melakukan.

Hal lebih mendasar, menulis adalah urusan diri dengan diri itu, bukan dengan hal diluar diri, tidak dengan orang lain. Karena itu, pengalaman adalah pemantap selama mampu diambil manfaatnya.

Orang yang gagal menulis menafikan pengalaman, tidak mau belajar dari pengalaman. Malahan, pengalaman tidak berguna diulang-ulang. Hari ini, menulis tidak tuntas, besok tidak tuntas, dan seterusnya begitu. Lucu kalau dicerna, yang dimantapkan menulis tidak tuntas. Yah, jadi ahli sedemikian dong.

Karena itu, mari menulis dengan ‘menunggangi’ pengalaman bermanfaat, pengalaman menyenangkan. Jelas, dengan teori menulis yang dipelajari selama ini kemampuan menulis tidak maju-maju. Campakkan. Enyahkan. Yang dipelihara kok yang tidak berguna. Aya aya wae.

Mari lejitkan kemampuan menulis dengan ‘membaca’ pengalaman menulis. Tidak usah bertanya atau berguru. Pengalaman ‘milik’ pribadi. Mangga.

  1. 11 Responses to “3.9 Membaca Pengalaman”

  2. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 6, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Saya suka sekali idea Tuan Ersis ini…he..he.

    “Kalau perlu tulis tentang mengapa stop menulis. Sampai selesai. Tuntas. Pasti jadi tulisan. Itu tentang stop menulis.”

    Iya.. saya setuju… kalau binggung mengapa stop menulis, maka cantiknya tulislah mengapa stop menulis.. saya juga yakin, di situlah bermulanya idea menulis itu dirangsangkan. Apa yang tuan Ersis kata tentang ejakulasi menulis, atau orgamisme menulis akan berlaku.. he he he… (dasar suka ikut gurunya.. huwalah)

    Oleh itu, jangan stop menulis.. menulis ikut pengalaman sendiri kerana menulis pengalaman ini sangat mudah. Ceritanya tentang diri dan apa yang dialami bersama objek di sekeliling kita. Mudahan semangat saya semakin menjadi- jadi dengan membaca tulisan tuan Ersis. Kangen sama komen Tuan Ersis. Salam hormat dari saya di UKM, Bangi.

  3. By Willy Ediyanto on Dec 6, 2009 | Reply

    WAh, Pak Ersis makin bersemangat.

  4. By racheedus on Dec 6, 2009 | Reply

    Jadi harus selalu minum pil kuat ya, Pak? Agar menulis tuntas hingga klimaks dan mencapai orgasme. Weleh-weleh!

  5. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 7, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Tuan Ersis dirai dan dijemput ke Laman Menulis Gaya Sendiri untuk menerima AWARD PERSAHABATAN – YOU’RE A GREAT BLOGGER sempena ULANG TAHUN PERTAMA laman saya. Salam mesra dari Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia.

    SITI FATIMAH AHMAD

  6. By HE.Benyamine on Dec 7, 2009 | Reply

    karena semua punya pengalaman, jadi tinggal dituliskan saja … pengalaman yang tertulis bisa menjadi pelajaran bagi yang lain.

  7. By ALRIS on Dec 8, 2009 | Reply

    Semangat empat lima, seolah berjuang merebut kemerdekaan. Merdeka sudah terbayang didepan mata….

  8. By Ria on Dec 8, 2009 | Reply

    Sebisa mungkin menulis ketika ide sedang di kepala dan dipaksakan selesai pak :D nah kalau sudah “eneg” tinggalkan yg sudah selesai itu nanti di lanjutkan untuk koreksi hihihihi *ini cara jitu ala Ria :P *

  9. By Abied on Dec 10, 2009 | Reply

    Baru datang lagi di blog ini.
    Hmm …
    Mo nyoba baca semuanya dari awal.
    Salam blogger ..
    :-)

  10. By gambang semarang on Dec 11, 2009 | Reply

    Setuju mas, kebiasaan kita akanmembentuk sikap dan karakter kita. mas aku menawarkan untuk bertukeran link, aku tunggu kunjungan baliknya ya:) makasih.

  11. By UmuKamilah on Dec 11, 2009 | Reply

    setuju sekali, Pak. menulis harus dituntaskan, dan menulis adalah hasil belajar dari pengalaman menulis itu sendiri. Sejauh ini saya mengintip trik-trik menulis dari blog Bapak. Inspirasinya bisa didapatkan dari hasil berkeliling blogwalking. Soal klimaksnya, akan terjadi jika kita bersungguh-sungguh merampungkan tulisan kita.
    Bener, Pak. Pengalaman adl guru terbaik.
    Terimakasih tlah berbagi ilmu menulisnya
    salam

  12. By ALRIS on Dec 11, 2009 | Reply

    Itulah penyakit awak, sering gagal. Semangat sudah hampir sampai, sudah di ubun-ubun, dipuncak keinginan menulis. Tapi sayang kok sering edi tansil (ejakulasi dini tanpa hasil. Tanya kenapa…

Post a Comment